Relevansi Pendidikan Formal di Era AI: Sekolah Ketinggalan Zaman, atau Kita yang Salah Paham Fungsinya?

relevansi pendidikan formal di era AI

Daily-life.id — Relevansi pendidikan formal di era AI jadi salah satu perdebatan paling panas belakangan ini, dan bukan tanpa alasan.

Ketika anak SMA bisa dapat jawaban soal fisika dalam tiga detik dari chatbot, sementara gurunya butuh 15 menit menjelaskan konsep yang sama di depan kelas,

wajar kalau muncul pertanyaan yang cukup menohok: buat apa sekolah, kalau AI bisa mengajarkan apa saja, kapan saja, tanpa perlu bangun pagi dan pakai seragam?

Pertanyaan ini bukan cuma keluhan anak sekolah yang malas belajar. Ini pertanyaan serius yang bahkan sedang dijawab langsung oleh pemerintah lewat kebijakan konkret. Mari kita bedah satu per satu, jujur dan tanpa berputar-putar.

Apakah Sekolah Formal Benar-Benar Tertinggal dari AI?

Jawaban jujurnya: iya. Untuk satu fungsi spesifik, tapi tidak untuk fungsi yang sebenarnya paling penting.

Kalau fungsi sekolah yang kita maksud adalah “tempat transfer informasi”, maka argumen bahwa sekolah tertinggal jauh dari AI itu valid dan sulit dibantah.

AI generatif bisa menjelaskan konsep apa pun, dengan kecepatan dan personalisasi yang jauh melampaui kemampuan satu guru menghadapi 30-40 murid sekaligus.

Survei Asosiasi Pendidik Indonesia (API) di awal 2026 bahkan menemukan bahwa 85 persen kepala sekolah sendiri mengakui tantangan terbesar mereka adalah

memberikan pembelajaran yang personal untuk tiap siswa, di tengah keterbatasan waktu dan sumber daya guru.

Ini pengakuan langsung dari dalam sistem pendidikan sendiri: soal personalisasi dan kecepatan transfer informasi, sekolah konvensional memang kalah telak dari AI.

Tapi di sinilah letak kesalahan berpikir yang paling umum terjadi: menyamakan “sekolah” dengan “tempat cari informasi”.

Padahal, kalau itu satu-satunya fungsi sekolah, perpustakaan dan Google seharusnya sudah menggantikan sekolah sejak dua dekade lalu, dan nyatanya tidak.

Kenapa Banyak Orang Merasa Malas Sekolah karena Ada AI?

Ini keresahan yang jujur dan masuk akal, dan penting untuk tidak diremehkan.

Kalau motivasi utama seseorang pergi ke sekolah adalah “biar tahu jawabannya”, maka begitu ada alat yang bisa kasih jawaban lebih cepat, lebih sabar,

dan tanpa menghakimi kalau kita bertanya hal “bodoh” berulang kali, motivasi itu otomatis runtuh.

Ini bukan soal siswa jadi malas karena manja, ini soal insentif dasarnya yang berubah total.

Masalahnya, keresahan ini sebenarnya menyingkap masalah yang sudah lama ada di sistem pendidikan kita, bukan masalah baru yang diciptakan AI.

Sebuah tulisan opini akademik yang membahas relevansi pendidikan tinggi di era AI menyimpulkan dengan tajam: masalah sebenarnya bukan soal relevansi institusi pendidikan,

melainkan cara lama mengajar yang masih dominan, model satu arah dan hafalan, yang memang selama ini kurang

mencerminkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan menghadapi dunia nyata.

AI cuma mempercepat proses pembongkaran kelemahan yang sebenarnya sudah lama ada, bukan menciptakan kelemahan baru.

Baca Juga:

Kalau Sekolah “Tertinggal” Soal Transfer Informasi, Lalu Apa Fungsinya?

Ini pertanyaan intinya, dan di sinilah daily-life.id mau kasih pandangan yang jelas: fungsi sekolah yang paling penting justru sesuatu yang AI, seberapa pun canggihnya, secara struktural tidak bisa gantikan.

Ada empat hal spesifik:

Pertama, akuntabilitas dan struktur belajar yang konsisten.

Belajar sendiri lewat AI kedengarannya ideal secara teori, tapi kenyataannya, motivasi diri (self-discipline) adalah

sumber daya yang langka dan tidak merata dimiliki semua orang,

apalagi anak-anak dan remaja yang secara perkembangan otaknya memang belum matang untuk regulasi diri jangka panjang.

Sekolah menyediakan struktur eksternal: jadwal, deadline, konsekuensi, yang memaksa proses belajar tetap berjalan bahkan

di hari-hari ketika motivasi internal sedang nol.

Belajar mandiri lewat AI tanpa struktur ini gampang berubah jadi “belajar kalau lagi mood”, yang dalam praktiknya

sering berarti tidak belajar sama sekali.

Kedua, sosialisasi dan pembentukan karakter yang tidak bisa disimulasikan layar.

Seperti yang ditegaskan dalam kajian soal relevansi pendidikan tinggi tadi: AI memang cerdas, tapi tidak bijak.

Ia bisa menjawab pertanyaan, menganalisis data, bahkan menulis esai, tapi tidak bisa menanamkan empati,

etika, atau kesabaran, karena hal-hal ini cuma bisa dilatih lewat

interaksi nyata dengan manusia lain: berkonflik dengan teman sekelas dan belajar menyelesaikannya, gagal di depan

orang lain dan belajar bangkit, bekerja dalam kelompok dengan orang yang tidak kita sukai.

Ini pengalaman sosial yang tidak bisa direplikasi lewat percakapan satu-lawan-satu dengan chatbot, sepintar apa pun chatbot itu.

Ketiga, fungsi pemerataan akses dan mobilitas sosial.

Ini poin yang sering dilupakan kalangan urban yang punya akses internet cepat dan gawai memadai.

Di Indonesia, sekolah — terutama sekolah negeri, masih jadi salah satu jalur pemerataan akses pendidikan paling penting

bagi anak-anak dari keluarga tanpa akses internet stabil,

gawai pribadi, atau orang tua yang paham cara memandu anak belajar mandiri lewat AI.

Menyerahkan pendidikan sepenuhnya ke AI berisiko memperlebar kesenjangan yang sudah ada dan bukan menutupnya,

karena akses ke AI berkualitas juga tidak merata.

Keempat, validasi dan sertifikasi yang diakui secara sosial dan institusional.

Suka atau tidak, ijazah dan gelar formal masih menjadi bahasa umum yang dipahami dunia kerja dan masyarakat untuk memverifikasi kompetensi seseorang.

Sampai ada sistem alternatif yang diterima secara luas untuk memvalidasi hasil belajar mandiri lewat AI, sekolah dan

institusi pendidikan formal tetap memegang fungsi “penjamin mutu” yang diakui secara sosial.

Pemerintah Indonesia Sudah Bergerak, Bukan Diam Saja

Menariknya, ini bukan cuma perdebatan filosofis di ruang diskusi.

Pemerintah Indonesia sudah merespons secara konkret.

Pada 12 Maret 2026, tujuh kementerian menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB 7 Menteri) tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital

dan Kecerdasan Artifisial pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Kebijakan ini secara eksplisit tidak melarang penggunaan AI oleh siswa, tapi memberikan koridor etis dan fungsional

supaya AI jadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis manusia.

Selaras dengan itu, mulai tahun ajaran 2025/2026, coding dan AI resmi jadi mata pelajaran pilihan mulai dari jenjang

SD kelas 5, SMP, hingga SMA, dan bertahap dimulai dari sekolah yang dinilai siap.

Ini menunjukkan arah kebijakan yang jelas: bukan menyingkirkan AI dari sekolah, dan bukan pula membiarkan AI

menggantikan sekolah, tapi mengintegrasikan keduanya secara sadar dan terstruktur.

Jadi, Kalau Tetap Harus Sekolah, Apa Sebenarnya Tujuannya?

Ini jawaban paling jujur yang bisa daily-life.id tawarkan: tujuan sekolah di era AI bukan lagi “supaya tahu banyak hal”,

karena untuk urusan itu, AI memang lebih unggul dan kita perlu berbesar hati mengakuinya.

Tujuan sekolah yang sebenarnya, dan makin krusial justru karena keberadaan AI, adalah:

  • Melatih cara berpikir, bukan cuma menyimpan informasi. Kemampuan mengevaluasi kebenaran suatu klaim, membedakan argumen yang kuat dari yang lemah, dan menyusun penalaran sendiri. Bukan sekadar menerima jawaban dari AI secara mentah-mentah.
  • Membentuk manusia yang bisa hidup berdampingan dengan manusia lain, lewat pengalaman sosial nyata yang penuh gesekan, bukan simulasi digital yang selalu nyaman dan bisa “ditutup aplikasinya” kapan saja.
  • Memberi struktur dan akuntabilitas yang membuat proses belajar tetap berjalan konsisten, bukan bergantung sepenuhnya pada mood dan motivasi harian yang naik-turun.
  • Menjamin pemerataan akses, supaya pendidikan berkualitas tidak cuma jadi privilese anak-anak yang kebetulan punya gawai bagus dan orang tua melek teknologi.

Bukan AI vs Sekolah, Tapi Cara Lama vs Cara Baru

Pandangan daily-life.id soal ini cukup tegas: pendidikan formal tidak sedang “ketinggalan zaman” dalam artian kehilangan alasan untuk eksis,

tapi metode pengajarannya yang masih banyak bertumpu pada hafalan dan transfer informasi satu arah memang sudah usang, dan AI cuma mempercepat proses membongkar kelemahan itu ke permukaan.

Sekolah yang cuma jadi “tempat baca buku sambil ada gurunya” memang layak dipertanyakan relevansinya.

Tapi sekolah yang benar-benar menjalankan fungsi pembentukan karakter, cara berpikir kritis, sosialisasi, dan pemerataan akses, itu fungsi yang justru makin dibutuhkan, bukan makin usang, di tengah dunia yang dibanjiri jawaban instan dari AI.

Pertanyaan yang lebih tepat bukan “apakah sekolah masih relevan di era AI”, tapi “apakah cara kita menjalankan sekolah sudah cukup berani berubah untuk tetap relevan di era AI”.

Dan jawaban untuk pertanyaan kedua ini, jujur saja, masih jadi pekerjaan rumah besar, bukan cuma untuk siswa yang dianggap malas, tapi juga untuk sistem pendidikan dan para pembuat kebijakan itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *