JAKARTA, Daily-Life.id — Bayangkan Anda sedang duduk dalam sebuah meeting penting.
Di ruangan itu ada pembahasan mengenai produk baru yang belum diluncurkan, strategi perusahaan, angka keuangan, rencana bisnis, atau bahkan informasi yang belum boleh diketahui publik.
Semua peserta meninggalkan smartphone di meja atau memasukkannya ke dalam tas. Meeting berjalan seperti biasa.
Tetapi ada seseorang yang memakai kacamata. Tidak ada ponsel di tangannya. Tidak ada kamera yang terlihat.
Padahal, kacamata tersebut bisa saja memiliki kemampuan untuk mengambil foto, merekam video, menerjemahkan bahasa, hingga berinteraksi dengan AI.
Di sinilah persoalan Meta Glasses di ruang meeting mulai menjadi serius.
Bukan Sekadar Kacamata Biasa
Kacamata pintar generasi terbaru dirancang agar teknologi terasa semakin tidak terlihat.
Meta, misalnya, memasarkan smart glasses sebagai perangkat hands-free yang memungkinkan pengguna mengambil foto dan video, menggunakan fitur AI, serta melakukan berbagai aktivitas tanpa harus terus-menerus memegang smartphone.
Untuk membantu menjaga privasi orang di sekitarnya, perangkat tersebut memiliki lampu indikator di bagian depan yang menyala ketika kamera digunakan.
Secara konsep, ini terlihat sederhana.
Kamera aktif, lalu lampu menyala, dan orang lain tahu bahwa sedang direkam.
Tetapi masalah muncul ketika teknologi bertemu dengan kreativitas manusia.
Berbagai video di internet menunjukkan cara untuk mencoba mengakali indikator tersebut, termasuk menggunakan benda yang menutupi lampu. Bahkan ada tutorial ekstrem yang menunjukkan bagaimana perangkat dapat dimodifikasi secara fisik.
Inilah yang membuat persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar pertanyaan, “Apakah kacamata ini punya kamera?”
Pertanyaannya berubah menjadi, “Bagaimana penyelenggara meeting bisa memastikan seseorang tidak merekam ketika semua orang mengira meeting berlangsung secara privat?”
Meeting Bisnis Punya Masalah Privasi yang Berbeda
Di masa lalu, penyelenggara meeting cukup membuat aturan sederhana dengan tulisan “Dilarang menggunakan kamera atau merekam selama meeting.”
Masalahnya, aturan seperti itu dibuat ketika kamera masih berupa perangkat yang mudah terlihat.
Smart glasses mengubah situasi.
Kamera sekarang bisa berada tepat di depan mata seseorang tanpa terlihat seperti kamera konvensional.
Ini sangat relevan untuk berbagai jenis acara, mulai dari meeting direksi, pertemuan investor, peluncuran produk, rapat perusahaan, konferensi bisnis, trade show, forum teknologi, pertemuan komunitas profesional, hingga acara yang menggunakan Chatham House Rule.
Dalam aturan Chatham House, peserta pada dasarnya dapat menggunakan informasi yang diperoleh dalam sebuah pertemuan, tetapi identitas pembicara maupun afiliasinya tidak boleh diungkap.
Bayangkan aturan seperti itu bertemu dengan perangkat yang dapat merekam secara hands-free.
Potensi masalahnya langsung terlihat.
Persetujuan Foto Tidak Selalu Berarti Persetujuan Direkam Diam-Diam
Ada satu hal yang menurut Daily-Life.id sangat penting.
Banyak acara memang sudah meminta persetujuan peserta untuk dokumentasi.
Biasanya bunyinya kurang lebih, peserta menyetujui penggunaan foto atau video selama acara untuk kebutuhan dokumentasi dan pemasaran.
Tetapi apakah persetujuan tersebut otomatis berarti peserta setuju jika orang lain merekam seluruh percakapan menggunakan kacamata pintar?, belum tentu.
Konteksnya berbeda.
Dokumentasi resmi biasanya dilakukan oleh fotografer atau videografer yang terlihat dan bekerja atas nama penyelenggara.
Sementara smart glasses berada di wajah individu dan dapat digunakan tanpa menarik perhatian orang lain.
Karena itu, penyelenggara acara perlu mulai memikirkan kembali consent atau persetujuan penggunaan gambar dan rekaman.
Bukan hanya “Boleh difoto?”, tapi juga, “Apakah peserta boleh merekam menggunakan perangkat pribadi yang memiliki kemampuan kamera dan AI?”
Industri Event Mulai Mengambil Sikap
Kekhawatiran ini bukan sekadar teori.
DEF CON 34 di Las Vegas yang berlangsung pada 6–9 Agustus 2026 dilaporkan melarang kacamata bergaya Meta yang memiliki kemampuan merekam, bahkan tanpa pengecualian untuk lensa resep.
Di Inggris, penyelenggara Comic Con yang dijalankan Monopoly Events juga mengambil langkah lebih ketat terhadap perangkat perekam setelah muncul kekhawatiran dari sejumlah selebritas dan agen mengenai kemungkinan rekaman dilakukan tanpa sepengetahuan mereka.
Ini menunjukkan bahwa kacamata pintar mulai menjadi persoalan manajemen acara, bukan lagi sekadar gadget.
Dan kemungkinan besar, semakin banyak perangkat seperti ini digunakan, semakin banyak event organizer yang akan memasukkan aturan khusus ke dalam terms and conditions.

Baca Juga:
- “Kacamata Bisa Atur Minus Sendiri?” Adjustable Glasses Mendadak Viral, Disebut Jadi Teknologi yang Bisa Ubah Industri Optik
- Mata Terasa Kering Terus? Ternyata Bukan Sekadar Kurang Tidur, Ini 3 Pelajaran Penting yang Sering Terlambat Disadari
- AI Necklace Mendadak Jadi Gadget Paling Trend, Kalung Pintar Ini Disebut Bisa Mengubah Cara Perempuan Menjalani Hidup Sehari-Hari
Apakah Semua Meta Glasses Harus Dilarang?
Menurut Daily-Life.id, jawabannya tidak harus selalu dilarang.
Yang dibutuhkan justru adalah aturan yang jelas berdasarkan jenis acara.
Untuk acara santai seperti festival, pameran publik atau gathering terbuka, larangan total mungkin terasa berlebihan.
Tetapi untuk meeting yang membahas tentang rahasia perusahaan, data pribadi, strategi bisnis, serta informasi yang belum dipublikasikan, standarnya harus jauh lebih ketat.
Penyelenggara bisa menerapkan beberapa pilihan:
- Larangan total perangkat perekam
Peserta tidak diperbolehkan menggunakan smart glasses, kamera, maupun perangkat perekam lain selama sesi tertentu.
- Zona tanpa kamera
Penyelenggara dapat menentukan area khusus yang melarang perangkat dengan kemampuan merekam.
- Aturan sejak registrasi
Peserta diberi tahu sejak awal bahwa penggunaan smart glasses dengan fungsi kamera tidak diperbolehkan.
- Penandaan yang jelas
Aturan tersebut dicantumkan pada tiket, email konfirmasi, website event, badge dan signage di lokasi.
- Aturan berbeda untuk sesi berbeda
Tidak semua bagian event harus memiliki aturan yang sama.
Sesi networking bisa lebih longgar, sedangkan sesi tertutup dapat menerapkan larangan penuh.
Ada Masalah yang Lebih Besar: AI Tidak Hanya Merekam
Ini bagian yang menurut kami paling menarik.
Perdebatan mengenai smart glasses sering berhenti pada pertanyaan, “Apakah perangkat ini merekam video?”
Padahal kemampuan AI membuat persoalannya jauh lebih luas.
Bayangkan sebuah perangkat yang bukan hanya melihat lingkungan, tetapi juga dapat membantu pengguna memahami apa yang sedang dilihatnya.
Dalam konteks meeting, ini membuka pertanyaan baru mengenai bagaimana informasi visual, suara dan lingkungan dapat diproses oleh perangkat AI.
Karena itu, isu sebenarnya bukan sekadar kamera tersembunyi.
Ini tentang siapa yang memiliki hak atas informasi yang tertangkap oleh perangkat tersebut.
Aturan Meeting di Era Smart Glasses Harus Berubah
Selama bertahun-tahun, perusahaan membangun kebijakan privasi berdasarkan teknologi yang mudah dikenali.
Laptop, smartphone, kamera, hingga voice recorder.
Sekarang muncul perangkat yang bentuknya terlihat seperti benda sehari-hari.
Dan ini membuat aturan lama menjadi kurang relevan.
Daily-Life.id melihat smart glasses sebagai contoh kecil dari perubahan besar dalam dunia kerja: teknologi semakin dekat dengan tubuh manusia, semakin mudah digunakan, tetapi juga semakin sulit diawasi.
Karena itu, perusahaan dan penyelenggara acara sebaiknya tidak menunggu sampai terjadi kebocoran informasi baru kemudian membuat aturan.
Mulai sekarang, klausul mengenai AI glasses, smart glasses, kamera wearable, perangkat perekam dan teknologi AI sudah layak dimasukkan ke dalam kebijakan meeting dan event.
Sebab satu hal yang pasti adalah di era AI, “tidak terlihat merekam” bukan berarti “tidak sedang merekam”.
Dan mungkin, mulai sekarang, pertanyaan sebelum meeting bukan lagi sekadar, “Sudah matikan handphone?” tapi juga, “Ada yang memakai smart glasses?”
