Daily-life.id — Daftar pengguna AI di negara ASEAN ternyata nggak sesederhana “siapa yang paling banyak pakai ChatGPT”. Setiap negara punya pola pemanfaatan yang beda, didorong oleh kekuatan ekonomi, kesiapan infrastruktur, dan kebutuhan industri masing-masing.
Berdasarkan data dari beberapa lembaga riset, yaitu: Business Times & Kantar, ILO, OECD, hingga survei nasional masing-masing negara,
berikut urutan dan gambaran lengkapnya, disusun berdasarkan kombinasi tingkat adopsi bisnis, keterpaparan tenaga kerja terhadap AI generatif, dan investasi infrastruktur.
1. Indonesia — Juara Adopsi Bisnis, Andalan Belanja Online
Indonesia justru jadi pemimpin di kategori yang paling menentukan untuk jangka panjang: kecepatan bisnis mengadopsi AI.
Survei Business Times bersama Kantar terhadap lebih dari 500 pemimpin bisnis di ASEAN-6 pada Februari 2026 menempatkan Indonesia di posisi teratas,
dengan 62 persen perusahaan masuk kategori First Movers, yaitu yang proaktif berinvestasi di berbagai kapabilitas AI karena merasakan tekanan kuat untuk bertransformasi.
Angka ini bahkan mengalahkan Singapura yang justru lebih berhati-hati (36 persen First Movers) karena standar tata kelola dan kepatuhan yang ketat di sektor finansial mereka.
Kegunaan utamanya di Indonesia cukup beragam: mulai dari asisten produktivitas harian, alat bantu belajar, hingga riset belanja online. S
urvei E-commerce Influencer and Affiliate Marketing in Southeast Asia 2026 mencatat 31 persen konsumen Indonesia sudah memakai AI generatif
untuk mencari informasi dan membandingkan produk sebelum membeli, angka tertinggi kedua di kawasan setelah Vietnam.
2. Singapura — Paling Siap Infrastruktur, Paling Besar Dampak ke Tenaga Kerja
Kalau bicara soal kesiapan menyeluruh, dimana regulasi jelas, investasi besar, talenta berkualitas, infrastruktur digital kelas dunia, Singapura masih memegang posisi teratas di Asia Tenggara.
Pemerintahnya mengalokasikan dana SGD 1 miliar (sekitar Rp 11,1 triliun) untuk memperkuat kapabilitas AI nasional dalam lima tahun ke depan,
dan bahkan sudah punya model bahasa besar (LLM) buatan sendiri untuk kawasan ASEAN bernama SEA-LION, dikembangkan oleh AI Singapore.
Yang menarik, laporan ILO mencatat Singapura punya tingkat keterpaparan tenaga kerja terhadap AI generatif tertinggi
di ASEAN, yakni 42,2 persen dari total pekerjaan, yang jauh di atas negara lain.
Ini masuk akal mengingat struktur ekonomi Singapura yang didominasi sektor jasa keuangan, konsultasi, dan pekerjaan kerah putih yang paling rentan terhadap otomatisasi berbasis AI.
3. Malaysia — Ditopang Data Center dan Semikonduktor
Malaysia menunjukkan kemajuan signifikan lewat jalur yang berbeda: investasi infrastruktur skala besar.
IMF secara khusus menyoroti Malaysia sebagai salah satu negara yang paling diuntungkan dari meningkatnya aktivitas pembangunan pusat data dan menguatnya siklus teknologi global.
Kombinasi investasi data center, industri semikonduktor, dan strategi AI nasional yang agresif menjadikan Malaysia sebagai basis infrastruktur AI kawasan, meski dari sisi adopsi bisnis sehari-hari belum secepat Indonesia.
Baca Juga:
- Digital Detox: Bisa Nggak Hidup Tanpa Sosmed Seminggu?
- Relevansi Pendidikan Formal di Era AI: Sekolah Ketinggalan Zaman, atau Kita yang Salah Paham Fungsinya?
- Cara Belajar AI untuk Usia 45 Tahun ke Atas: Panduan Mudah Menguasai Teknologi Tanpa Harus Bisa Coding
4. Vietnam — Raja E-commerce Berbasis AI dan Talenta Software
Vietnam mencatat rekor menarik: 34 persen konsumennya sudah memakai AI generatif untuk riset belanja online, angka tertinggi di seluruh ASEAN.
Di luar itu, Vietnam juga tengah menikmati lonjakan ekspor teknologi yang mendorong revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonominya, didukung industri perangkat lunak dan talenta teknologi yang berkembang pesat.
Tantangan utama Vietnam justru bukan soal biaya seperti negara lain, melainkan sistem warisan (legacy infrastructure) yang masih perlu banyak modernisasi untuk mendukung adopsi AI skala penuh.
5. Thailand — Fokus ke Industri, Kesehatan, dan Pariwisata
Thailand memperkuat pemanfaatan AI secara lebih terarah ke sektor-sektor strategis nasionalnya: industri manufaktur, layanan kesehatan, dan pariwisata.
Tiga pilar utama ekonomi Thailand. IMF turut mencatat Thailand diuntungkan oleh ekspor teknologi dan investasi yang terus mengalir ke sektor terkait AI,
menjadikannya negara dengan pendekatan adopsi yang lebih terfokus dibanding tersebar ke banyak sektor sekaligus.
6. Filipina — Keterpaparan Tinggi di Sektor Jasa dan BPO
Filipina mencatat tingkat keterpaparan tenaga kerja terhadap AI generatif tertinggi kedua di ASEAN menurut ILO, yakni 28,1 persen.
Ini erat kaitannya dengan struktur ekonomi Filipina yang sangat bergantung pada industri Business Process Outsourcing (BPO) dan layanan pelanggan,
dimana sektor yang secara global memang paling cepat terdisrupsi oleh AI generatif untuk tugas-tugas seperti customer service dan dukungan administratif.
Satu Hal yang Sama di Semua Negara
Terlepas dari perbedaan pendekatan, laporan ILO memperkirakan hampir 80 juta pekerja di seluruh ASEAN berpotensi terdampak AI generatif.
Namun para peneliti menegaskan dampaknya terhadap pasar kerja masih terkendali untuk saat ini, karena penggunaan teknologi ini secara masif masih di tahap awal
dan lebih terkonsentrasi di sektor-sektor intensif teknologi, sementara penerapannya di tugas administratif dan perkantoran umum masih relatif terbatas.
Saran Khusus untuk Indonesia
Data di atas sebenarnya menyimpan sinyal peringatan yang perlu diperhatikan serius oleh Indonesia, bukan cuma dirayakan sebagai prestasi:
Pertama, tutup kesenjangan antara antusiasme bisnis dan literasi masyarakat luas.
Survei APJII 2026 menemukan bahwa dari seluruh pengguna internet Indonesia, baru 18,2 persen yang benar-benar pernah memakai AI, dan sisanya, 81,8 persen, belum pernah sama sekali.
Bandingkan dengan klaim adopsi bisnis 62 persen First Movers: ini menunjukkan gap besar antara perusahaan yang buru-buru mengadopsi AI dengan kesiapan tenaga kerja dan masyarakat umum untuk benar-benar memanfaatkannya.
Prioritas literasi digital harus diarahkan lebih luas dari sekadar Gen Z urban, yang saat ini mendominasi penggunaan AI dengan 29,4 persen — jauh di atas Milenial (16,7 persen), apalagi Gen X dan generasi lebih tua.
Kedua, benahi tata kelola sebelum buru-buru scaling.
Laporan Akkodis mencatat tingkat kepercayaan diri para CTO Indonesia dalam menskalakan AI justru anjlok dari 82 persen pada 2024 menjadi hanya 48 persen pada 2026.
Bukan karena teknologinya kurang canggih, tapi karena rumitnya integrasi ke sistem warisan, tata kelola data, isu hak cipta, dan kepatuhan regulasi lokal.
Ini pekerjaan rumah yang harus dibereskan lebih dulu, bukan dilompati demi kejar status “pemimpin regional”.
Ketiga, manfaatkan keunggulan e-commerce sebagai pintu masuk ke sektor lain.
Indonesia sudah unggul di adopsi AI untuk riset belanja online (31 persen).
Momentum ini bisa diperluas ke sektor lain yang belum tergarap maksimal, seperti: logistik, layanan kesehatan, dan pertanian, yang mengikuti
cara Thailand mengarahkan adopsi AI-nya secara lebih terfokus ke sektor strategis nasional, alih-alih tersebar tanpa arah jelas.
Keempat, pertimbangkan investasi model bahasa lokal seperti langkah Singapura.
SEA-LION buatan Singapura menunjukkan pentingnya kedaulatan AI berbasis konteks dan bahasa lokal, bukan cuma bergantung pada model global.
Inisiatif seperti Sahabat AI sudah jadi langkah awal yang baik, tapi butuh investasi berkelanjutan dan dukungan kebijakan yang konsisten,
bukan proyek sesaat, supaya Indonesia tidak sekadar jadi pasar konsumen AI terbesar tapi juga pemain yang membangun infrastrukturnya sendiri.
Singkatnya, Indonesia punya modal besar untuk memimpin AI di ASEAN, yaitu pasar terbesar ekonomi digital paling dinamis, dan semangat adopsi bisnis yang tinggi.
Tapi kepemimpinan yang berkelanjutan cuma bisa dicapai kalau fondasi literasi, tata kelola,
dan infrastrukturnya juga dibangun sekuat semangat adopsinya, bukan cuma unggul di angka survei bisnis, tapi juga di kesiapan riil masyarakat dan sistemnya.
