JAKARTA – Kecerdasan buatan (AI) kembali mengubah cara manusia bekerja. Jika sebelumnya AI hanya digunakan untuk membuat notulen atau merangkum rapat, kini teknologi tersebut mulai hadir sebagai AI menggantikan peserta virtual dalam event yang mulai mengubah industri konferensi dan meeting digital di berbagai negara.
Kehadiran AI sebagai “stand-in” atau peserta pengganti memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan interaksi manusia dalam sebuah acara virtual.
AI Mengikuti Meeting, Manusia Tetap Bekerja
Tren penggunaan AI note-taking seperti Fireflies, Otter, dan Fathom semakin meningkat di berbagai perusahaan.
Teknologi ini mampu merekam seluruh percakapan, membuat transkrip otomatis, menyusun ringkasan rapat, mengidentifikasi action items, hingga membagikan hasil diskusi kepada tim.
Akibatnya, sebagian pekerja memilih tidak menghadiri meeting secara langsung karena merasa AI sudah cukup untuk mewakili mereka. Sebuah survei terhadap 1.000 eksekutif penuh waktu bahkan menunjukkan sekitar 3 dari 10 karyawan mengaku pernah melewatkan rapat karena AI akan mencatat semuanya.
Industri Event Mulai Kehilangan Nilai Eksklusif?
Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi penyelenggara konferensi virtual.
Jika satu perusahaan hanya membeli satu tiket, lalu mengirim AI untuk mengikuti sesi dan membagikan ringkasannya kepada puluhan rekan kerja, maka model bisnis event berbayar ikut berubah.
Menurut Rich Vallaster dari A2Z Events, kondisi tersebut dapat mengurangi nilai ekonomi sebuah event karena satu registrasi mampu menghasilkan akses informasi untuk seluruh departemen.
Sponsor Tidak Membayar untuk Robot
Masalah lain muncul pada sisi sponsor.
Selama ini nilai sponsorship dihitung berdasarkan jumlah peserta yang hadir dan tingkat interaksi mereka.
Namun jika sebagian besar “peserta” ternyata adalah AI bots, maka angka kehadiran dapat terlihat tinggi meski perhatian manusia justru menurun.
Pakar AI dan event strategist Anca Platon Trifan menyebut fenomena ini sebagai “metric pollution”, yaitu ketika statistik event dipenuhi kehadiran mesin, bukan manusia yang benar-benar berinteraksi.
Baca juga:
- AI Mulai Mengubah Cara Orang Mencari Tiket dan Hotel, Industri Travel Kini Menghadapi Biaya yang Tak Pernah Terjadi Sebelumnya
- Luminance AI untuk Mengelola Kontrak Hukum Perusahaan dengan Kecerdasan Buatan, Inovasi yang Sedang Jadi Sorotan
- AI Mulai Mengubah Cara Orang Mencari Tiket dan Hotel, Industri Travel Kini Menghadapi Biaya yang Tak Pernah Terjadi Sebelumnya
Beberapa Organisasi Mulai Melarang AI Note-Taker
Sebagai respons, sejumlah organisasi mulai menerapkan aturan baru.
Salah satunya adalah American Society of Association Executives (ASAE) yang melarang penggunaan AI note-taking pada beberapa pertemuan virtual maupun tatap muka, kecuali mendapat persetujuan khusus.
Tujuannya adalah menjaga privasi diskusi, melindungi hak atas konten, serta memastikan pembicara dapat berbicara lebih terbuka tanpa khawatir seluruh percakapan akan disebarluaskan melalui ringkasan AI.
Namun Tidak Semua Orang Setuju
Di sisi lain, sebagian pelaku industri melihat AI sebagai peluang.
Nick Borelli, Marketing Director Zenus, berpendapat bahwa kehadiran AI justru menjadi sinyal bagi penyelenggara untuk menciptakan pengalaman yang lebih menarik.
Jika seseorang memilih mengirim AI daripada hadir sendiri, bisa jadi masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan karena pengalaman event belum cukup bernilai untuk diikuti secara langsung.
Masa Depan Virtual Event Akan Berubah
Para pengamat industri memperkirakan bahwa event virtual akan bergeser dari sekadar penyampaian informasi menjadi pengalaman yang lebih interaktif.
Networking eksklusif, diskusi langsung, workshop kecil, hingga kolaborasi real-time diprediksi menjadi nilai utama yang tidak dapat digantikan AI.
Sementara AI akan mengambil peran sebagai asisten yang membantu dokumentasi, analisis data peserta, dan personalisasi pengalaman event.
Indonesia Perlu Bersiap
Perusahaan, penyelenggara webinar, komunitas, hingga universitas di Indonesia juga mulai menghadapi perubahan serupa.
Di satu sisi, AI dapat meningkatkan produktivitas dan mempercepat distribusi informasi. Namun di sisi lain, muncul tantangan baru mengenai hak cipta materi presentasi, keamanan data peserta, validitas jumlah kehadiran, kualitas interaksi manusia, serta nilai ekonomi sebuah konferensi digital.
Karena itu, banyak ahli menilai masa depan industri event bukan tentang memilih antara AI atau manusia, melainkan bagaimana keduanya dapat bekerja bersama tanpa menghilangkan esensi komunikasi dan kolaborasi.
AI kini tidak lagi hanya menjadi alat bantu, tetapi mulai bertindak sebagai representasi digital manusia dalam berbagai pertemuan. Perubahan ini membuka peluang efisiensi sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi industri event global.
Di era ketika informasi dapat dirangkum dalam hitungan detik oleh mesin, nilai terbesar sebuah konferensi mungkin bukan lagi materi presentasinya, melainkan pengalaman, koneksi, dan percakapan autentik yang hanya dapat dibangun oleh manusia.
Referensi:
- Liao, H.-T. & Wang, Z. 2026, Sustainability and Artificial Intelligence: Necessary, Challenging, and Promising Intersections, arXiv. Available at: https://arxiv.org/abs/2606.09006
- Zhang, L. et al. 2026, RiskNet: A Large-Scale Dataset of AI Risk Incidents from News with Alignment and Multi-Dimensional Annotations, arXiv. Available at: https://arxiv.org/abs/2606.08376
