Imunisasi yang Wajib Dilakukan Anak: Apa Akibatnya Jika Terlewat?

imunisasi wajib anak

daily-life.id — Ada satu hal yang sering terdengar sederhana bagi orang tua, “Nanti saja imunisasinya kalau sudah sempat.”

Masalahnya, jadwal imunisasi bukan sekadar kalender yang boleh dilewati begitu saja. Pada masa bayi dan anak, imunisasi diberikan secara bertahap untuk membangun perlindungan terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I.

Kementerian Kesehatan menyebut imunisasi rutin lengkap perlu diberikan sejak bayi usia 0–11 bulan, kemudian dilanjutkan pada usia baduta dan usia sekolah.

Imunisasi Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?

Dalam jadwal imunisasi rutin Kemenkes, bayi mendapatkan beberapa vaksin sesuai kelompok usia.

Saat lahir, terdapat Hepatitis B dosis lahir (HB0). Kemudian pada usia 1 bulan diberikan BCG dan polio tetes. Usia 2–4 bulan dilanjutkan dengan vaksin kombinasi DPT-HB-Hib, polio, PCV, rotavirus, serta IPV sesuai jadwal.

Pada usia 9 bulan, anak mendapatkan Campak-Rubela dan IPV, kemudian terdapat imunisasi lanjutan pada usia 12 dan 18 bulan. Di wilayah tertentu yang merupakan daerah endemis, imunisasi Japanese Encephalitis juga diberikan sesuai ketentuan.

Untuk anak usia sekolah, program BIAS mencakup antara lain Campak-Rubela, DT, Td dan HPV sesuai kelompok kelas serta ketentuan program.

Jadwal tersebut bukan berarti semua anak memiliki kondisi yang persis sama. Jika imunisasi terlambat, orang tua sebaiknya membawa catatan imunisasi anak dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan imunisasi kejar yang diperlukan.

Apa yang Terjadi Jika Imunisasi Tidak Lengkap?

Kemenkes menegaskan bahwa anak dengan imunisasi tidak lengkap lebih rentan tertular penyakit, dapat menularkan penyakit kepada orang lain, serta berisiko mengalami komplikasi serius, kecacatan, bahkan kematian dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.

Contohnya adalah polio. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan seumur hidup dan bahkan kematian. Kemenkes menyebut imunisasi polio lengkap sebagai pencegahan paling efektif terhadap penyakit tersebut.

Jadi, melewatkan imunisasi bukan hanya soal “belum punya vaksin tertentu”. Perlindungan tubuh anak terhadap penyakit tertentu juga dapat menjadi tidak optimal.

Baca Juga:

Data Indonesia Masih Jadi Pengingat

Persoalan imunisasi juga bukan hanya terjadi pada satu keluarga.

Kemenkes mencatat cakupan imunisasi dasar lengkap Indonesia mencapai 80,2% pada 2025, tetapi masih terdapat hampir 960.000 anak zero-dose, yaitu anak yang belum menerima imunisasi sama sekali. Angka tersebut menjadi salah satu fokus penguatan program imunisasi nasional pada 2026.

Sebelumnya, Kemenkes juga melaporkan hingga pertengahan Desember 2025 cakupan imunisasi bayi lengkap berada di angka 68,6 persen, sementara cakupan imunisasi lengkap untuk 14 antigen mencapai 66,2 persen.

Artinya, pekerjaan rumahnya bukan hanya memastikan vaksin tersedia, tetapi juga memastikan anak mendapatkan vaksin sesuai kebutuhan dan jadwal.

Imunisasi Bukan Hanya untuk Satu Anak

Ada alasan lain mengapa imunisasi perlu mendapat perhatian.

Ketika semakin banyak anak mendapatkan perlindungan, risiko penularan penyakit di masyarakat dapat ditekan. Kemenkes menjelaskan bahwa kekebalan kelompok atau herd immunity membutuhkan cakupan imunisasi yang tinggi, merata, dan berkesinambungan. Jika cakupan rendah, risiko penularan dapat meningkat dan memicu Kejadian Luar Biasa atau KLB.

Dengan kata lain, keputusan orang tua melengkapi imunisasi anak juga memiliki dampak pada lingkungan sekitar.

Jangan Panik Jika Jadwal Terlewat

Kalau imunisasi anak ternyata terlambat, tidak perlu langsung panik.

Kemenkes menyarankan orang tua memeriksa kembali status imunisasi anak dan melaporkannya kepada bidan atau petugas imunisasi di puskesmas. Tenaga kesehatan dapat membantu menentukan vaksin yang masih perlu diberikan.

Yang penting, jangan berhenti hanya karena satu jadwal terlewat.

Imunisasi adalah investasi perlindungan kesehatan sejak awal kehidupan. Bukan sekadar suntikan yang harus dicentang di buku kesehatan anak, tetapi bagian dari upaya mencegah penyakit, komplikasi, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *