Oracle Pangkas Biaya Lagi, Siapkan Tambahan US$700 Juta untuk Restrukturisasi: AI Makin Besar, Pekerjaan Justru Tertekan

Oracle job cuts 2026

Daily-life.id – Ada ironi besar yang sedang terjadi di industri teknologi.

AI sedang tumbuh sangat cepat.

Permintaan cloud untuk kecerdasan buatan meningkat. Perusahaan teknologi berlomba membangun data center. Kontrak bernilai puluhan hingga ratusan miliar dolar mulai bermunculan.

Tetapi pada saat yang sama, pekerjaan manusia justru ikut tertekan.

Salah satu contohnya datang dari Oracle.

Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu meningkatkan estimasi biaya program restrukturisasinya sebesar US$700 juta, sehingga total biaya 2026 Restructuring Plan kini diperkirakan mencapai sekitar US$2,8 miliar.

Sebagian besar biaya tersebut berkaitan dengan pesangon pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja, selain biaya penghentian kontrak dan pengeluaran terkait lainnya.

Dan di sinilah ceritanya menjadi menarik.

Oracle bukan sedang berhenti berinvestasi. Justru sebaliknya.

Mereka sedang mengeluarkan uang dalam jumlah sangat besar untuk mengejar ledakan bisnis AI.

Mengapa Perusahaan Sebesar Oracle Justru Memangkas Pekerja?

Menurut laporan Oracle, tambahan US$700 juta tersebut mencerminkan tindakan tambahan yang diperkirakan akan dilakukan perusahaan sebagai bagian dari restrukturisasi.

Reuters melaporkan program tersebut mencakup severance, penghentian kontrak dan biaya keluar lainnya. Sebagiannya juga berkaitan dengan perubahan pekerjaan akibat adopsi AI.

Jadi, persoalannya bukan sekadar, “Oracle sedang rugi sehingga melakukan PHK.”

Gambarnya jauh lebih kompleks.

Oracle justru mencatat pertumbuhan bisnis yang sangat kuat.

Pada kuartal pertama tahun fiskal 2027, pendapatan Oracle mencapai US$19,3 miliar, naik 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan cloud bahkan naik 62% menjadi US$11,6 miliar.

Yang paling mencolok adalah Cloud Infrastructure atau IaaS, yang melonjak 121% menjadi US$7,4 miliar.

Jadi, bisnisnya tumbuh.

Tetapi biaya untuk mengejar pertumbuhan itu juga luar biasa besar.

AI Tumbuh, Data Center Membutuhkan Uang Sangat Besar

Inilah bagian yang mungkin paling relevan untuk pembaca Daily-Life.id.

AI tidak hidup hanya di layar laptop atau smartphone.

Di belakang chatbot, aplikasi AI, video generator dan berbagai layanan digital terdapat data center dengan server, GPU, jaringan, listrik, pendingin dan infrastruktur lainnya.

Dan semuanya mahal.

Oracle menyebut telah menambah 850 megawatt kapasitas data center pada kuartal tersebut.

Perusahaan juga mengatakan permintaan layanan AI Cloud Training dan Inferencing masih tumbuh lebih cepat daripada pasokan.

Masalahnya, untuk mengejar permintaan tersebut, perusahaan harus terus mengeluarkan modal.

Oracle menghabiskan sekitar US$28,5 miliar untuk belanja modal pada kuartal pertama dan memperkirakan belanja modal setahun penuh berada di kisaran US$90–95 miliar.

Sementara itu, free cash flow Oracle pada kuartal tersebut masih negatif sekitar US$5,4 miliar menurut Reuters.

Sederhananya adalah bisnis tumbuh cepat, tetapi mesin pertumbuhannya juga sangat mahal.

Ada Kontrak AI US$30 Miliar, Kok Masih Harus Berhemat?

Ini yang membuat berita Oracle semakin menarik.

Pada kuartal tersebut, Oracle mendapatkan lebih dari US$30 miliar kontrak cloud AI baru.

Total Remaining Performance Obligations atau RPO Oracle kemudian mencapai sekitar US$664 miliar.

Angka US$664 miliar memang bukan berarti Oracle sudah menerima uang tunai sebesar itu.

RPO pada dasarnya menggambarkan nilai kewajiban kontraktual yang akan diakui sebagai pendapatan ketika perusahaan memenuhi kewajibannya kepada pelanggan.

Jadi ada potensi pendapatan yang sangat besar di masa depan.

Tetapi untuk memenuhi kontrak tersebut, Oracle tetap membutuhkan kapasitas cloud dan data center.

Itulah paradoks bisnis AI saat ini.

Permintaan besar maka perlu membangun kapasitas, dan hal itu membutuhkan modal yang besar, sehingga harus menjaga cash flow, dan biaya harus dikendalikan.

Dan salah satu cara perusahaan mengendalikan biaya adalah restrukturisasi.

21.000 Pekerja Oracle Sudah Berkurang dalam Setahun

Dampaknya terhadap tenaga kerja tidak kecil.

Menurut laporan Reuters sebelumnya, jumlah pekerja Oracle turun sekitar 21.000 orang atau 13% sepanjang tahun fiskal 2026.

Jumlah tenaga kerja Oracle pada 31 Mei 2026 tercatat sekitar 141.000 orang, dibandingkan sekitar 162.000 pada tahun sebelumnya.

Media juga melaporkan bahwa pada akhir Mei Oracle memiliki sekitar 49.000 pekerja di Amerika Serikat dan 92.000 pekerja internasional, dengan total tersebut turun 21.000 orang dibandingkan setahun sebelumnya.

Artinya, tambahan US$700 juta dalam program restrukturisasi bukan cerita kecil.

Ini bagian dari perubahan besar dalam cara perusahaan teknologi mengatur tenaga kerjanya.

Apakah AI Benar-Benar Menggantikan Manusia?

Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak.

AI memang dapat mengotomatisasi sebagian pekerjaan.

Tetapi AI juga menciptakan kebutuhan baru.

Data center membutuhkan engineer, AI specialist, cybersecurity, cloud achitect, data scientist, chip specialist, network engineer, teknisi data center, energy specialist, hingga project manager.

Jadi yang terjadi kemungkinan bukan hanya “manusia digantikan AI”.

Lebih tepatnya, jenis pekerjaan berubah.

Pekerjaan yang tugasnya rutin dan mudah diotomatisasi bisa semakin tertekan.

Sementara pekerjaan yang membutuhkan kemampuan teknis, kreativitas, pengambilan keputusan, komunikasi dan kemampuan menggunakan AI bisa semakin bernilai.

Oracle job cuts 2026 di tengah investasi besar artificial intelligence dan data center

Baca Juga:

Pelajaran Penting untuk Pekerja Indonesia

Berita Oracle sebenarnya bukan cuma berita tentang perusahaan Amerika.

Ini bisa menjadi peringatan untuk pekerja di mana pun, termasuk Indonesia.

Kalau perusahaan global dengan bisnis yang sedang tumbuh saja melakukan restrukturisasi, maka keamanan pekerjaan tidak lagi hanya ditentukan oleh, “Saya sudah lama bekerja di perusahaan.”

Dunia kerja bergerak menuju pertanyaan yang berbeda adalah, “Apa yang bisa saya lakukan yang memberikan nilai lebih besar?”

Karena itu, kemampuan yang semakin penting antara lain:

1. Bisa menggunakan AI

Tidak harus menjadi programmer.

Tetapi pekerja yang mampu menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan administrasi, riset, analisis, komunikasi, marketing atau pembuatan konten memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan.

2. Jangan hanya punya satu keahlian

Gabungan kemampuan justru semakin menarik.

Contohnya: HR + AI, marketing + data, finance + automation, content + SEO dan AI, dan sales + digital tools.

3. Bangun aset di luar pekerjaan

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Jangan sampai seluruh penghasilan hanya bergantung pada satu perusahaan.

Kemampuan membuat konten, membangun personal brand, freelance, affiliate, konsultasi atau bisnis digital bisa menjadi alternatif.

Bukan berarti harus langsung resign.

Tetapi memiliki Plan B semakin masuk akal.

Oracle Sedang Membayar Harga dari Pertaruhan AI

Kalau dilihat dari jauh, Oracle sedang berada dalam posisi yang unik.

Di satu sisi, pendapatan naik 30%.

Cloud tumbuh sangat cepat.

Kontrak AI mencapai puluhan miliar dolar.

RPO mencapai US$664 miliar. Tapi di sisi lain, belanja data center melonjak.

Free cash flow negatif.

Kebutuhan pendanaan meningkat.

Dan tenaga kerja mengalami pengurangan.

Jadi, cerita Oracle bukan sekadar tentang PHK perusahaan teknologi.

Ini adalah gambaran tentang bagaimana ekonomi AI bekerja.

AI bisa menghasilkan pertumbuhan luar biasa, tetapi untuk membangunnya dibutuhkan modal luar biasa pula.

Masa Depan Kerja Mungkin Bukan Manusia vs AI

Ada satu kesimpulan sederhana dari kasus Oracle.

Pertarungan sebenarnya mungkin bukan Manusia vs AI.

Tetapi, manusia yang menggunakan AI vs manusia yang tidak beradaptasi.

Perusahaan akan terus mencari cara untuk bekerja lebih cepat, lebih murah dan lebih efisien.

Teknologi akan terus berkembang.

Pekerjaan baru akan muncul.

Sebagian pekerjaan lama akan berkurang.

Dan pekerja yang paling aman bukan selalu yang paling senior, paling lama bekerja atau paling tinggi jabatannya.

Melainkan mereka yang mampu berkata, “Saya bisa belajar sesuatu yang baru sebelum keadaan memaksa saya untuk belajar.”

Oracle mungkin sedang mengurangi ribuan pekerjaan untuk menghemat biaya.

Tetapi pada saat yang sama, perusahaan itu juga sedang membangun salah satu bisnis AI dan cloud terbesar di dunia.

Itulah wajah dunia kerja 2026, bahwa teknologi menciptakan peluang besar sekaligus memaksa manusia untuk terus beradaptasi.

Dan pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah AI akan mengubah pekerjaan kita.

Kemungkinan besar, jawabannya sudah jelas.

Pertanyaannya adalah, ketika perubahan itu datang, kita berada di sisi yang mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *