Bukan Lagi “Event Planner”, Ini Gelar yang Bikin Gaji Industri Event Melonjak

event marketer vs event planner gaji

Daily-life.id — Selama bertahun-tahun, dunia event event marketer vs event planner gajiidentik dengan sosok “event planner” — orang yang sibuk urus venue, vendor, dan jadwal.

Tapi riset terbaru dari The METHOD Project, yang menganalisis ribuan lowongan kerja industri event selama enam tahun terakhir, mengungkap pergeseran besar,

yaitu gelar yang sekarang paling dicari dan dibayar mahal bukan lagi “planner”, melainkan “marketer”. Dan selisih gajinya bukan main-main.

Proyek yang Lahir dari Kekosongan Data Industri Event

The METHOD Project didirikan oleh Brad Gillespie, mantan Vice President dan General Manager di divisi konsultasi

Cvent, perusahaan teknologi event global.

Menurutnya, selama berkarier di Cvent, ia menyaksikan sendiri betapa berantakannya data industri meeting dan event

di perusahaan-perusahaan besar yang tersebar di mana-mana tanpa ada satu gambaran utuh soal pengeluaran dan dampaknya.

Proyek ini bermula saat pandemi, sebagai semacam bank data lowongan kerja industri event yang dikumpulkan dari LinkedIn.

Rencana peluncuran beta sempat harus dirombak total ketika teknologi AI meledak,

memaksa Gillespie membangun ulang sistemnya dari nol menggunakan AI kustom, sebelum akhirnya resmi diluncurkan sebagai database pada 2024.

Sampai sekarang, Gillespie sudah punya lebih dari 10.000 pengikut di LinkedIn yang rutin mengikuti postingan mingguannya soal lowongan dan tren industri.

Cuma di bulan Agustus 2026 saja, proyek ini berhasil melacak 400 lowongan kerja, termasuk dari perusahaan sekelas Amazon, Disney, dan Visa.

“Event Marketing” Menggeser “Operations”

Ini temuan paling mencolok dari riset Gillespie. Selama enam kuartal terakhir, penggunaan istilah “event marketing” dalam lowongan kerja industri ini naik dari 6,7 persen menjadi 9,1 persen,

sementara istilah “experiential” melonjak jauh lebih tajam, dari 4,0 persen ke 8,6 persen. Di sisi lain, istilah “operations” justru stagnan bahkan cenderung menurun.

Gelar-gelar seperti event marketing manager, director of events & field marketing, hingga head of event organizer partnerships menunjukkan pergeseran cara pandang perusahaan: event kini nggak lagi dianggap sekadar fungsi logistik,

tapi kanal pertumbuhan bisnis yang bisa diukur dampaknya secara langsung — terutama terlihat jelas di sektor teknologi/SaaS, konferensi, asosiasi, dan organisasi olahraga/media.

Selisih Gaji yang Bikin Kaget: Rp800 Jutaan per Tahun

Ini bagian yang paling relevan buat siapa pun yang berkarier di industri event.

Pada level direktur, gelar yang “berbau marketing” kini dibayar USD 174.000 per tahun, sementara gelar yang “berbau operations” cuma dibayar USD 122.000 per tahun.

Selisih USD 52.000, atau setara lebih dari Rp800 juta per tahun dengan kurs saat ini.

Gillespie menegaskan, baik dari sisi volume lowongan maupun peringkat daya tahan posisi di pasar kerja, dua indikator ini konsisten mengarah ke kesimpulan yang sama,

dimana dunia sedang membayar mahal untuk kemampuan menghubungkan strategi, produksi kreatif, desain audiens,

dan manajemen stakeholder level eksekutif, dan bukan cuma sekadar kemampuan mengatur kalender, vendor, dan venue.

AI Bukan Cuma Buzzword, Ini Syarat Nyata di Lowongan Kerja

Permintaan kemampuan AI di industri event juga melonjak signifikan, dan bukan cuma soal “paham AI secara umum”.

Menurut Gillespie, lowongan kerja sekarang makin spesifik menyebut penguasaan tools tertentu yang sudah diadopsi perusahaan, misalnya

apakah kandidat terbiasa kerja di lingkungan berbasis OpenAI atau Claude, atau familiar dengan tools pengembangan AI seperti Replit.

Bahkan, para event planner sendiri kini mulai belajar membangun aplikasi mereka sendiri, dan kemampuan ini mulai muncul eksplisit di deskripsi lowongan kerja.

Kenapa “Planner” Susah Naik Kelas Jadi “Marketer”?

Menurut Gillespie, ironi dari pekerjaan event planner, dimana kemampuanlah yang membuat mereka sukses memberikan pengalaman konsisten

dalam volume tinggi, justru menghalangi mereka mendalami satu audiens secara mendalam.

Padahal, itulah keterampilan inti yang dibutuhkan seorang marketer: memahami persamaan dan perbedaan lintas audiens secara mendalam.

Yang terjadi di lapangan, para planner yang sadar akan hal ini mulai proaktif membangun kemampuan tersebut sendiri,

secara sadar “menyeleksi diri” menuju peran event marketing.

Di sisi lain, ada juga marketer yang belum paham detail dunia event, tapi ingin ada peran khusus yang menjembatani keduanya, sehingga posisi hybrid semacam ini justru dibangun secara internal oleh perusahaan.

Baca juga:

Makin Banyak Kontraktor, Makin Sedikit Posisi Leadership

Perusahaan-perusahaan kini mulai merencanakan program event tidak cuma untuk satu tahun fiskal, tapi lintas beberapa tahun sekaligus,

mengingat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengamankan venue dan menyusun perencanaan matang.

Ini berimbas pada komposisi tim: makin banyak orang yang memilih jadi kontraktor lepas demi gaya hidup dan waktu bersama keluarga,

sementara posisi kepemimpinan tetap (leadership) justru makin sedikit tersedia dibanding opsi kontraktor.

Menurut Gillespie, industri yang sudah lama memandang event sebagai fungsi yang membantu pendapatan, seperti teknologi tinggi, jasa keuangan, kesehatan, dan farmasi,

adalah yang paling berhasil menemukan keseimbangan ideal antara tim internal dan tenaga kontrak.

Pesan Buat Pemimpin Senior di Industri Event

Gillespie juga menyoroti masalah struktural lain: ia pernah melihat lowongan posisi SVP (Senior Vice President) dengan kompensasi yang justru lebih rendah dari posisi VP biasa di perusahaan lain,

mencerminkan betapa timpangnya nilai yang diberikan berbagai organisasi terhadap program meeting dan event.

Menurutnya, industri ini perlu membantu pemimpin senior menjadi lebih “relevan secara bisnis”.

Seseorang bisa jadi pemimpin event yang sangat kompeten secara teknis, tapi kalau nol pemahaman soal apa yang ingin dicapai bisnis dari program event tersebut,

ia cuma akan menjalankan event besar dengan baik tanpa konteks bisnis yang jelas.

Perusahaan yang menaikkan gelar dan kompensasi peran ini adalah yang memberi nilai lebih tinggi pada relevansi bisnisnya — dan mereka menuntut lebih dari sekadar eksekusi teknis semata.

3 Prediksi Utama Buat 2027

The METHOD Project juga merilis tiga prediksi konkret untuk tahun depan:

  1. Gelar berbau marketing akan terus menggerus pangsa gelar operations. Tren enam kuartal terakhir menunjukkan arah yang konsisten
  2. Naiknya proporsi posisi level direktur ke atas justru jadi sinyal kontraksi. Industri yang makin banyak merekrut posisi senior/berpengalaman biasanya justru menandakan penurunan atau stagnasi total lowongan ke depannya
  3. Kesenjangan gaji antara gelar marketing dan operations akan terus melebar, baik tren volume lowongan maupun peringkat daya tahan posisi mengarah ke kesimpulan yang sama

Apa Artinya Buat Profesional Event di Indonesia?

Industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) di Indonesia sendiri terus bertumbuh, dan tren global ini

punya relevansi nyata buat para profesional event lokal.

Kalau kamu berkarier di bidang event organizer, wedding organizer, atau tim event korporat, sinyal dari riset ini cukup jelas, dimana

kemampuan teknis mengurus logistik saja mungkin makin sulit menopang kenaikan gaji signifikan ke depannya.

Yang justru makin dicari dan dibayar mahal adalah kemampuan menghubungkan event dengan hasil bisnis terukur,

yaitu: leads, brand awareness, partnership, hingga penjualan langsung plus melek penggunaan tools AI dalam alur kerja sehari-hari.

Buat perusahaan Indonesia yang mengelola tim event internal, riset ini juga jadi bahan refleksi,

apakah program event perusahaan masih diperlakukan sebagai sekadar pos biaya yang perlu ditekan, atau sudah mulai dilihat sebagai kanal pertumbuhan yang punya metrik dampak jelas terhadap bisnis?

Jawaban dari pertanyaan itu, menurut riset ini, sangat menentukan seberapa besar nilai dan gaji, yang akhirnya diberikan ke tim event sebuah organisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *