Daily-life.id — Kalau perusahaan travel raksasa kayak Expedia sampai rela buka kantor baru cuma buat “deket-deketan” sama Google, itu tandanya perang rebutan talenta AI ini serius banget.
Expedia Group baru aja meresmikan kantor baru di San Jose, California yang lokasinya kurang dari 10 mil dari markas Google (Googleplex).
Bukan kebetulan, ini strategi yang sengaja dirancang biar Expedia bisa “mancing” talenta AI terbaik yang selama ini cuma mau kerja di raksasa teknologi macam Google, Cisco, Adobe, PayPal, atau eBay.
Kenapa Lokasinya Segitu Strategis?
Kantor baru ini berlokasi di North First Street, San Jose, dengan luas hampir 50 ribu kaki persegi, dan resmi diposisikan sebagai pusat kegiatan AI dan machine learning Expedia.
Peresmiannya sendiri berlangsung Juni 2026, lengkap dengan seremoni gunting pita, kopi latte, dan merchandise lokal
dan berkesan santai ala startup Silicon Valley, bukan gaya korporat kaku.
Chief Technology Officer Expedia, Ramana Thumu, blak-blakan soal alasan di balik lokasi strategis ini, bahwa keterlambatan proses rekrutmen bisa
bikin timeline proyek molor parah, dan proyek yang harusnya kelar 12 bulan bisa membengkak jadi 18 bulan.
Di dunia AI yang bergerak secepat sekarang, keterlambatan 6 bulan itu ibarat selamanya.
Sudah “Bajak” Talenta dari Google, Meta, sampai Netflix
Strategi agresif ini ternyata bukan cuma wacana.
Expedia sudah berhasil merekrut talenta senior dari Google, Netflix, LinkedIn, Amazon, dan Meta,
termasuk nama besar seperti Chief AI and Data Officer Xavier Amatriain dan VP of Technology Julia Elliott.
Dari total sekitar 300 kursi yang tersedia di kantor baru ini, sepertiganya masih kosong dan terus diisi lewat perekrutan aktif.
Julia Elliott sendiri, yang kini menjabat VP of Technology sekaligus Chief of Staff untuk CTO Expedia,
sebelumnya menghabiskan satu dekade penuh berkarier di Google sebelum akhirnya pindah ke Expedia pada Januari 2026.
Alasannya cukup sederhana tapi menarik: menurutnya, industri travel punya “masalah-masalah yang menarik untuk dipecahkan”.
Sesuatu yang mungkin nggak selalu ia temukan lagi di raksasa teknologi setelah 10 tahun berkarier di sana.
Sejak Juni 2026 saja, Expedia tercatat sudah merekrut minimal 10 insinyur yang sebelumnya bekerja di Amazon, Netflix, Google, dan Meta.
Untuk menarik minat mereka, Expedia bahkan berani membayar premium ala Silicon Valley.
Misalnya gaji untuk posisi principal ML scientist bisa mencapai USD 338.500, lebih tinggi dibanding posisi serupa di kantor pusat Seattle yang “cuma” USD 313.500.
Bukan Cuma Soal Gaji, Tapi Juga Soal Siapa yang Direkrut
Menariknya, strategi Expedia bukan sekadar “rekrut sebanyak-banyaknya”.
CTO Ramana Thumu mengungkap perusahaan sempat menghabiskan waktu sembilan bulan penuh mempelajari bagaimana 5.000 insinyur mereka memanfaatkan tools coding berbasis AI.
Hasilnya cukup mengejutkan: cuma sekitar 2-10 persen insinyur top yang benar-benar mengalami lonjakan produktivitas luar biasa,
dimana mereka dua hingga sepuluh kali lipat lebih produktif, ketika dipasangkan dengan tools AI, bukan peningkatan merata ke semua orang.
Temuan inilah yang jadi dasar strategi rekrutmen Expedia sekarang: fokus mencari lebih banyak insinyur dengan karakteristik serupa “si 2-10 persen” ini,
memberi mereka akses token AI tanpa batas, lalu menyebarkan metode kerja mereka ke seluruh perusahaan.
Setelah masa eksperimen token tanpa batas ini berakhir, Expedia kini mulai memperlakukan biaya token AI sebagai pos anggaran tetap,
diperkirakan bernilai 5-10 persen dari total kompensasi karyawan — pergeseran cara pikir dari sekadar “rekrut lebih banyak orang” jadi “beli lebih banyak token AI” buat orang yang tepat.
Budaya Kerja “Fail Fast, Recover” ala Startup
Untuk mendukung pendekatan ini, kantor San Jose sengaja dirancang dengan format squad kecil ala startup yang fokus
pada eksekusi cepat, didukung budaya kerja yang disebut “fail fast, recover”.
Yaitu gagal cepat, lalu segera bangkit dan perbaiki, bukan menghabiskan waktu lama menghindari kegagalan sejak awal.
Filosofi ini jadi pembeda mencolok dibanding budaya kerja korporat besar yang biasanya lebih birokratis dan lambat mengambil keputusan.

Baca Juga:
- Content Creator Travel Mulai Alihkan Konten ke Trip Singkat, Ini yang Terjadi
- 5 Tempat Kerja Nyaman di Jakarta Buat Freelancer, Biar Nggak Melulu di Kamar Kos
- AI Ubah Pekerjaan Entry-Level: Fresh Graduate Kini Dituntut Lebih dari Sekadar Bisa Bekerja
Skala Besar Expedia sebagai Konteks
Sebagai gambaran skala, Expedia Group sendiri adalah perusahaan berusia 30 tahun yang menaungi berbagai brand ternama
seperti Expedia, Hotels.com, dan Vrbo, dengan pendapatan mencapai sekitar USD 14,7 miliar sepanjang 2025.
Secara keseluruhan, perusahaan mempekerjakan sekitar 17.000 karyawan, dan upaya demokratisasi AI internal mereka sudah menghasilkan lebih dari 1.500 AI agent
buatan karyawan sendiri sejak Januari 2025, dengan sekitar 6.000 sesi penggunaan setiap bulannya lewat platform internal “AI playground” yang menyediakan akses ke lebih dari 60 model bahasa besar berbeda.
Kenapa Ini Penting Diperhatikan, Bahkan Buat Pembaca di Indonesia?
Fenomena perang rebutan talenta AI kayak yang dilakukan Expedia ini bukan cuma soal drama korporat Silicon Valley yang jauh dari kehidupan kita.
Ini sinyal penting buat siapa pun yang berkarier di bidang teknologi, termasuk di Indonesia: keahlian spesifik memanfaatkan tools AI secara efektif kini jadi salah satu skill paling bernilai di pasar kerja global,
bahkan perusahaan travel yang biasanya nggak dianggap “sekeren” perusahaan teknologi murni pun kini rela bayar mahal
dan pindah kantor cuma buat dapetin talenta semacam ini.
Buat talenta teknologi Indonesia yang punya kemampuan AI mumpuni, ini juga jadi pengingat bahwa peluang kerja remote
atau kolaborasi lintas negara dengan perusahaan sekelas Expedia bukan lagi hal mustahil,
asalkan skill-nya benar-benar di level yang mereka cari: bukan cuma bisa “pakai” AI, tapi bisa memaksimalkan AI jadi hasil kerja yang jauh lebih produktif dibanding rata-rata.
