daily-life.id – Rencana aksi mogok pekerja Qantas di Australia mulai menjadi perhatian industri penerbangan dan traveler. Ratusan pekerja ground service yang menangani kargo dan penerbangan regional QantasLink dijadwalkan melakukan aksi selama 24 jam pekan depan, di tengah pembahasan mengenai gaji dan kondisi kerja.
Transport Workers’ Union (TWU) mengatakan aksi akan berlangsung pada 23 September 2026 di Victoria dan 24 September di wilayah Australia lainnya. Bagi traveler, isu ini menarik diperhatikan karena pekerja yang terlibat tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di darat, tetapi juga menangani sebagian operasional kargo dan layanan regional.
Kenapa Pekerja Qantas Melakukan Aksi?
Persoalan utamanya berkaitan dengan upah, keamanan pekerjaan dan kondisi kerja.
TWU sebelumnya menyebut lebih dari 600 pekerja Qantas Ground Services telah memberikan dukungan sebesar 97 persen dalam pemungutan suara untuk aksi industrial. Serikat pekerja mengatakan mereka menginginkan kenaikan gaji setelah periode pembatasan upah, peningkatan keamanan kerja, serta kondisi kerja yang lebih baik.
Pada 18 September, TWU kemudian mengumumkan aksi 24 jam tersebut.
Namun, posisi Qantas berbeda. Perwakilan maskapai mengatakan perusahaan tetap berkomitmen mencapai kesepakatan dengan pekerja Qantas Ground Services, termasuk kenaikan gaji tahunan.
Artinya, hingga saat ini persoalannya masih berada dalam proses negosiasi antara perusahaan dan pekerja.
Apa Dampaknya untuk Traveler?
Hal yang paling perlu diperhatikan adalah penerbangan regional dan layanan kargo.
ABC melaporkan sekitar 650 pekerja terlibat dalam aksi yang direncanakan, dengan mayoritas bekerja pada Qantas Freight dan sebagian lainnya menangani layanan QantasLink di Sydney Airport. Aksi tersebut berpotensi memengaruhi penerbangan menuju sejumlah wilayah regional.
Untuk penumpang, kondisi seperti ini berarti jadwal penerbangan perlu dipantau lebih dekat, khususnya bagi mereka yang melakukan perjalanan pada periode aksi.
Traveler juga sebaiknya tidak hanya melihat status penerbangan beberapa hari sebelum keberangkatan. Perubahan jadwal, keterlambatan, atau penyesuaian operasional bisa terjadi ketika maskapai menghadapi gangguan tenaga kerja.
Baca Juga:
- China Makin “Keren” di Mata Orang Asing, Tapi Apakah Mereka Mudah Mendapatkan Pekerjaan?
- “The Gen Z Paradox”: Mengapa Masih Banyak Perusahaan Enggan Mempekerjakan Gen Z?
- 10 Pekerjaan Lama yang Masih Aman dari AI, Meski Banyak PHK di Era Otomatisasi
Australia Juga Sedang Memasuki Periode Liburan Sekolah
Timing aksi ini menjadi perhatian karena beberapa wilayah Australia akan memasuki periode school holidays.
ABC melaporkan Queensland, Victoria dan Northern Territory akan memasuki masa liburan sekolah. Karena itu, potensi gangguan pada penerbangan regional menjadi isu yang cukup penting bagi keluarga dan traveler yang sudah merencanakan perjalanan.
Namun, aksi tersebut tidak otomatis berarti seluruh penerbangan Qantas akan berhenti. Pekerja yang terlibat terutama menangani aktivitas ground service, freight dan sebagian QantasLink, sehingga dampaknya perlu dilihat berdasarkan rute dan operasional yang terdampak.
Ada Latar Belakang Panjang di Balik Perselisihan
Perselisihan ini juga memiliki sejarah sejak pandemi COVID-19.
Menurut Reuters, Qantas sebelumnya melakukan outsourcing terhadap pekerjaan lebih dari 1.800 ground worker di Australia selama pandemi. Langkah tersebut kemudian dinyatakan ilegal oleh pengadilan, dan pada 2025 Qantas diperintahkan membayar denda A$90 juta dalam perkara tersebut.
Latar belakang tersebut ikut menjadi bagian dari hubungan industrial antara Qantas dan pekerjanya hingga sekarang.
Bagi traveler Indonesia yang memiliki rencana menuju Australia, kabar Qantas mogok pekerja ini bukan berarti harus langsung membatalkan perjalanan. Yang lebih penting adalah mengecek status penerbangan langsung kepada maskapai, memperhatikan jadwal keberangkatan pada 23–24 September, serta menyediakan waktu tambahan di bandara.
Karena dalam dunia penerbangan, gangguan di darat bisa ikut memengaruhi perjalanan di udara.
