Daily-Life.id — China sekarang semakin menarik perhatian orang asing. Tetapi ada satu pertanyaan penting: kalau banyak orang ingin bekerja di China, apakah perusahaan di sana juga sedang banyak membuka pekerjaan untuk mereka?
Pertanyaan ini muncul setelah minat warga asing untuk mencari pekerjaan di China meningkat.
Fenomena tersebut bahkan disebut sebagai bagian dari perubahan persepsi global terhadap China, terutama di kalangan generasi muda yang semakin
sering melihat perkembangan robot, kendaraan listrik (EV), artificial intelligence (AI), transportasi modern hingga aplikasi digital China di media sosial.
Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan, dimana China semakin menarik belum tentu berarti pekerjaan di China semakin mudah didapat.
Laporan media resmi menunjukkan adanya peningkatan minat warga asing mencari pekerjaan di China, tetapi pasar tenaga kerja di negara tersebut justru sedang menghadapi tantangan.
“China Got Cool”, Fenomena Baru di Kalangan Orang Asing
Miriam Wickertsheim, general manager perusahaan perekrutan DirectHR di Shanghai, mengatakan jumlah pertanyaan mengenai pekerjaan di China meningkat cukup tajam.
Dalam satu hari pada Juli 2026, ia bahkan menerima lebih dari 100 pesan dari orang-orang di berbagai negara yang menanyakan peluang kerja di China.
Sebelumnya, DirectHR sudah melihat pertanyaan terkait pekerjaan di China meningkat menjadi sekitar 40 permintaan per hari selama setahun terakhir.
Yang menarik bukan hanya jumlahnya.
Profil orang yang bertanya juga berubah.
Jika sebelumnya mayoritas merupakan eksekutif tingkat menengah dan senior yang ingin menambah pengalaman China
dalam kariernya, kini pertanyaan datang dari lulusan baru, teknisi, tukang kayu, guru hingga orang yang memiliki pasangan warga China.
Wickertsheim menyebut fenomena itu secara sederhana sebagai, “China got cool.”
Istilah tersebut memang bukan ukuran resmi pasar kerja. Tetapi fenomenanya menarik.
China semakin sering terlihat bukan hanya sebagai negara manufaktur, tetapi sebagai negara dengan perkembangan teknologi
dan kehidupan perkotaan yang menarik perhatian dunia.
Kenapa China Semakin Menarik bagi Anak Muda?
Salah satu penyebabnya adalah perubahan cara dunia melihat China.
Dulu, China sering dibicarakan terutama sebagai “pabrik dunia”.
Sekarang, citra yang muncul di media sosial jauh lebih beragam.
Ada kereta cepat, kota dengan transportasi publik modern, robot, mobil listrik, aplikasi digital, teknologi AI, pusat perbelanjaan, kuliner hingga budaya populer.
Fenomena media sosial yang disebut “Chinamaxxing” juga ikut memperkuat ketertarikan tersebut. Istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk semakin tertarik dan “all in” terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan China.
Survei Pew Research Center terhadap lebih dari 42.000 orang di 36 negara yang diterbitkan pada Juli 2026 juga menunjukkan perubahan persepsi internasional terhadap China.
Dalam survei tersebut, China memperoleh pandangan positif yang lebih tinggi secara global dibandingkan Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak setidaknya 2023. Di 20 negara yang memiliki data pembanding, hampir separuh responden memiliki pandangan positif terhadap China, dibandingkan 36 persen untuk AS.
Artinya, ketertarikan terhadap China tidak hanya terjadi di internet.
Persepsi terhadap China juga sedang berubah.
Pasar Kerja China Tidak Sedang Sepi Persaingan
Di sinilah ceritanya menjadi menarik.
China mungkin semakin menarik bagi pekerja asing, tetapi perusahaan di China juga menghadapi pasar tenaga kerja domestik yang ketat.
Menurut laporan tersebut, China memiliki sekitar 12,7 juta lulusan universitas yang memasuki pasar kerja pada 2026.
Angka tersebut membuat persaingan mendapatkan pekerjaan semakin besar.
Bahkan pekerjaan yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai pintu masuk paling mudah bagi orang asing, seperti mengajar bahasa Inggris—tidak lagi menawarkan peluang sebanyak sebelumnya.
Di Yangshuo, misalnya, Omeida Language College kini mempekerjakan tujuh guru asing dan sebagian besar posisi sudah terisi.
Pendiri sekolah tersebut mengatakan jumlah sekolah bahasa asing di kota itu juga telah menurun dibandingkan masa sebelum pandemi.
Jadi, kalau seseorang berpikir bahwa, “Saya orang asing, pasti mudah mendapat pekerjaan mengajar bahasa Inggris di China.”
Realitasnya sekarang jauh lebih kompleks.
Lalu Siapa yang Masih Dicari?
Peluang bukan berarti hilang.
Hanya saja, jenis tenaga kerja yang dicari mulai lebih spesifik.
China sedang mendorong pengembangan sektor seperti: Artificial Intelligence, teknologi, kendaraan listrik, energi hijau, baterai, manufaktur pintar, teknologi solar, serta consumer electronics.
Perusahaan China yang semakin agresif melakukan ekspansi ke luar negeri juga membutuhkan tenaga kerja yang memahami pasar internasional dan konsumen lokal.
Ini menjadi peluang menarik bagi tenaga profesional asing.
Bukan semata-mata karena mereka “orang asing”, tetapi karena mereka membawa pengetahuan tentang pasar, bahasa, budaya dan konsumen di luar China yang mungkin sulit diperoleh dari tenaga kerja domestik.

Baca Juga:
- Oracle Pangkas Biaya Lagi, Siapkan Tambahan US$700 Juta untuk Restrukturisasi: AI Makin Besar, Pekerjaan Justru Tertekan
- Bisnis dan Pekerjaan Terbaik untuk Introvert: 15 Peluang Karier Berpenghasilan Tinggi Tanpa Harus Banyak Bicara
- AI Ubah Pekerjaan Entry-Level: Fresh Graduate Kini Dituntut Lebih dari Sekadar Bisa Bekerja
Ada Program untuk Talent Asing, Tetapi Syaratnya Spesifik
China juga tetap berusaha menarik tenaga profesional berkeahlian tinggi.
Shanghai, misalnya, memiliki 2026 Magnolia Talent Programme yang menawarkan pendanaan hingga 300.000 yuan atau sekitar US$44.733 bagi peneliti luar negeri yang memenuhi kriteria untuk pindah ke Shanghai.
Perusahaan teknologi China juga menawarkan paket gaji tahunan hingga sekitar S$200.000 untuk menarik lulusan AI yang dilatih di Singapura.
Ini menunjukkan adanya dua realitas sekaligus, yaitu pekerjaan umum semakin kompetitif.
Sementara itu, talenta dengan keterampilan yang sangat dibutuhkan tetap menjadi target perekrutan.
Dapat Pekerjaan Belum Tentu Berarti Bisa Tinggal Lama
Ini bagian yang sering tidak terlihat di media sosial.
Mendapat pekerjaan di China hanyalah langkah pertama.
Setelah itu muncul pertanyaan lain, bagaimana mendapatkan kontrak jangka panjang?, bagaimana mengurus pendidikan anak, bagaimana sistem kesehatan?, bagaimana perbankan?, bagaimana menggunakan layanan publik?, hingga bagaimana beradaptasi dengan sistem digital yang sebagian besar dirancang untuk warga domestik?
Peneliti dari Swansea University yang dikutip dalam laporan tersebut mengatakan bahwa terdapat kesenjangan antara ketertarikan untuk bekerja di China dan realitas membangun karier serta kehidupan jangka panjang di sana.
Dengan kata lain, China bisa menjadi tempat yang menarik untuk bekerja, tetapi belum tentu otomatis menjadi tempat yang mudah untuk menetap.
Bagaimana dengan Orang Indonesia yang Ingin Kerja di China?
Fenomena ini menarik untuk diperhatikan oleh profesional Indonesia.
Terutama mereka yang memiliki pengalaman di bidang AI, teknologi, manufaktur, EV, energi hijau, marketing internasional, bahasa, supply chain, engineering, digital business dan perdagangan internasional.
Namun, jangan datang dengan asumsi bahwa hanya bermodalkan kemampuan bahasa Inggris atau keinginan bekerja di China sudah cukup.
Pasar kerja China tetap membutuhkan kompetensi nyata, pengalaman, kemampuan bahasa dan pemahaman terhadap kebutuhan perusahaan.
Dan satu hal lagi yang penting: aturan visa serta dokumen pendukung bagi warga asing juga menjadi bagian dari proses yang harus diperhatikan. Laporan tersebut menyebut China memperketat pemeriksaan aplikasi visa dan dokumen pendukung di tengah meningkatnya minat warga asing.
