Sylvester Stallone Ungkap Perjuangan Bulimia dan Steroid Saat Membentuk Tubuh Rocky

Sylvester Stallone bulimia dan steroid

daily-life.id — Di balik tubuh kekar Sylvester Stallone yang selama puluhan tahun identik dengan karakter Rocky Balboa dan Rambo, ternyata ada cerita yang jauh lebih berat daripada sekadar latihan di gym.

Aktor yang kini berusia 80 tahun itu baru-baru ini terbuka mengenai hubungannya dengan tubuh, termasuk perjuangannya menghadapi bulimia dan penggunaan steroid ketika berada di puncak kariernya. Pengakuan tersebut disampaikan Stallone dalam wawancara dengan The New York Times yang dipublikasikan pada 26 September 2026.

Tubuh Rocky yang Berubah Menjadi Obsesi

Stallone bercerita bahwa ketika mengembangkan karakter Rocky, ia tidak hanya ingin terlihat seperti petinju biasa. Ia membayangkan tubuh Rocky sebagai sosok yang atletis, agresif, lincah, tetapi tetap berbeda dari bentuk tubuh binaragawan.

Dari situlah perhatian terhadap bentuk tubuhnya perlahan berubah menjadi sebuah obsesi.

Untuk Rocky III, Stallone mengatakan dirinya berhasil menurunkan kadar lemak tubuh hingga sekitar 2,6 persen. Namun, kondisi tersebut bukan sesuatu yang ia gambarkan sebagai pencapaian sehat.

Ia mengaku mengalami masalah makan hingga akhirnya mengalami bulimia dan kesulitan mempertahankan makanan di dalam tubuh.

Bagi Stallone, tubuh pada masa itu bahkan terasa seperti sebuah “armor” atau pelindung.

Masalahnya, ketika seseorang mulai merasa harus terus mempertahankan bentuk tubuh tertentu, batas antara disiplin dan obsesi bisa menjadi sangat tipis.

Stallone Juga Mengaku Menggunakan Steroid

Selain mengungkap perjuangannya dengan bulimia, Stallone juga secara terbuka membicarakan penggunaan steroid ketika berusaha mempertahankan bentuk fisik untuk kebutuhan film.

Ia mengatakan penggunaan tersebut tetap memberikan dampak buruk terhadap tubuhnya, meskipun pada saat itu ia berusaha mengaturnya dengan pola penggunaan dan jeda tertentu.

Pengakuan tersebut menjadi menarik karena citra tubuh Stallone selama era Rocky dan Rambo ikut membentuk gambaran tentang seperti apa sosok pria ideal dalam film laga Hollywood.

Namun, di balik penampilan tersebut, Stallone kini mengakui ada konsekuensi fisik yang harus dibayar.

Ia menyebut pernah menjalani sembilan operasi punggung, dua operasi bahu, dan tiga operasi fusi leher.

Baca Juga:

Cop Land Membuatnya Merasa Lebih Bebas

Menariknya, salah satu titik perubahan justru datang ketika Stallone memainkan karakter yang secara fisik jauh berbeda dari sosok Rocky dan Rambo.

Dalam film Cop Land (1997), ia memerankan karakter yang digambarkan lebih lemah, kelebihan berat badan, dan mengalami gangguan pendengaran.

Stallone mengatakan pengalaman tersebut membuatnya merasa lebih terbebas dari tekanan untuk selalu terlihat kuat dan berotot.

Seolah ada sebuah pesan sederhana di balik pengalaman itu: ketika tubuh tidak lagi harus menjadi “armor”, seseorang mungkin bisa melihat dirinya dengan cara yang berbeda.

Ada Harga di Balik Tubuh yang Terlihat Sempurna

Pengakuan Stallone membuka pembicaraan yang lebih luas mengenai body image, terutama di industri hiburan.

Tubuh yang terlihat sempurna di layar belum tentu menggambarkan perjalanan yang sehat di belakang kamera.

Kisah Stallone juga menunjukkan bahwa standar fisik ekstrem dapat membawa konsekuensi ketika pencapaian penampilan mulai menjadi ukuran utama keberhasilan seseorang.

Kini, setelah puluhan tahun menjadi salah satu ikon film laga dunia, Stallone melihat kembali perjalanan tersebut dengan perspektif berbeda.

Ia bahkan mengatakan jika bisa mengulang masa lalu, dirinya akan memilih untuk tidak melakukan semua aksi fisik sendiri dan membiarkan orang lain membawa sebagian beban tersebut.

Pada akhirnya, kisah Sylvester Stallone bukan hanya tentang bagaimana seorang aktor membangun tubuh untuk sebuah peran.

Ini juga tentang bagaimana obsesi terhadap bentuk tubuh bisa memiliki konsekuensi nyata, bahkan bagi seseorang yang terlihat sangat kuat di layar.

Dan mungkin, pelajaran paling manusiawi dari cerita Stallone adalah: terlihat kuat tidak selalu berarti tubuh kita baik-baik saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *