JAKARTA, Daily-Life.id – Pusat data AI di Malaysia berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut berhasil melampaui Singapura sebagai pusat pertumbuhan data center tercepat di Asia Tenggara.
Namun, di balik derasnya investasi dari perusahaan teknologi dunia, muncul tantangan baru berupa kebutuhan listrik, air bersih, dan penerimaan masyarakat yang semakin menjadi sorotan.
Lonjakan investasi ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), dan layanan digital global.
Perusahaan-perusahaan seperti Amazon, Microsoft, Tencent, hingga Alibaba memilih Malaysia sebagai lokasi strategis untuk membangun fasilitas komputasi berskala besar.
Mengapa Malaysia Menjadi Magnet Data Center?
Selama beberapa tahun terakhir, Singapura memperketat pembangunan data center karena keterbatasan lahan, listrik, dan air.
Kondisi tersebut membuat banyak investor mengalihkan proyek mereka ke Malaysia, terutama ke negara bagian Johor yang letaknya berbatasan langsung dengan Singapura.
Biaya lahan yang lebih rendah, pasokan energi yang relatif kompetitif, serta dukungan pemerintah menjadikan pusat data AI di Malaysia tumbuh sangat pesat.
Nilai investasi yang masuk ke Johor diperkirakan telah mencapai sekitar US$35 miliar, menjadikannya salah satu kawasan data center terbesar di Asia Tenggara.
Di Balik Pertumbuhan, Muncul Kekhawatiran Baru
Meski membawa investasi besar, pembangunan data center juga menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
Pusat data modern membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan ribuan server selama 24 jam sehari.
Selain itu, sistem pendingin juga memerlukan pasokan air yang tidak sedikit agar perangkat tetap beroperasi pada suhu optimal.
Bank sentral Malaysia bahkan memperkirakan bahwa sebuah data center berkapasitas 50 megawatt dapat mengonsumsi
listrik setara kebutuhan sekitar 22.000 rumah tangga dan menggunakan air setara kebutuhan sekitar 2.200 rumah tangga setiap hari.
Warga Mulai Menyuarakan Keberatan
Di Johor, sejumlah warga memprotes pembangunan kompleks data center karena khawatir terhadap tekanan pada pasokan air, perubahan lingkungan, dan aktivitas konstruksi yang memengaruhi kawasan permukiman.
Sebagian masyarakat mengaku memilih tinggal di wilayah tersebut karena masih memiliki ruang hijau, namun kini sebagian kawasan telah berubah menjadi lokasi pembangunan pusat data.
Kekhawatiran serupa juga mulai muncul di Selangor sehingga isu ini berkembang menjadi perdebatan publik.
Baca juga:
- Produktivitas Naik, Gaji Belum Tentu Ikut? Ekonom Ungkap Fenomena yang Diprediksi Makin Terjadi di Era AI
- Listrik Bisa Lumpuh karena Hacker? AI Kini Jadi Benteng Baru Melindungi Infrastruktur Energi Dunia
- AI Ubah Pekerjaan Entry-Level: Fresh Graduate Kini Dituntut Lebih dari Sekadar Bisa Bekerja
Pemerintah Perketat Persyaratan
Sebagai respons, pemerintah Malaysia mulai menerapkan aturan yang lebih ketat.
Setiap proyek baru diwajibkan menunjukkan sumber pasokan listriknya, dengan penggunaan energi terbarukan menjadi salah satu syarat penting.
Di Johor, pemerintah bahkan melarang jenis data center tertentu yang memiliki konsumsi air sangat tinggi, sementara Selangor mewajibkan standar efisiensi energi dan air serta mendorong penggunaan komponen lokal dalam pembangunan.
Langkah tersebut bertujuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi digital dan keberlanjutan lingkungan.
Peluang Besar, Tetapi Harus Berkelanjutan
Analis menilai pusat data AI di Malaysia masih memiliki prospek cerah karena permintaan terhadap layanan AI diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, melainkan juga kemampuan menjaga pasokan energi, sumber daya air, dan dukungan masyarakat.
Jika regulasi menjadi terlalu ketat atau infrastruktur tidak mampu mengimbangi pertumbuhan, sebagian investasi berpotensi bergeser ke negara lain di Asia Tenggara seperti Thailand.
Meski demikian, Johor masih dinilai memiliki keunggulan berkat infrastruktur, lokasi strategis, dan dukungan pemerintah.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Fenomena di Malaysia memberikan pelajaran penting bagi Indonesia yang juga tengah mengembangkan ekosistem data center untuk mendukung AI dan transformasi digital.
Pembangunan pusat data memang mampu menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mempercepat ekonomi digital.
Namun, tanpa perencanaan yang matang, kebutuhan energi dan air yang besar dapat menjadi tantangan serius.
Karena itu, pengembangan data center perlu diiringi investasi pada energi terbarukan, efisiensi pendinginan, dan tata kelola lingkungan yang baik.
Pusat data AI di Malaysia menunjukkan bagaimana ledakan investasi teknologi dapat membawa manfaat ekonomi sekaligus memunculkan tantangan baru.
Di satu sisi, Malaysia berhasil menjadi tujuan utama investasi AI di Asia Tenggara.
Di sisi lain, kebutuhan listrik, air, dan penerimaan masyarakat kini menjadi faktor yang menentukan apakah pertumbuhan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, pengalaman Malaysia menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur digital harus berjalan seiring dengan perlindungan sumber daya alam dan kepentingan masyarakat.
FAQ
Mengapa Malaysia menjadi pusat data AI di Asia Tenggara?
Karena memiliki biaya lahan yang kompetitif, dukungan pemerintah, lokasi strategis dekat Singapura, serta meningkatnya permintaan global terhadap infrastruktur AI.
Mengapa data center membutuhkan banyak listrik dan air?
Server AI bekerja tanpa henti dan menghasilkan panas tinggi sehingga memerlukan sistem pendingin yang mengonsumsi listrik dan air dalam jumlah besar.
Perusahaan apa saja yang berinvestasi di Malaysia?
Beberapa di antaranya adalah Amazon, Microsoft, Tencent, Alibaba, Equinix, NTT, ZDATA, dan Bridge Data Centres.
Apakah Indonesia juga berpotensi menjadi pusat data AI?
Ya. Dengan pasar digital yang besar dan pertumbuhan ekonomi digital yang cepat, Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan data center, terutama jika didukung pasokan energi yang andal dan regulasi yang jelas.
Referensi:
- International Energy Agency (2025) Energy and AI. Available at: https://www.iea.org/reports/energy-and-ai
- International Energy Agency (2024) Electricity 2024. Available at: https://www.iea.org/reports/electricity-2024
- Jones, N. (2018) ‘How to stop data centres from gobbling up the world’s electricity’, Nature, 561(7722), pp. 163–166.
