Daily-life.id — Apple Watch rangkum percakapan rapat kini bukan lagi fiksi ilmiah, namun fitur ini resmi diumumkan Apple
dan langsung memicu perdebatan serius di kalangan penyelenggara event dan meeting dunia.
Bayangin, kamu lagi ngobrol santai di sebuah konferensi, terus jam tangan di pergelangan tanganmu diam-diam udah
merangkum poin-poin penting obrolan itu tanpa kamu perlu catat apa-apa.
Canggih, tapi juga bikin banyak pihak was-was soal privasi dan aturan main di ruang rapat.
Dua Fitur Baru yang Bikin Geger: Siri Recap dan Live Rewind
Apple resmi memperkenalkan fitur kecerdasan audio baru di Apple Watch Series 12.
Fitur pertama, Siri Recap, bisa menghasilkan rangkuman percakapan tingkat tinggi yang lengkap dengan judul dan poin-poin kunci dan bisa dibuka lagi belakangan.
Menurut Apple, fitur ini dirancang supaya pengguna tetap fokus terlibat dalam obrolan tanpa harus sibuk mencatat.
Fitur kedua, Live Rewind, memungkinkan pengguna “memutar ulang” 15 detik percakapan terakhir dalam bentuk teks, cukup dengan menekan dua kali tombol Digital Crown di jam tangan.
Kedua fitur ini rencananya rilis versi beta akhir tahun ini.
Yang penting dicatat menurut Apple, Siri Recap tidak menghasilkan transkrip atau menyimpan rekaman audio,
tapi hanya rangkuman semacam catatan yang biasa dibuat seseorang setelah ngobrol.
Audio mentah yang dipakai memproses fitur ini bahkan diklaim tidak bisa diakses oleh Apple sendiri, aplikasi lain, maupun pengguna, dan langsung dihapus setelah diproses.
Fiturnya juga bersifat opt-in, dimana pengguna bisa atur kapan dan di mana fitur ini aktif, misalnya diaktifkan saat kerja
tapi dimatikan di malam hari.
Live Rewind juga dilengkapi pengaman: begitu fitur ini diaktifkan, jam akan berbunyi “ting” meski dalam mode silent,
disertai animasi dan indikator mikrofon di layar jam, supaya orang di sekitar tahu ada perekaman sesaat sedang berjalan.
Kedua fitur ini juga sama sekali tidak mengidentifikasi siapa yang berbicara.
Kenapa Ini Jadi Masalah Besar buat Penyelenggara Event?
Menurut Adam Parry, co-founder Event Tech Live, kehadiran AI di perangkat pribadi peserta event ini bukan berarti peran penyelenggara jadi hilang, tapi berubah total.
“Saya melihat AI pilihan peserta akan ‘ngobrol’ dengan AI milik penyelenggara,” kata Parry.
AI milik peserta tahu persis apa yang sedang mereka kerjakan, siapa yang ingin mereka temui, dan konten apa yang sudah mereka konsumsi.
Sementara sistem milik penyelenggara punya sesuatu yang tidak dimiliki asisten pribadi: pengetahuan soal agenda acara, daftar exhibitor, ribuan peserta lain, dan apa yang terjadi di seluruh acara secara real-time.
Kalau dua sistem ini digabungkan, hasilnya bisa berupa personalisasi lebih baik, matchmaking peserta, dan follow-up pasca-acara yang lebih efektif.
Tapi ada peringatan penting dari Parry, dimana penyelenggara yang tidak menyiapkan cara bagi AI peserta untuk “terhubung” ke sistem mereka akan berisiko kehilangan seluruh insight dan data itu,
yang semuanya justru mengalir ke acara-acara pesaing yang sudah lebih siap.
Kebijakan “Dilarang Merekam” Jadi Ketinggalan Zaman
Ini masalah teknis yang jarang dipikirkan banyak orang: banyak kebijakan event melarang perekaman secara eksplisit.
Tapi apa arti “merekam” ketika sebuah jam tangan “mendengarkan” cukup lama untuk membuat rangkuman berbasis AI
tanpa benar-benar menyimpan audio aslinya?
“Kalau ketentuan acara kamu bilang ‘dilarang merekam’, maka rangkuman AI yang dibuat di pergelangan tangan itu ya termasuk merekam, dan hampir semua ketentuan acara belum menyebutkan hal ini secara spesifik,” tegas Parry.
Isu ini jadi sangat relevan buat rapat-rapat yang membahas informasi rahasia atau bersifat kepemilikan, meeting eksekutif,
dewan penasihat pelanggan, pertemuan industri farmasi, peluncuran produk, sampai sesi strategi tertutup.
Dulu, melarang kamera atau perekaman cukup mudah ditegakkan.
Sekarang jadi rumit karena teknologi ini menempel di perangkat sehari-hari yang tidak mencolok sama sekali,
dan orang tidak perlu keluarkan HP, buka laptop, atau pakai kacamata pintar yang mencurigakan.
Siapa yang Memiliki “Catatan Resmi” Acara?
Pertanyaan menarik lainnya adalah, kalau peserta bisa bikin rangkuman sendiri pakai jam tangan atau HP,
kenapa penyelenggara masih perlu bayar buat menyediakan rangkuman resmi acara?
Menurut Parry, jawabannya soal kepercayaan, dan keduanya bukan produk yang sama.
Versi dari penyelenggara terhubung langsung ke sesi asli, pembicara, dan struktur persetujuan (consent) yang berlaku di acara itu. “Itu satu-satunya sumber kebenaran,” kata Parry.
“Versi penyelenggara terikat pada program, pembicara, dan persetujuan yang disepakati semua orang.” Rangkuman buatan AI pribadi peserta tetap bisa berguna, tapi bukan catatan resmi kejadian sebenarnya.
Parry juga percaya peserta sering beralih ke perangkat pribadi mereka karena penyelenggara belum menyediakan sesuatu yang lebih baik.
Kalau penyelenggara menawarkan transkrip profesional yang lengkap dengan teks berjalan dan terhubung ke sesi serta pembicara, kenapa ada orang yang mau angkat HP untuk merekam versi yang lebih buruk?
Fitur Terjemahan Otomatis Juga Merambah ke AirPods
Pengumuman Apple ini juga mencakup fitur lain yang relevan buat dunia meeting: AirPods 5 kini dilengkapi Live Translation, memungkinkan pengguna mendengar percakapan dalam bahasa pilihan mereka langsung lewat earphone.
Buat acara internasional, ini jadi sinyal lain bahwa kemampuan yang biasanya disediakan penyelenggara di level acara kini berpindah ke perangkat pribadi peserta.
Tapi Parry menolak gagasan bahwa penyelenggara harus berhenti menyediakan layanan terjemahan dan aksesibilitas.
“Kita harus membangun untuk orang-orang yang belum siap, bukan yang sudah siap,” katanya,
dan mengingat tidak semua peserta punya AirPods atau iPhone, dan sebagian peserta punya kebutuhan aksesibilitas yang jauh melampaui sekadar terjemahan bahasa.
Baca Juga:
- “Kacamata Bisa Atur Minus Sendiri?” Adjustable Glasses Mendadak Viral, Disebut Jadi Teknologi yang Bisa Ubah Industri Optik
- Meta Glasses di Ruang Meeting, Haruskah Dilarang? Ketika Kacamata Pintar Mulai Mengubah Aturan Privasi
- AI Necklace Mendadak Jadi Gadget Paling Trend, Kalung Pintar Ini Disebut Bisa Mengubah Cara Perempuan Menjalani Hidup Sehari-Hari
Apakah Aplikasi Event Bakal Punah?
Kemunculan AI personal ini juga memunculkan pertanyaan soal masa depan aplikasi event.
Menurut Parry, aplikasi ini tidak akan hilang, tetapi justru berubah jadi “sisi penyelenggara” dari percakapan antara dua sistem AI. “Aplikasi event tidak hilang. Ia jadi lapisan tepercaya yang tahu soal semua orang, bukan cuma kamu,” ujarnya.
Tanda-tanda pergeseran ini sudah mulai terlihat.
Parry mencontohkan agen AI percakapan yang dipakai perusahaan media Informa, adalah satu implementasinya berhasil menaikkan tingkat konversi website
sebuah acara dari 0,25 persen menjadi 2,7 persen, sementara acara Network X mencatat 58 persen lebih banyak trafik anonim website yang berlanjut ke pendaftaran.
Konsep “Paspor Agen AI” untuk Masa Depan Event
Parry saat ini terlibat dalam kelompok yang menyusun AI Agent Manifesto untuk industri event bersama perwakilan dari Clarion, Hyve, Emerald, CloserStill, dan ExpoPlatform.
Salah satu konsep yang sedang dikembangkan disebut “Agent Passport”, yaitu semacam identitas yang menjelaskan tujuan sebuah agen AI,
klasifikasi risikonya, izin akses, serta tingkat otonominya, mulai dari sekadar memberi informasi sampai merekomendasikan tindakan atau bertindak mandiri dalam batas tertentu.
Prinsip yang dipegang Parry cukup sederhana: “Peserta memiliki apa yang menyangkut diri mereka.
Penyelenggara memiliki apa yang menyangkut semua orang”, dan termasuk aksesibilitas, keamanan, persetujuan, dan catatan resmi acara.
Kenapa Ini Relevan buat Industri MICE Indonesia?
Perkembangan ini penting dicermati pelaku industri event dan meeting di Indonesia, mengingat sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) terus bertumbuh di Tanah Air.
Beberapa hal yang perlu mulai dipikirkan penyelenggara event lokal adalah dengan memperbarui kebijakan privasi dan larangan perekaman supaya mencakup rangkuman berbasis AI dari perangkat wearable,
bukan cuma kamera dan perekam suara konvensional, tetapi juga menyediakan layanan transkripsi dan terjemahan resmi yang cukup berkualitas
supaya peserta tidak perlu mengandalkan perangkat pribadi; serta mulai memikirkan bagaimana sistem AI milik peserta
bisa “berkomunikasi” dengan sistem AI milik penyelenggara demi pengalaman event yang lebih personal.
Seperti kata Parry di akhir: “AI seharusnya membuat ruangan jadi lebih baik, bukan menggantikan ruangan itu sendiri.”
Prinsip ini kemungkinan besar bakal jadi pegangan penting bagi industri event global, termasuk Indonesia, dalam menghadapi gelombang AI personal yang kian menempel di kehidupan sehari-hari peserta acara.
