Lowongan Kerja Singapura Masih Banyak, Tapi Kenapa Pekerja yang Kena PHK Makin Sulit Masuk Lagi?

lowongan kerja Singapura

daily-life.id – Di atas kertas, pasar kerja Singapura masih terlihat punya banyak kesempatan. Lowongan pekerjaan bahkan masih lebih banyak dibandingkan jumlah pengangguran.

Tapi ada satu pertanyaan yang justru semakin penting, “kalau lowongan masih tersedia, kenapa pekerja yang terkena PHK atau retrenchment membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan baru?”

Pertanyaan ini menjadi sorotan setelah data terbaru Ministry of Manpower (MOM) Singapura menunjukkan adanya perubahan di pasar kerja pada kuartal II 2026.

4.620 Pekerja Terkena Retrenchment

Pada kuartal II 2026, jumlah pekerja yang terkena retrenchment di Singapura mencapai 4.620 orang, naik dari 3.830 orang pada kuartal sebelumnya.

Angka tersebut merupakan tingkat retrenchment tertinggi sejak kuartal IV 2020. MOM menyebut peningkatan terutama berkaitan dengan reorganisasi dan restrukturisasi bisnis pada sektor yang berorientasi eksternal, termasuk manufaktur, informasi dan komunikasi, serta jasa keuangan.

Di saat yang sama, jumlah lowongan kerja justru turun.

Lowongan pekerjaan berkurang dari 73.300 pada Maret menjadi 68.600 pada Juni 2026. Meski demikian, masih terdapat sekitar 1,48 lowongan untuk setiap satu orang penganggur.

Jadi, persoalannya bukan hanya jumlah pekerjaan.

Pekerjaan Ada, Tapi Belum Tentu Cocok

Inilah bagian yang menarik.

Business Times menyoroti bahwa seorang pekerja yang kehilangan pekerjaan belum tentu langsung cocok dengan lowongan yang tersedia. Posisi yang dibuka perusahaan bisa membutuhkan skill, pengalaman, level senioritas, atau kemampuan teknologi yang berbeda dari pekerjaan sebelumnya.

Data MOM memperlihatkan dampaknya.

Pada kuartal II 2026, hanya 54,9% resident workers yang terkena retrenchment berhasil kembali bekerja dalam waktu enam bulan. Angka tersebut turun dari 60,7% pada kuartal I.

Namun, dalam periode 12 bulan, tingkat kembali bekerja relatif stabil di sekitar 69,8%. Ini menunjukkan sebagian pekerja memang akhirnya kembali mendapatkan pekerjaan, tetapi prosesnya membutuhkan waktu lebih panjang.

Dengan kata lain, lowongan tersedia tidak otomatis berarti transisi kerja berlangsung cepat.

Baca juga:

Pekerja Usia 50-an Menghadapi Tantangan Berbeda

Data terbaru juga memperlihatkan bahwa pekerja yang lebih senior perlu mendapat perhatian khusus.

Kami mencatat bahwa pekerja usia 50-an memiliki tingkat retrenchment lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya pada kuartal II 2026. Untuk resident workers usia 50–59 tahun, hanya 41,9% yang kembali bekerja dalam enam bulan, turun dari 51,8% pada periode sebelumnya.

Kondisi ini membuat isu pekerjaan senior bukan sekadar persoalan mencari lowongan.

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah pekerjaan baru menawarkan level, penghasilan, dan penggunaan pengalaman yang relatif sesuai dengan perjalanan karier sebelumnya?

AI Mengubah Peta Skill yang Dicari Perusahaan

Perubahan teknologi juga ikut membuat proses pencarian kerja semakin kompleks.

MOM mengatakan restrukturisasi bisnis dapat berkaitan dengan peningkatan produktivitas atau efisiensi melalui AI dan teknologi lainnya. Namun, data pemerintah Singapura tidak menyimpulkan bahwa AI secara langsung menjadi penyebab meningkatnya retrenchment pada kuartal II 2026.

Di sisi lain, pemerintah Singapura menyebut sebagian perusahaan yang mengadopsi AI justru mendesain ulang pekerjaan atau menciptakan peran baru. Karena itu, kemampuan pekerja untuk memperbarui skill menjadi semakin penting.

Singapura juga memiliki berbagai program career conversion, pelatihan dan job matching untuk membantu pekerja berpindah ke bidang yang membutuhkan tenaga kerja.

Pada akhirnya, cerita tentang pasar kerja Singapura 2026 bukan sekadar “ada lowongan atau tidak?”

Pertanyaan yang lebih relevan adalah, seberapa mudah seorang pekerja bisa menemukan pekerjaan yang benar-benar cocok dengan skill, pengalaman, usia, dan kebutuhan perusahaan?

Karena dalam dunia kerja yang berubah cepat, mendapatkan pekerjaan berikutnya bukan hanya soal menemukan lowongan.

Yang semakin penting adalah menemukan titik temu antara pengalaman manusia dan kebutuhan pekerjaan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *