Daily-Life.id, Jakarta — Kenapa ada orang yang baru kita temui beberapa detik, tetapi langsung terasa menyenangkan untuk diajak bicara? Sebaliknya, kenapa ada juga orang yang sebenarnya kompeten, tetapi pertemuan pertama terasa kaku?
Jawabannya bisa berkaitan dengan first impression atau kesan pertama.
Dalam dunia kerja, networking, wawancara, meeting dengan klien, hingga menghadiri konferensi dan pameran bisnis, kesan pertama bukan sekadar soal pakaian. Cara seseorang menatap, tersenyum, berbicara, berjabat tangan, bahkan membuka percakapan ikut membentuk persepsi orang lain.
Menariknya, penelitian Princeton yang menunjukkan bahwa manusia dapat membentuk kesan pertama hanya dalam sepersepuluh detik. Jadi, bukan tujuh detik seperti anggapan populer yang selama ini sering kita dengar.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
1. Berpakaian Rapi, Bukan Berarti Harus Mahal
First impression memang tidak dimulai dari harga pakaian.
Yang lebih penting adalah apakah penampilan terlihat rapi, sesuai situasi dan membuat kita nyaman.
Career strategist Lissa Appiah, menyarankan berpakaian dengan baik dan menggunakan sedikit sentuhan warna sebagai pembuka percakapan.
Artinya, tidak harus datang ke meeting dengan jas mahal.
Kemeja bersih, celana yang sesuai, sepatu rapi dan penampilan yang terawat sudah bisa menjadi fondasi.
Bahkan dalam dunia meeting modern, sneakers pun semakin diterima sebagai bagian dari busana profesional dalam konteks tertentu.
Kuncinya bukan mahal. Kuncinya tepat.
2. Jangan Menatap Terlalu Lama, Jangan Juga Menghindar
Pernah ngobrol dengan seseorang tetapi matanya terus melihat HP?
Rasanya seperti tidak dihargai, bukan?
Kontak mata yang nyaman membantu menunjukkan bahwa kita hadir dalam percakapan.
Kontak mata yang natural sekitar empat sampai lima detik, lalu kemudian mengalihkan pandangan secara lembut sebelum kembali melakukan kontak mata.
Tentu saja ini bukan aturan matematika yang harus dihitung.
Jangan sampai sedang meeting malah sibuk menghitung “Satu… dua… tiga…”
Yang penting adalah kontak mata terasa natural, bukan menatap seperti sedang menginterogasi.
3. Suara yang Hangat Bisa Membuat Percakapan Lebih Nyaman
Orang sering terlalu fokus pada apa yang dikatakan, tetapi lupa bahwa cara mengatakannya juga penting.
Nada suara yang terlalu cepat, tinggi atau terdengar terburu-buru bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Sebaliknya, suara yang tenang dan hangat dapat membantu menciptakan suasana percakapan yang lebih rileks.
Skift Meetings menyarankan menggunakan nada suara yang tenang, hangat dan autentik, terutama ketika seseorang sedang berada dalam situasi yang membuatnya stres.
Jadi kalau besok harus presentasi atau bertemu calon klien, jangan cuma latihan isi presentasinya.
Latih juga cara mengucapkannya.
4. Senyum Itu Gratis, Tapi Dampaknya Bisa Besar
Ada satu kebiasaan sederhana yang sering terlupakan: tersenyum.
Bukan berarti harus tersenyum sepanjang waktu.
Senyum yang natural ketika bertemu atau menyapa seseorang dapat menjadi sinyal keramahan dan keterbukaan.
Meeting planner Kimberly Bean yang dikutip Skift Meetings menyebut senyum sebagai cara universal untuk menyampaikan keramahan.
Bayangkan dua orang datang ke meja registrasi acara.
Orang pertama berkata, “Pagi.”
Tanpa ekspresi. Lalu orang kedua berkata, “Pagi, apa kabar?”
Sambil tersenyum.
Kalimatnya hampir sama.
Tetapi pengalaman yang diterima lawan bicara bisa terasa berbeda.

5. Jabat Tangan Jangan Terlalu Lemah, Jangan Juga Seperti Adu Kekuatan
Dalam pertemuan profesional, jabat tangan masih menjadi salah satu bentuk sapaan di banyak situasi.
Daily mencatat bahwa jabat tangan yang terlalu lemah dapat dipersepsikan sebagai kurang percaya diri atau kurang tertarik, sedangkan genggaman yang terlalu kuat dapat terasa agresif.
Jadi, tidak perlu mencoba membuktikan siapa yang paling kuat.
Hangat, singkat dan wajar sudah cukup.
Tentu, budaya, situasi dan preferensi pribadi juga perlu diperhatikan. Tidak semua orang nyaman berjabat tangan.
6. Gaya Pribadi Justru Bisa Menjadi Pembuka Percakapan
Dunia profesional sekarang semakin fleksibel.
Sepatu sneakers, misalnya, sudah semakin sering muncul dalam lingkungan meeting dan trade show tertentu. Kami melihat perubahan ini sebagai bagian dari berkembangnya standar berpakaian profesional.
Tetapi ada satu prinsip penting, yaitu sesuaikan dengan tempatnya.
Sneakers mungkin cocok untuk konferensi kreatif atau networking santai, tetapi belum tentu cocok untuk semua wawancara kerja atau pertemuan formal.
Jangan sampai ingin terlihat stylish tetapi malah salah kostum.
7. Jangan Bingung Mau Bicara Apa: Mulai dari Pertanyaan Sederhana
Ini mungkin salah satu trik paling berguna ketika networking.
Tidak tahu harus memulai percakapan?, bisa mulai dengan bertanya, membuka percakapan dengan pujian yang tulus, atau pertanyaan yang relevan.
Misalnya setelah seseorang selesai presentasi, kamu bisa tanyakan:“Tadi menarik waktu membahas soal digital marketing. Kalau untuk perusahaan kecil, menurut Anda bagian mana yang paling penting dimulai dulu?”
Pertanyaan seperti ini jauh lebih efektif dibanding,“Jadi, Anda kerja di mana?”
Karena percakapan langsung mempunyai konteks. Dan yang paling penting jangan memberikan pujian palsu.
Kalau pujian terasa dibuat-buat, justru bisa menjadi bumerang.
Baca Juga:
- Selena Gomez Tampil Serba Emas di Emmys 2026, Gaya Red Carpet-nya Bikin Susah Berkedip
- EMMYS 2026: The Pitt dan Widow’s Bay Jadi Raja, Matthew Rhys Bikin Sejarah
- KG Crown, Penyanyi Pop-Rock Amerika Berusia 19 Tahun, Perluas Karier Internasional ke Indonesia
8. First Impression Juga Bisa Dilatih
Ini fakta yang sering dilupakan.
Banyak orang menganggap kemampuan berkomunikasi adalah bakat.
Padahal, sebagian keterampilan sosial dapat dilatih.
Latihan sederhana di depan cermin, termasuk mencoba cara menyapa, melihat ekspresi wajah dan gestur. Berlatih bersama teman atau kolega juga dapat membantu.
Coba rekam diri sendiri saat mengatakan, “Halo, saya Catherina. Senang bertemu dengan Anda.”
Kemudian lihat videonya.
Apakah suara terlalu cepat, apakah wajah terlihat tegang?, atau apakah tangan bergerak terlalu banyak?
Kadang kita baru menyadari kebiasaan tersebut setelah melihat diri sendiri dari luar.
First Impression Bukan Berarti Harus Pura-Pura
Ini bagian yang paling penting.
Membuat first impression yang baik bukan berarti kita harus menjadi orang lain.
Tidak perlu memaksakan gaya bicara yang bukan karakter kita, tersenyum berlebihan. tidak menggunakan pakaian mahal, atau menghafal puluhan teknik networking.
Yang jauh lebih penting adalah kombinasi sederhana, yaitu rapi, sopan, hadir dalam percakapan, mendengarkan, percaya diri serta autentik.
Penelitian tentang kesan pertama juga perlu dibaca dengan hati-hati. Persepsi awal seseorang tidak selalu menggambarkan kemampuan atau karakter sebenarnya. Bahkan artikel Skift mencatat bahwa kesan pertama dapat dipengaruhi oleh sikap atau bias implisit dari orang yang menilai.
Jadi, first impression penting, tetapi bukan penilaian final terhadap seseorang.

Kenapa First Impression Penting dalam Dunia Kerja?
Dalam konteks bisnis, dampaknya bisa lebih nyata.
Sebuah studi yang menemukan bahwa 71% pembeli tidak akan berinteraksi dengan salesperson yang memberikan first impression buruk.
Angka tersebut tentu berasal dari konteks penelitian tertentu dan tidak berarti semua orang akan bertindak dengan cara yang sama.
Namun pesannya cukup jelas, bahwa cara kita memulai hubungan dapat memengaruhi apakah percakapan berikutnya terjadi atau tidak.
Terutama bagi orang yang bekerja di bidang sales, marketing, HR, public relations, event organizer, hospitality, recruitment, business development, networking, dan entrepreneurship.
First impression bisa menjadi bagian dari keterampilan profesional sehari-hari.
Kadang kita terlalu sibuk mencari cara agar terlihat hebat.
Padahal, dalam sebuah pertemuan, orang lain mungkin justru lebih mengingat hal-hal sederhana, yaitu apakah kita menyapa dengan ramah?, apakah kita mendengarkan?, apakah kita terlihat menghargai lawan bicara?, dan apakah percakapannya terasa nyaman?
First impression memang bisa terbentuk sangat cepat—bahkan penelitian menyebut sepersepuluh detik. Tetapi hubungan profesional yang baik tidak dibangun hanya dalam sepersepuluh detik.
Kesan pertama membuka pintu. Sikap dan konsistensi setelahnya yang menentukan bagaimana hubungan itu berkembang.
Jadi, sebelum menghadiri meeting, wawancara kerja, konferensi atau networking berikutnya, mungkin kita tidak perlu bertanya, “Bagaimana supaya saya terlihat hebat?”
Coba ganti dengan, “Bagaimana supaya orang yang saya temui merasa nyaman dan dihargai?”
Mungkin justru dari situlah percakapan yang bagus dimulai.
