Harmoni Garis dan Jiwa: Made Wianta Kembali Disapa Lewat Pameran Mandala di Bali

Gallery of Art: Wianta & Legacy di The Apurva Kempinski Bali - sumber foto Istimewa

Ada yang bilang, setiap karya seni sejati nggak cuma untuk dilihat — tapi juga untuk dirasakan. Dan itulah yang terjadi di The Apurva Kempinski Bali, saat hotel ini membuka tahun 2026 dengan menghadirkan sebuah pameran eksklusif yang begitu bersejarah: “Gallery of Art: Wianta & Legacy”, menampilkan karya-karya geometris penuh makna dari maestro seni kontemporer Bali, Made Wianta.

Saat Mandala Berbicara Melalui Garis dan Titik

Dibuka untuk umum pada 23 Januari 2026 di Pendopo Lobby The Apurva Kempinski Bali, pameran ini mempersembahkan koleksi lengkap seri “Mandala”—untuk pertama kalinya dalam sejarah. Melalui garis, titik, dan geometri, Wianta mengajak kita melihat alam semesta bukan sebagai ruang kosong, tapi sebagai ritme kehidupan yang saling terhubung.

Bagi Wianta, Mandala bukan sekadar simbol spiritual, tapi juga arsitektur kesempurnaan, yang menggambarkan keseimbangan antara dunia luar dan kedamaian batin manusia. Desain melingkar yang menjadi ciri khas seri ini terinspirasi dari konsep “Pangider-ider”, yaitu sembilan dewa penjaga sembilan penjuru mata angin dalam kepercayaan Bali. Dengan pendekatan yang modern dan abstrak, Wianta menyulap filosofi kuno ini menjadi karya kontemporer yang kuat — seolah “versi Asia” dari gaya Pablo Picasso yang legendaris.

Jejak Seorang Maestro: Dari Tabanan ke Dunia

Lahir di Tabanan pada tahun 1949, Made Wianta dikenal sebagai tokoh yang menjembatani seni tradisional dan modern. Ia bukan hanya pelukis, tapi juga pemikir, pengamat sosial, dan visioner sejati. Pada pertengahan 1970-an, ia sempat menetap di Brussel, Belgia, untuk memperdalam seni rupa Eropa. Di sanalah estetikanya berkembang: ia belajar memahami logika geometri Barat, tapi tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual Bali.

Dari perpaduan dua dunia itu lahirlah gaya khas Wianta — karya yang berdenyut di antara harmoni dan chaos, garis dan ruang, tradisi dan eksperimen. Ia juga pernah mewakili Indonesia di Venice Biennale, serta menggelar pameran di Mike Weiss Gallery, menegaskan posisinya sebagai seniman Indonesia berkelas dunia.

Warisan Wianta telah terdokumentasi dalam berbagai buku dan penelitian seni rupa, menjadikannya sosok penting dalam perjalanan seni modern Indonesia. Melalui karya-karyanya, ia menunjukkan bahwa Bali bukan hanya tempat wisata — tapi juga pusat energi kreatif yang mendunia.

Gallery of Art: Wianta & Legacy di The Apurva Kempinski Bali - sumber foto Istimewa
Gallery of Art: Wianta & Legacy di The Apurva Kempinski Bali – sumber foto Istimewa

11 Karya, 1 Spirit: Kehidupan yang Berputar

Sebelas mahakarya dalam seri Mandala yang kini dipamerkan adalah representasi dari fase ketiga dalam perjalanan panjang Wianta. Setiap lukisan memancarkan keseimbangan antara gunung dan laut — dua elemen alam yang selalu ia anggap sakral. Saat kamu menatapnya, kamu bukan cuma melihat warna dan bentuk, tapi juga merasakan napas alam yang berputar dalam ritme kehidupan.

Vincent Guironnet, General Manager The Apurva Kempinski Bali, menyebut pameran ini sebagai “pencapaian bersejarah”. “Kami merasa sangat terhormat dapat menampilkan warisan Bapak Made Wianta. Ini adalah pertama kalinya seri Mandala dipresentasikan secara lengkap kepada publik,” ujarnya. “Pelestarian budaya adalah bagian dari jati diri kami. Kami percaya mengenalkan warisan seni Indonesia ke dalam pengalaman tamu adalah bentuk tanggung jawab sekaligus kebanggaan.”

Dialog Warisan dan Kehidupan

Dalam pembukaan pameran ini, hadir sosok penting di balik perjalanan Wianta — Intan Kirana Wianta, istri mendiang seniman, yang ditemani oleh kedua putrinya, Buratwangi dan Sanjiwani. Intan bukan sekadar pasangan hidup, tapi juga sumber kekuatan bagi Wianta. Seorang akademisi dan dosen di Universitas Udayana, Intan mewarisi semangat besar dari kakeknya, Ki Hajar Dewantara, yang mengajarkan nilai luhur pendidikan dan kebudayaan.

Baca Juga:

Sesi dialog interaktif bersama keluarga Wianta membuka dimensi baru tentang bagaimana seni bisa tumbuh dari cinta, dedikasi, dan warisan pengetahuan. Di saat yang sama, panggung pameran juga dihidupkan oleh penampilan Ayu Anantha, koreografer kontemporer dan pendiri Kerta Art Studio. Terinspirasi dari konsep Mandala, ia menerjemahkan karya Wianta lewat gerakan tubuh yang membentuk dialog hidup antara goresan dan tarian.

Pertunjukan ini mengangkat konsep Sangkara — simbol penghubung antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan kebebasan modern.

Sebuah Perayaan Jiwa dan Budaya

Bagi The Apurva Kempinski Bali, pameran ini lebih dari sekadar agenda seni. Ia adalah wujud nyata dari komitmen untuk merayakan Indonesia melalui pelestarian warisan budaya. Dengan membuka ruang bagi karya-karya Wianta, hotel ini mengundang publik untuk merenungkan kembali makna keseimbangan — bukan hanya dalam seni, tapi juga dalam hidup.

Mulai 23 Januari 2026, kamu bisa datang langsung ke Pendopo Lobby The Apurva Kempinski Bali untuk menyaksikan sendiri mahakarya yang memadukan spiritualitas, geometri, dan jiwa Bali yang mendalam. Karena di balik setiap garis dan titik, tersimpan pesan yang abadi: bahwa seni sejati tidak pernah mati — ia hanya bertransformasi dalam bentuk yang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *