JAKARTA – Selama beberapa tahun terakhir, makanan fermentasi semakin mendapat perhatian karena dikaitkan dengan gaya hidup sehat dan kesehatan pencernaan. Setelah kimchi dari Korea Selatan, kombucha, kefir, hingga miso dari Jepang, kini muncul satu nama baru yang mulai mencuri perhatian dunia, yaitu Attieke.
Berdasarkan informasi data yang terpercaya, pencarian mengenai Attieke menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Fenomena ini menandakan bahwa masyarakat global semakin tertarik mengenal makanan tradisional dari Afrika Barat yang selama ini belum banyak dikenal di luar kawasan asalnya.
Lalu, mengapa Attieke jadi makanan fermentasi yang mendunia?
Mengapa Attieke Jadi Makanan Fermentasi yang Mendunia?
Pertanyaan mengenai mengapa Attieke jadi makanan fermentasi yang mendunia tidak lepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat global.
Kini, konsumen tidak hanya mencari makanan yang lezat, tetapi juga memperhatikan kandungan nutrisi, proses pembuatan, serta manfaat bagi kesehatan usus (gut health).
Attieke dianggap memenuhi ketiga aspek tersebut.
Makanan tradisional asal Pantai Gading (Côte d’Ivoire) ini dibuat dari singkong yang difermentasi kemudian dikukus hingga menghasilkan tekstur ringan menyerupai couscous.
Berbeda dengan nasi atau pasta, Attieke memiliki cita rasa sedikit asam yang berasal dari proses fermentasi alami.
Tren Gut Health Membuat Attieke Semakin Dilirik
Salah satu alasan mengapa Attieke jadi makanan fermentasi yang mendunia adalah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan saluran pencernaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah gut health menjadi salah satu topik kesehatan yang paling banyak dibahas.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa pola makan kaya serat dan makanan hasil fermentasi dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, yang berperan dalam fungsi pencernaan, metabolisme, hingga sistem imun.
Walaupun manfaat spesifik Attieke masih memerlukan penelitian lebih lanjut, proses fermentasinya membuat makanan ini masuk dalam kelompok pangan tradisional yang menarik perhatian para peneliti dan pelaku industri pangan.
Kuliner Afrika Kini Mendapat Perhatian Dunia
Selama bertahun-tahun, tren kuliner global didominasi oleh makanan dari Asia Timur dan Eropa.
Namun kini situasinya mulai berubah.
Masakan dari berbagai negara Afrika mulai mendapat ruang di restoran internasional, festival kuliner, hingga media sosial.
Attieke menjadi salah satu contoh bagaimana makanan lokal dapat memperoleh perhatian global ketika dikombinasikan dengan meningkatnya minat terhadap pangan tradisional dan keberlanjutan.
Mengapa Singkong Kembali Menjadi Bahan Pangan Strategis?
Hal menarik lainnya adalah bahan utama Attieke.
Singkong selama ini lebih dikenal sebagai makanan pokok di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia.
Namun, meningkatnya perhatian terhadap pangan lokal membuat singkong kembali dilihat sebagai bahan pangan yang memiliki potensi besar.
Selain mudah dibudidayakan di berbagai kondisi iklim, singkong juga menjadi sumber karbohidrat penting yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Attieke menunjukkan bahwa bahan pangan sederhana dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila dikembangkan melalui inovasi dan pelestarian budaya kuliner.
Bisakah Attieke Populer di Indonesia?
Indonesia sebenarnya memiliki budaya fermentasi yang sangat kaya.
Tempe, tape singkong, oncom, hingga bekasam merupakan contoh pangan fermentasi yang telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner Nusantara.
Karena itu, cita rasa Attieke berpotensi diterima oleh masyarakat Indonesia yang sudah akrab dengan makanan hasil fermentasi.
Jika pelaku industri makanan mulai memperkenalkan Attieke melalui restoran atau festival kuliner internasional, bukan tidak mungkin makanan ini akan menarik perhatian pecinta kuliner di Tanah Air.

Baca Juga:
- 7 Makanan Super untuk Tingkatkan Imun Tubuh
- Malatang Mendunia! Makanan Pedas Asal China Ini Mendadak Jadi Tren Global dan Diburu Generasi Muda
- Mengapa Daal Kini Menjadi Makanan yang Semakin Dilirik Dunia? Hidangan Sederhana India Ini Ternyata Punya Banyak Keunggulan
Media Sosial Membantu Makanan Lokal Menjadi Mendunia
Perkembangan media sosial turut mempercepat popularitas makanan tradisional.
Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube membuat resep, sejarah, hingga cara penyajian Attieke dapat dikenal oleh jutaan orang hanya dalam waktu singkat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tren kuliner global kini tidak lagi ditentukan oleh negara-negara besar saja, tetapi juga oleh kemampuan suatu makanan untuk menarik perhatian komunitas digital.
Attieke Tidak Sekadar Tren Sesaat
Berbeda dengan makanan viral yang hanya populer dalam waktu singkat, Attieke memiliki nilai budaya yang kuat.
Makanan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Afrika Barat selama puluhan tahun.
Popularitasnya saat ini lebih mencerminkan meningkatnya apresiasi dunia terhadap keberagaman pangan tradisional dibanding sekadar mengikuti tren media sosial.
Jawaban atas pertanyaan mengapa Attieke jadi makanan fermentasi yang mendunia terletak pada perpaduan antara tradisi kuliner, tren kesehatan, dan perubahan preferensi konsumen global.
Di tengah meningkatnya minat terhadap makanan fermentasi dan pangan alami, Attieke berhasil menarik perhatian sebagai salah satu kuliner khas Afrika yang menawarkan cita rasa unik sekaligus kisah budaya yang kaya.
Bagi Indonesia, fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa pangan lokal berbasis fermentasi memiliki peluang besar untuk dikenal di pasar internasional apabila dikemas dengan inovasi dan cerita yang tepat.
FAQ
Apa itu Attieke?
Attieke adalah makanan tradisional dari Pantai Gading yang dibuat dari singkong yang difermentasi kemudian dikukus hingga bertekstur menyerupai couscous.
Mengapa Attieke menjadi populer?
Karena meningkatnya tren makanan fermentasi, kesehatan usus (gut health), dan minat terhadap kuliner tradisional dari berbagai negara.
Apakah Attieke termasuk makanan sehat?
Attieke merupakan pangan berbasis singkong yang difermentasi. Namun, manfaat kesehatannya tetap bergantung pada pola konsumsi secara keseluruhan dan masih terus diteliti.
Referensi:
- Food and Agriculture Organization of the United Nations (2013) Traditional Fermented Food and Beverages for Improved Livelihoods. Available at: https://www.fao.org/3/i3622e/i3622e.pdf
- World Health Organization. (2023) Healthy Diet. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet
- Harvard T.H. Chan School of Public Health. (2024) The Nutrition Source: The Microbiome. Available at: https://nutritionsource.hsph.harvard.edu/microbiome/
