JAKARTA – DoubleTree Resort by Hilton Penang dijual senilai US$60 juta, atau sekitar Rp970 miliar, menjadi salah satu transaksi hotel yang paling menyita perhatian di kawasan Asia Pasifik tahun ini.
Penjualan hotel berbintang tersebut terjadi ketika industri pariwisata regional mulai menunjukkan pemulihan yang kuat, sehingga aset hospitality kembali menjadi target investor internasional.
Hotel yang berada di Pulau Penang, Malaysia, ini dikenal sebagai salah satu properti jaringan Hilton yang melayani wisatawan domestik maupun internasional.
Nilai transaksi yang mencapai puluhan juta dolar AS menunjukkan bahwa sektor perhotelan premium masih memiliki prospek jangka panjang di tengah perubahan tren perjalanan global.
Mengapa Hotel Premium Kembali Menarik Minat Investor?
Penjualan DoubleTree Resort by Hilton Penang dijual senilai US$60 juta mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap industri pariwisata Asia.
Dalam dua tahun terakhir, permintaan perjalanan internasional terus meningkat, terutama di kawasan Asia Tenggara
yang menawarkan kombinasi destinasi wisata, pertumbuhan ekonomi, dan pengembangan infrastruktur.
Hotel dengan merek internasional seperti Hilton dinilai memiliki nilai investasi yang lebih stabil karena didukung jaringan distribusi global,
program loyalitas pelanggan, serta standar operasional yang telah dikenal wisatawan dunia.
Pariwisata Jeju Tumbuh Berkat Wisatawan Mancanegara
Momentum investasi ini juga didukung oleh meningkatnya jumlah wisatawan di beberapa destinasi utama Asia.
Pulau Jeju, Korea Selatan, misalnya, mencatat hampir 1 juta wisatawan mancanegara selama lima bulan pertama tahun 2026, meningkat sekitar 21,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Wisatawan dari Tiongkok Daratan masih menjadi pasar terbesar dengan lebih dari 613 ribu kunjungan, atau sekitar 64% dari seluruh wisatawan asing yang datang ke Jeju.
Tren ini menunjukkan bahwa pemulihan perjalanan lintas negara terus berlangsung dan menjadi pendorong utama industri perhotelan. Kondisi tersebut meningkatkan optimisme terhadap nilai aset hotel di kawasan Asia Pasifik.
Tidak Semua Negara Menikmati Tren Positif
Di sisi lain, pemulihan industri pariwisata belum merata.
Sri Lanka melaporkan pendapatan sektor pariwisata sebesar US$1,51 miliar pada semester pertama 2026, turun sekitar 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut membuat target pendapatan tahunan pemerintah menjadi semakin menantang.
Data ini menunjukkan bahwa keberhasilan sektor pariwisata masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, konektivitas penerbangan, hingga stabilitas destinasi.
Asia Pasifik Masih Menjadi Magnet Investasi Hotel
Meskipun terdapat perbedaan kinerja antarnegara, banyak analis menilai kawasan Asia Pasifik tetap menjadi salah satu pasar paling menarik bagi investor hotel.
Beberapa faktor yang mendorong optimisme tersebut antara lain:
- pertumbuhan kelas menengah,
- meningkatnya perjalanan internasional,
- pembangunan infrastruktur,
- berkembangnya wisata premium,
- meningkatnya permintaan hotel berstandar internasional.
Dengan karakteristik tersebut, aset hospitality berkualitas dinilai memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.
Baca juga:
- Fouquet’s Resmi Hadir di Mykonos, Ikon Kuliner Paris Kini Perluas Jejak ke Destinasi Mewah Mediterania
- Apakah Kartu Kredit Masih Diperlukan dalam 5 Tahun ke Depan?
- Sensasi Kuliner Mediterania Hadir di Jakarta! Pullman Jakarta Central Park Sajikan Brunch dan Grill Dinner Premium yang Jarang Ditemukan di Hotel Lain
Apa Artinya bagi Industri Hotel Indonesia?
Bagi Indonesia, tren investasi seperti penjualan DoubleTree Resort by Hilton Penang dijual senilai US$60 juta dapat menjadi sinyal positif.
Destinasi seperti Bali, Jakarta, Labuan Bajo, Yogyakarta, Lombok, hingga Batam memiliki peluang besar menarik investasi hotel baru seiring meningkatnya jumlah wisatawan internasional dan berkembangnya sektor bleisure (business + leisure).
Selain itu, investor kini semakin memperhatikan hotel yang mampu menghadirkan pengalaman lokal, keberlanjutan lingkungan, dan layanan berbasis teknologi.
Penjualan DoubleTree Resort by Hilton Penang dijual senilai US$60 juta menunjukkan bahwa aset hotel premium kembali menjadi incaran investor global.
Di tengah pemulihan pariwisata Asia Pasifik, properti dengan merek internasional dinilai memiliki daya tarik tinggi karena menawarkan kombinasi antara reputasi, stabilitas operasional, dan potensi pertumbuhan.
Meski tantangan masih dihadapi beberapa negara, tren investasi ini menjadi sinyal bahwa industri hospitality di kawasan Asia memasuki fase baru yang lebih kompetitif dan berorientasi pada pengalaman wisata berkualitas.
FAQ
Mengapa DoubleTree Resort by Hilton Penang dijual?
Belum ada penjelasan resmi mengenai alasan penjualan, namun transaksi ini dinilai sebagai bagian dari dinamika investasi properti hotel di Asia Pasifik.
Berapa nilai penjualan DoubleTree Resort by Hilton Penang?
Hotel tersebut dipasarkan dengan nilai sekitar US$60 juta atau setara sekitar Rp970 miliar, tergantung kurs yang berlaku.
Mengapa investor tertarik pada hotel di Asia?
Pertumbuhan jumlah wisatawan internasional, meningkatnya permintaan akomodasi premium, dan prospek industri pariwisata jangka panjang membuat aset hotel di Asia kembali menarik bagi investor.
Referensi:
- Jeju Tourism Organization. (2026).Tourism Statistics Report: January–May 2026. Available at: https://ijto.or.kr/
- Sri Lanka Tourism Development Authority. (2026).Tourism Performance Report 2026. Available at: https://www.sltda.gov.lk/
- UN Tourism. (2025).World Tourism Barometer. Available at: https://www.unwto.org/un-tourism-world-tourism-barometer
- Hilton. (2026).DoubleTree by Hilton Brand Information. Available at: https://www.hilton.com/en/brands/doubletree-by-hilton/
