Dampak Ekonomi Konser Besar bagi Kota dan Masyarakat: Untung atau Bikin Repot?

Konser

Konser musik besar bukan cuma soal panggung megah, penyanyi terkenal, lampu spektakuler, dan ribuan orang yang bernyanyi bareng. Di baliknya ada dampak ekonomi konser besar bagi kota dan masyarakat yang cukup luas, mulai dari hotel, restoran, transportasi, UMKM, tenaga kerja, teknologi, pajak, sampai keamanan.

Namun, ada sisi lain yang sering tidak terlihat. Ketika puluhan ribu orang berkumpul dalam satu lokasi, kota juga harus siap menghadapi kemacetan, sampah, kepadatan transportasi, risiko keamanan, gangguan lingkungan, hingga potensi serangan siber.

Jadi, sebenarnya konser besar itu lebih banyak untung atau malah bikin repot?

Konser Besar Bisa Menjadi “Mesin Ekonomi” Sementara

Bayangkan satu konser menghadirkan puluhan ribu penonton. Tidak semuanya tinggal di sekitar lokasi acara.

Sebagian datang dari luar kota, bahkan luar negeri. Mereka membutuhkan hotel, transportasi, makanan, minuman, tempat nongkrong, oleh-oleh, hingga layanan digital.

Efeknya tidak berhenti di penyelenggara dan artis.

Studi Oxford Economics tentang industri live entertainment di Amerika Serikat menemukan bahwa pada 2019 industri tersebut menghasilkan dampak ekonomi nasional US$132,6 miliar dan mendukung sekitar 913.000 pekerjaan. Studi yang sama juga menunjukkan bahwa pengeluaran penonton dari luar kota memberikan efek tambahan bagi restoran, hotel, ritel, bar, dan bisnis kecil di sekitar lokasi acara.

Artinya sederhana: uang yang awalnya dibelanjakan untuk konser bisa bergerak ke banyak sektor lain.

1. Sisi Ekonomi: Banyak Uang Bisa Berputar

Ini keuntungan paling mudah dilihat.

Konser besar menciptakan transaksi dari berbagai arah, seperti: tiket konser, hotel dan penginapan, restoran dan kafe, transportasi, parkir, UMKM, merchandise, jasa keamanan, kru produksi, penyewa peralatan, dekorasi, percetakan, fotografer dan videografer, hingga jasa digital.

Semakin banyak penonton dari luar kota, semakin besar peluang terjadinya economic spillover atau efek ekonomi lanjutan.

Bagi kota tujuan, konser juga bisa menjadi bagian dari strategi wisata. Orang datang bukan hanya untuk menonton artis, tetapi sekaligus jalan-jalan dan menghabiskan uang di destinasi tersebut.

Tapi ada risikonya, tidak semua uang otomatis tinggal di daerah penyelenggaraan.

Kalau sebagian besar vendor, pemasok, pekerja, bahkan produk merchandise berasal dari luar daerah, manfaat ekonominya bisa “bocor” keluar.

Karena itu, konser besar akan jauh lebih menguntungkan bagi kota apabila penyelenggara melibatkan tenaga kerja, UMKM, hotel, restoran, transportasi, dan pemasok lokal.

2. Sisi Bisnis: Kesempatan Besar untuk UMKM

Bagi bisnis kecil, konser bisa menjadi momentum yang sangat menarik.

Penonton yang datang biasanya membutuhkan makanan dan minuman sebelum atau sesudah acara. Mereka juga mencari tempat nongkrong, transportasi, penginapan dan berbagai kebutuhan lainnya.

Bayangkan jika ada 30.000 penonton.

Tidak perlu semua membeli sesuatu. Kalau sebagian saja membelanjakan uang di sekitar venue, perputaran ekonomi lokal sudah bisa terasa.

Tetapi ada tantangannya.

Harga sewa booth bisa mahal, persaingan tinggi, dan penjual harus mampu melayani pelanggan dalam waktu singkat. Belum lagi risiko produk tidak habis terjual.

Karena itu, konsep event marketplace yang memberikan ruang khusus bagi UMKM lokal bisa menjadi solusi.

3. Sisi Pemerintah: Ada Pajak, Pariwisata dan Citra Kota

Dari sisi pemerintah, konser besar bisa menjadi alat untuk menggerakkan ekonomi sekaligus memperkenalkan sebuah kota.

Aktivitas bisnis yang meningkat berpotensi meningkatkan penerimaan pajak dan aktivitas ekonomi lokal, sementara wisatawan yang datang dapat memberikan efek lebih luas kepada sektor hospitality dan pariwisata.

Tetapi pemerintah juga mendapatkan pekerjaan tambahan.

Mulai dari pengaturan lalu lintas, transportasi umum, keamanan, kesehatan, perizinan, kebersihan, hingga koordinasi antarlembaga.

Jadi, konser besar bukan hanya urusan promotor.

Pemerintah, polisi, pemadam kebakaran, tenaga kesehatan, transportasi, pengelola venue dan berbagai pihak harus bekerja sebagai satu sistem.

4. Sisi Teknologi: Konser Sekarang Semakin Digital

Konser modern hampir semuanya bersentuhan dengan teknologi.

Mulai dari tiket digital, QR code, cashless payment, facial recognition, CCTV, sistem penghitung jumlah pengunjung, digital signage, live streaming, artificial intelligence, drone, hingga sistem komunikasi antara panitia dan petugas keamanan.

Teknologi membuat penyelenggaraan lebih cepat dan efisien.

Namun semakin digital sebuah konser, semakin besar pula kebutuhan terhadap keamanan data.

Data pembeli tiket, nomor telepon, email, informasi pembayaran dan aktivitas digital penonton harus dijaga.

Ancaman siber bukan sekadar masalah teknis. Gangguan sistem tiket atau pembayaran bisa langsung mengacaukan operasional acara dan merusak kepercayaan publik. CISA juga menekankan pentingnya pengamanan kegiatan publik dari ancaman fisik maupun digital.

5. Sisi Keamanan: Ribuan Orang Berarti Ribuan Potensi Risiko

Ini bagian yang tidak boleh dianggap sepele.

Semakin besar konser, semakin kompleks pengamanan yang dibutuhkan.

Risikonya antara lain: penonton berdesakan, kehilangan barang, keributan, pencurian, kondisi medis darurat, kebakaran, cuaca ekstrem, gangguan kendaraan, ancaman keamanan, hingga aktivitas drone yang tidak terkontrol.

CISA menyediakan panduan khusus untuk pengamanan public gathering karena keselamatan penonton membutuhkan perencanaan sebelum acara dimulai, bukan hanya menambah petugas keamanan ketika konser sudah berlangsung.

Dengan kata lain, konser sukses bukan hanya ketika artis tampil tanpa masalah, tetapi ketika semua orang bisa pulang dengan selamat.

Konser musik besar dengan ribuan penonton dan dampaknya terhadap ekonomi kota

Baca juga:

6. Sisi Masyarakat: Bisa Membawa Lapangan Kerja, Tapi Juga Gangguan

Konser besar bisa menciptakan pekerjaan sementara bagi banyak orang.

Ada kru panggung, teknisi, petugas keamanan, cleaning service, usher, ticketing, transportasi, vendor makanan, fotografer, videografer, hingga pekerja logistik.

Namun masyarakat sekitar venue juga bisa terkena dampak negatif.

Kemacetan meningkat. Suara menjadi lebih bising. Jalan tertentu mungkin ditutup. Sampah bertambah. Harga hotel dan transportasi bisa naik ketika permintaan melonjak.

Artinya, manfaat ekonomi harus dibarengi dengan pengelolaan dampak sosial.

Masyarakat sekitar jangan sampai hanya mendapatkan kemacetan dan kebisingan, sementara keuntungan ekonominya dinikmati pihak lain.

7. Sisi Lingkungan: Setelah Lampu Panggung Mati, Masalah Belum Selesai

Satu konser besar dapat menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

Botol plastik, kemasan makanan, gelas sekali pakai, banner, material dekorasi dan berbagai perlengkapan event harus dikelola.

Selain itu ada penggunaan listrik, transportasi penonton, perjalanan kru dan logistik yang semuanya memiliki jejak lingkungan.

Karena itu, konsep konser berkelanjutan semakin penting.

Misalnya dengan sistem pemilah sampah, penggunaan material dekorasi yang dapat digunakan kembali, pengurangan plastik sekali pakai, transportasi umum, sistem refill air, digital ticket, serta pengukuran jejak karbon.

8. Sisi Promotor: Konser Besar Juga Bisa Menjadi “Taruhan Besar”

Ini sisi yang sering dilupakan.

Konser besar membutuhkan modal dan perencanaan sangat besar.

Promotor harus membayar artis, venue, produksi, sound system, lighting, LED screen, keamanan, tenaga kerja, perizinan, marketing, transportasi, akomodasi dan banyak biaya lainnya.

Masalahnya, pendapatan belum tentu sesuai harapan.

Kalau tiket tidak habis terjual, sponsor tidak sesuai target, terjadi pembatalan artis, cuaca ekstrem atau masalah teknis, kerugian bisa sangat besar.

Jadi, semakin besar konsernya, semakin besar pula potensi keuntungan dan risikonya.

9. Sisi Positif yang Sering Tidak Terlihat: Branding Kota

Ada satu keuntungan jangka panjang yang menarik.

Konser internasional dapat membantu memperkenalkan sebuah kota kepada masyarakat luar daerah bahkan dunia.

Kalau pengalaman penonton bagus, mereka bisa kembali sebagai wisatawan.

Hotel, restoran, tempat wisata dan bisnis lokal juga mendapatkan peluang exposure.

Dalam ekonomi digital, pengalaman tersebut kemudian menyebar melalui TikTok, Instagram, YouTube dan platform lainnya.

Satu konser akhirnya bukan hanya menjadi acara satu malam.

Kontennya bisa hidup berbulan-bulan setelah panggung dibongkar.

Jadi, Konser Besar Menguntungkan atau Merugikan?

Jawabannya: bisa dua-duanya.

Konser besar bisa menjadi penggerak ekonomi apabila dirancang sebagai ekosistem, bukan hanya sebagai acara.

Promotor mengejar keuntungan. Pemerintah mengejar dampak ekonomi dan pariwisata. UMKM mendapatkan pasar. Masyarakat memperoleh peluang kerja. Penonton mendapatkan hiburan.

Tetapi semuanya harus berjalan beriringan dengan keamanan, lingkungan, transportasi, perlindungan data dan kepentingan masyarakat sekitar.

Bahkan dari sisi bisnis, ukuran keberhasilan konser seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa tiket yang terjual.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Berapa banyak uang yang berputar di kota? Berapa banyak tenaga kerja lokal yang terlibat? Berapa banyak UMKM yang mendapatkan manfaat? Apakah penonton aman? Apakah lingkungan tetap terjaga? Dan apakah masyarakat sekitar ikut merasakan hasilnya?

Pada akhirnya, dampak ekonomi konser besar bagi kota dan masyarakat akan semakin besar jika penyelenggara, pemerintah dan pelaku bisnis lokal bekerja bersama sejak tahap perencanaan.

Karena konser yang benar-benar sukses bukan hanya konser dengan penonton penuh.

Konser yang sukses adalah konser ketika artis puas, penonton senang, bisnis ikut hidup, pemerintah mendapatkan manfaat, masyarakat tidak dirugikan, dan kota mendapatkan reputasi yang lebih baik.

Itulah saat sebuah konser berubah dari sekadar hiburan menjadi penggerak ekonomi sebuah kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *