Lima Maskapai Asia-Pasifik Menghadapi Guncangan Harga BBM Pesawat: Pendapatan Naik, Tapi Laba Tertekan

guncangan harga avtur maskapai Asia-Pasifik

Daily-Life.id — Kalau harga tiket pesawat naik, penumpang biasanya langsung bertanya, “Kenapa mahal banget?” Jawabannya ternyata tidak sesederhana karena maskapai ingin menaikkan harga. Guncangan harga avtur maskapai Asia-Pasifik menjadi salah satu tantangan terbesar industri penerbangan pada kuartal II 2026. Di tengah permintaan perjalanan yang tetap kuat, maskapai harus menghadapi kenaikan biaya bahan bakar yang berpotensi memangkas keuntungan.

Ada satu biaya yang sangat menentukan kesehatan bisnis penerbangan: avtur atau bahan bakar pesawat.

Dan pada kuartal II 2026, maskapai-maskapai besar Asia-Pasifik mendapatkan pelajaran mahal tentang betapa cepatnya perubahan harga avtur bisa menggerus keuntungan.

Konflik di Timur Tengah yang dimulai pada akhir Februari mengganggu rute udara dan lalu lintas penerbangan di kawasan Teluk. Akibatnya, sejumlah penumpang yang biasanya transit melalui Dubai, Doha atau Abu Dhabi beralih ke hub Asia seperti Seoul, Singapura dan Hong Kong.

Di satu sisi, ini menjadi peluang tapi di sisi lain, harga bahan bakar justru melonjak. Dan di situlah masalahnya dimulai.

Korean Air: Pendapatan Rekor, Laba Operasional Turun 34%

Korean Air menjadi contoh paling jelas.

Pada kuartal II 2026, pendapatan Korean Air mencapai 5,02 triliun won, naik sekitar 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan angka tersebut menjadi rekor pendapatan kuartal II bagi maskapai Korea Selatan tersebut.

Namun laba operasional justru turun 34 persen menjadi 261,8 miliar won.

Lebih mengejutkan lagi, Korean Air mencatat rugi bersih 97,3 miliar won, berbalik dari laba 3,96 triliun won pada kuartal II tahun sebelumnya.

Penyebab utamanya adalah bahan bakar, tetapi ada penyelamat yang sangat penting: kargo.

Pendapatan bisnis kargo Korean Air melonjak sekitar 46 persen menjadi 1,54 triliun won. Permintaan didorong oleh investasi global di sektor AI serta ekspor produk kecantikan Korea Selatan.

Ini menunjukkan bahwa maskapai modern tidak hanya bergantung pada penumpang.

Ketika penumpang tertekan, kargo bisa menjadi bantalan.

Singapore Airlines: Penumpang Ramai, Tapi Tetap Rugi

Singapore Airlines menghadapi situasi yang bahkan lebih menarik.

Untuk kuartal yang berakhir 30 Juni 2026, SIA Group mencatat pendapatan rekor S$5,714 miliar, naik 19,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Jumlah penumpang Singapore Airlines dan Scoot juga mencapai rekor 10,9 juta orang, naik 6,3 persen. Pendapatan penumpang meningkat 18,6 persen dan passenger yield naik 12 persen.

Tapi kemudian datang tagihan avtur. Net fuel cost melonjak 78,5 persen menjadi S$2,253 miliar.

Akibatnya, laba operasional jatuh 73,8 persen menjadi S$106 juta, sementara SIA Group berbalik mencatat rugi bersih S$76 juta.

Jadi, penumpang penuh tidak otomatis berarti maskapai untung besar. Inilah salah satu fakta paling menarik dari bisnis penerbangan 2026.

Cathay Pacific: Biaya Avtur Hampir Dua Kali Lipat

Cathay juga merasakan tekanan yang sama.

Memang masih mencatat laba atribusi sekitar HK$6,2 miliar pada semester pertama 2026, naik dari HK$3,7 miliar setahun sebelumnya.

Tetapi angka tersebut harus dibaca dengan hati-hati karena semester pertama juga mendapat keuntungan non-recurring sekitar HK$1 miliar.

Yang paling menarik justru terjadi di kuartal kedua.

Cathay menyebut biaya bahan bakar jet hampir dua kali lipat dibandingkan kuartal pertama akibat kenaikan harga avtur setelah situasi di Timur Tengah memburuk.

Namun permintaan masih kuat.

Pada Juni saja, Cathay Pacific dan HK Express membawa lebih dari 3,1 juta penumpang, naik 9 persen secara tahunan. Cathay Cargo juga mengangkut sekitar 145.000 ton, naik 9 persen.

Artinya, Cathay masih mendapatkan volume bisnis yang kuat.

Tetapi biaya bahan bakar memaksa perusahaan bekerja jauh lebih keras untuk mempertahankan margin.

ANA: Jepang Punya Bantalan yang Berbeda

All Nippon Airways atau ANA memasuki periode ini dengan posisi yang relatif kuat.

ANA Holdings mencatat pendapatan ¥544,2 miliar dan laba operasional ¥68,9 miliar pada kuartal pertama tahun fiskal 2026 yang berakhir Juni. Laba bersih mencapai ¥23,9 miliar.

Sebelumnya, ANA juga memperkirakan pendapatan setahun penuh FY2026 mencapai ¥2,77 triliun, naik 9,1 persen, dengan laba operasional ¥150 miliar. Perusahaan memperkirakan dampak harga bahan bakar terkait Timur Tengah akan mulai mereda setelah kuartal kedua.

ANA juga memiliki bisnis yang lebih terdiversifikasi, termasuk ANA, Peach dan AirJapan serta bisnis kargo dalam grupnya.

Jadi, strategi menghadapi guncangan tidak hanya soal menaikkan harga tiket, namun diversifikasi juga penting.

Baca juga:

Jadi, Siapa yang Paling Diuntungkan dari Krisis Ini?

Ini bagian yang sering luput.

Konflik tidak otomatis membuat semua maskapai rugi.

Beberapa maskapai Asia justru mendapatkan traffic tambahan karena penumpang yang sebelumnya transit di kawasan Teluk mencari jalur alternatif.

Korean Air, Cathay Pacific, Singapore Airlines dan ANA termasuk maskapai yang menikmati sebagian keuntungan dari perubahan pola perjalanan tersebut. Namun keuntungan trafik itu tidak otomatis mengalahkan lonjakan biaya avtur.

Dengan kata lain, penumpang bertambah tetapi laba tidak otomatis bertambah.

Karena setiap penumpang tambahan juga membawa biaya.

Pesawat harus terbang, pilot dan kru harus bekerja, bandara harus dibayar, hingga pesawat harus dirawat.

Dan yang paling besar: bahan bakarnya harus dibeli.

Ada Pelajaran Besar di Balik Angka-Angka Ini

Kalau dilihat sekilas, industri penerbangan Asia-Pasifik 2026 terlihat sehat.

Permintaan perjalanan masih kuat, dan pendapatan meningkat.

Kargo tumbuh.

Penumpang bertambah.

Tetapi laporan keuangan menunjukkan sisi lain.

Margin maskapai sangat sensitif terhadap harga avtur.

Itulah sebabnya perusahaan penerbangan menggunakan berbagai strategi seperti:

  • fuel hedging;
  • fuel surcharge;
  • pengaturan kapasitas;
  • perubahan rute;
  • revenue management;
  • optimalisasi kargo;
  • dan penyesuaian harga tiket.

Singapore Airlines sendiri memiliki program manajemen risiko harga bahan bakar menggunakan instrumen seperti swap, option dan collar untuk melindungi sebagian kebutuhan bahan bakarnya.

Cathay juga menyesuaikan fuel surcharge penumpang mengikuti perubahan harga avtur. Mulai 1 Agustus 2026, sejumlah surcharge kembali dinaikkan setelah harga bahan bakar meningkat.

Harga Tiket Pesawat Bisa Jadi Belum Turun Banyak

Ini juga penting bagi calon penumpang.

Harga avtur memang sempat turun setelah mencapai level tinggi, tetapi maskapai masih berhati-hati menurunkan harga tiket terlalu cepat. Pasar penerbangan global masih menghadapi tekanan biaya dan ketidakpastian geopolitik.

Jadi kalau Anda merasa harga tiket pesawat masih mahal, penyebabnya bukan hanya jumlah orang yang ingin bepergian.

Tetapi ada kombinasi antara harga avtur dengan kapasitas penerbangan, di tambah jumlah permintaan, rute penerbangan, kurs, persaingan bisnis, serta strategi maskapai.

Dan itulah mengapa satu kejadian geopolitik di Timur Tengah bisa terasa sampai ke harga tiket pesawat yang dibeli penumpang di Asia.

Kinerja maskapai Asia-Pasifik pada 2026 memperlihatkan satu paradoks besar:

Bisnisnya ramai, tetapi uangnya tidak otomatis lebih banyak.

Korean Air mencetak rekor pendapatan tetapi laba operasional turun 34 persen. Singapore Airlines membawa rekor jumlah penumpang tetapi justru mencatat rugi bersih. Cathay mempertahankan laba semester pertama tetapi menghadapi lonjakan biaya avtur yang hampir dua kali lipat dalam satu kuartal.

Sementara ANA masih mampu mempertahankan kinerja positif dengan permintaan yang kuat dan strategi diversifikasi.

Jadi ketika nanti melihat harga tiket pesawat naik, mungkin kita tidak perlu langsung menyalahkan maskapai.

Karena di balik satu tiket pesawat yang kita beli, ada sebuah bisnis yang sedang bertarung dengan sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan, yaitu harga minyak dunia.

Dan pada 2026, pertarungan itu menjadi semakin nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *