Gen Z Balik Suka Majalah Cetak, Ini Alasan yang Bikin Nggak Nyangka

Gen Z balik suka majalah cetak

Daily-life.id — Di tengah dunia yang serba scroll dan serba digital, ada fenomena yang kedengarannya kontradiktif tapi beneran terjadi kalau Gen Z, generasi yang tumbuh dengan HP di tangan sejak kecil justru mulai jatuh cinta lagi sama majalah cetak. Bukan cuma beli dan baca doang, sebagian dari mereka bahkan mulai bikin dan jualan majalah sendiri. Aneh? Ternyata ada alasan yang cukup masuk akal di baliknya.

Majalah Remaja Baru yang Bikin Heboh

Salah satu bukti paling segar dari tren ini: majalah fashion dan budaya asal Amerika, “W”, baru aja meluncurkan sister title khusus buat pembaca remaja bernama “WYouth”.

Sampulnya menampilkan foto Justin Bieber dan Hailey Bieber yang mereka jepret sendiri pakai kamera film Contax, menghadirkan kesan yang sengaja dibikin mentah dan personal, bukan hasil studio foto profesional biasa. Majalah ini terbit dua kali setahun, dengan edisi pertama setebal 182 halaman.

The New York Times sampai turun tangan membahas fenomena ini, dan yang mereka soroti bukan cuma soal ada majalah baru yang terbit, tapi soal generasi yang tumbuh besar justru di saat media cetak sedang sekarat, kini malah menunjukkan ketertarikan baru pada kertas.

Karena Mereka Nggak Pernah Ngalamin Era Itu

Ini bagian paling menarik, karena nggak masuk akal kalau remaja sekarang kangen sama majalah era 90-an, karena mereka jelas nggak pernah hidup di masa itu.

Yang sebenarnya terjadi justru sebuah fenomena bernama “anemoia”, yaitu istilah yang diciptakan penulis John Koenig pada 2012, gabungan kata Yunani kuno “anemos” (angin) dan “noos” (pikiran/jiwa), yang artinya kurang lebih: rasa rindu pada masa yang bahkan belum pernah kita alami sendiri.

Gen Z ingin merasakan sesuatu yang selama ini absen dari hidup mereka: kelambatan, momen menunggu, dan ketidaksempurnaan dari zaman sebelum smartphone ada di mana-mana. Majalah cetak, dengan segala keterbatasannya (nggak bisa di-scroll cepat, nggak ada notifikasi, nggak ada algoritma), justru memenuhi kerinduan itu dengan cara paling sederhana.

Kenapa Dunia Digital Justru Bikin Mereka Kangen Kertas?

Menurut riset dari beberapa lembaga marketing, konsumen Gen Z di kawasan Asia Pasifik makin haus akan keaslian (authenticity).

Dibanding feed Instagram yang serba dikurasi dan konten berbasis algoritma, majalah atau zine yang dirancang dengan hati-hati justru terasa lebih genuine. Hal ini jadi sesuatu yang bisa dipegang secara fisik, bukan cuma piksel yang lewat begitu saja di layar.

Tren ini bahkan melahirkan fenomena baru, dimana layanan langganan surat “snail-mail”, di mana kreator Gen Z secara rutin mendesain, mencetak, dan mengirim karya seni atau zine ke ribuan pelanggan setiap bulan lewat pos, yang masing-masing dibuat dengan tangan dan orisinal, menawarkan pengalaman estetik yang terasa personal dengan cara yang jarang bisa ditawarkan konten digital.

Baca Juga:

Banyak yang Ikut Jadi Pembuatnya

Yang bikin fenomena ini makin unik adalah, Gen Z nggak cuma jadi pembeli majalah dari newsstand, tapi juga aktif ikut memproduksinya sendiri.

Video tutorial cara bikin zine DIY di rumah sudah ditonton lebih dari satu juta kali di berbagai platform. Bahkan ada event khusus bernama Mag To Mag di Milan yang menghadirkan lebih dari 80 penerbit independen dari seluruh dunia buat memamerkan karya mereka.

Contoh paling ekstrem datang dari dua remaja Amerika, Ellis Rattray dan Billy Stern, yang di usia 15 tahun memutuskan terjun ke bisnis media cetak, yaitu industri yang berkali-kali diramalkan bakal punah.

Mereka mendirikan koran lokal sendiri, menghubungi percetakan buat hitung biaya produksi, dan menjual iklan langsung ke restoran, agen properti, sampai toko surf lokal.

Dan yang bikin kaget, bisnis mereka ternyata benar-benar profit tanpa disokong dana orang tua sama sekali.

Brand-Brand Besar Pun Ikut Terjun

Fenomena ini nggak cuma soal media independen kecil-kecilan. Majalah ikonik yang sempat mati suri juga mulai comeback.

i-D Magazine kembali ke rak koran, begitu juga Nylon Magazine yang kembali mencetak edisi baru. Bahkan brand fashion mewah kelas dunia seperti Chanel, Dior, dan Armani ikut meluncurkan majalah mereka sendiri sebagai platform storytelling dan ekspresi kreatif — memanfaatkan momentum kecintaan baru terhadap media cetak ini.

Uniqlo juga jadi contoh menarik lewat majalah “LifeWear” mereka, yang menurut Head of Communications mereka, Michael Zakrzewski, dirancang buat menyampaikan filosofi brand, dan bukan sekadar soal pakaian, tapi soal apparel yang bikin hidup sehari-hari lebih mudah. Strategi Uniqlo ini jadi contoh pendekatan omnichannel cerdas: manfaatkan TikTok buat viralitas instan, tapi pakai media cetak buat membangun koneksi emosional yang lebih dalam dan loyalitas jangka panjang.

Kenapa Ini Layak Diperhatikan Pelaku Bisnis dan Kreator Indonesia?

Fenomena kebangkitan media cetak di kalangan Gen Z ini bukan cuma tren gaya hidup semata, tapi juga peluang bisnis nyata yang belum banyak digarap di Indonesia.

Buat brand lokal, ini bisa jadi inspirasi strategi omnichannel serupa Uniqlo.

Gabungkan viralitas digital dengan sentuhan fisik yang lebih personal dan berkesan. Buat kreator muda Indonesia yang jago menulis atau desain,

tren zine dan majalah independen ini juga membuka jalur kreatif dan bisnis baru yang selama ini kurang dilirik, di tengah dominasi konten digital yang serba cepat dan mudah terlupakan.

Pada akhirnya, kebangkitan media cetak di kalangan Gen Z ini menyampaikan pesan sederhana: di dunia yang makin serba instan dan algoritmik, ada nilai tersendiri dari sesuatu yang lambat, sengaja dibuat dengan detail, dan bisa dipegang secara nyata — sesuatu yang ternyata tetap dicari, bahkan oleh generasi yang paling “digital native” sekalipun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *