Daily-life.id — Industri perhotelan Uni Emirat Arab (UAE) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tetapi para pelaku industri belum melihat 2026 sebagai tahun kembalinya bisnis ke kondisi normal. Justru, pemulihan penuh hotel UAE diperkirakan baru terjadi pada 2027.
Pandangan tersebut muncul dalam Arabian Travel Market (ATM) di Dubai, ketika para pelaku industri hotel dan pariwisata membahas kondisi pasar perjalanan internasional terbaru.
Menariknya, persoalannya bukan semata-mata jumlah tamu. Okupansi hotel mulai kembali naik, tetapi tarif kamar belum ikut pulih. Celah antara tingkat hunian dan harga kamar inilah yang membuat pemulihan bisnis hotel berjalan lebih lambat.
Hotel UAE Mulai Ramai, Tapi Tarif Belum Pulih
Menurut laporan, sejumlah hotel di kawasan UAE sudah mencatat tingkat okupansi di kisaran 70–80%. Namun, rata-rata tarif kamar masih sekitar 5–8% lebih rendah dibandingkan kondisi sebelumnya.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi operator hotel.
Secara sederhana, hotel bisa saja kembali mendapatkan banyak tamu. Tetapi kalau kamar harus dijual dengan harga lebih rendah untuk menarik permintaan, pendapatan belum tentu kembali ke level sebelumnya.
Inilah alasan pemulihan hotel UAE 2027 mulai menjadi proyeksi yang semakin realistis bagi industri.
Victor Abou-Ghanem, CEO Story Hospitality yang mengoperasikan H Hotel Dubai dan Al Maya Island & Resort di Abu Dhabi, memperkirakan volume perjalanan dari Eropa dan Amerika Serikat baru akan pulih sepenuhnya pada kuartal kedua 2027.
Menurutnya, berharap pemulihan penuh pada kuartal IV 2026 masih terlalu cepat.
Wisatawan Eropa dan Amerika Masih Jadi Tantangan
Salah satu persoalan utama hotel UAE adalah perubahan pola perjalanan internasional.
Permintaan dari pasar domestik, negara-negara Teluk, India, China, Rusia, dan negara-negara CIS memang membantu menopang bisnis hotel. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menggantikan penurunan wisatawan dari Eropa dan Amerika Serikat.
Phillipa Harrison, CEO Ras Al Khaimah Tourism Development Authority, mengatakan beberapa pasar regional diperkirakan bisa kembali lebih cepat.
Namun, pasar seperti Jerman diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama. Bahkan, menurutnya, bagian terakhir sekitar 10–15% dari proses pemulihan memang biasanya membutuhkan waktu lebih panjang.
Travel advisory juga ikut memengaruhi keputusan wisatawan untuk bepergian.
Artinya, ketika wisatawan masih mempertimbangkan faktor keamanan, konektivitas penerbangan, dan kondisi geopolitik, hotel tidak bisa hanya mengandalkan promosi harga untuk mengembalikan permintaan.
Baca juga:
- Riyadh Air Terima 6 Pesawat Boeing 787 dalam 30 Hari, Langkah Berani yang Bisa Mengubah Peta Industri Penerbangan Dunia
- Emirates Bangkit Lebih Cepat dari Perang! Maskapai Dubai Pulihkan 92% Penerbangan, Apa Rahasianya?
- Uni Eropa Bakal Kenakan Biaya Emisi untuk Penerbangan Internasional, Tapi Rute ke Amerika Serikat dan China Justru Dikecualikan
Bukan Cuma Soal Perang, Ada Masalah Tarif dan Penerbangan
Salah satu hal menarik dari kondisi hotel UAE 2027 adalah bahwa pemulihan tidak bisa hanya dilihat dari dampak konflik atau perang.
Industri hotel menghadapi persoalan yang lebih luas.
Okupansi memang mulai bergerak naik, tetapi tarif kamar masih tertekan. Di sisi lain, kapasitas penerbangan atau airlift menuju kawasan tersebut juga menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa cepat wisatawan internasional kembali.
Untuk hotel kota, waktu pemesanan juga menjadi lebih pendek. Wisatawan cenderung melakukan reservasi lebih dekat dengan tanggal keberangkatan.
Bagi operator hotel, kondisi seperti ini membuat strategi harga menjadi semakin penting. Mengejar okupansi dengan memberikan diskon besar memang bisa membuat kamar terisi, tetapi belum tentu menghasilkan keuntungan yang sehat.
Harapan Kembali ke Level Sebelum Krisis
Saurabh Tiwari, Vice President Indian Hotels Company Limited (IHCL), memperkirakan aktivitas bisnis hotel baru akan kembali ke level 2024–2025 pada kuartal IV 2027.
Ini berarti industri perhotelan UAE kemungkinan harus menjalani masa transisi lebih panjang.
Bagi wisatawan, kondisi ini justru bisa menjadi peluang untuk mendapatkan berbagai penawaran hotel selama pasar masih berusaha menarik kembali permintaan internasional.
Sementara bagi pelaku hotel, fokusnya bukan lagi sekadar memenuhi kamar dengan tamu, tetapi bagaimana meningkatkan revenue per room, tarif rata-rata, loyalitas pelanggan, dan diversifikasi pasar wisatawan.
Dubai dan UAE Masih Punya Modal Besar
Meski pemulihan berjalan lebih lambat, UAE tetap memiliki posisi kuat sebagai salah satu pusat pariwisata dan bisnis global.
Dubai, Abu Dhabi, serta destinasi seperti Ras Al Khaimah memiliki infrastruktur pariwisata, jaringan hotel, pusat bisnis, event internasional, dan konektivitas yang menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan pasar.
Jadi, cerita hotel UAE 2027 bukan tentang industri yang berhenti tumbuh.
Sebaliknya, ini adalah cerita tentang industri yang sedang menyesuaikan diri dengan pola perjalanan baru.
Okupansi mulai kembali. Wisatawan regional mulai bergerak. Tetapi untuk benar-benar kembali ke level bisnis sebelum krisis, industri hotel UAE tampaknya masih membutuhkan waktu.
Dan 2027 kini menjadi tahun yang paling banyak diharapkan.
