Bukan Hotel atau Maskapai! Inilah Bisnis Baru yang Diprediksi Menguasai Industri Pariwisata Dunia Setelah Piala Dunia 2026

Suporter dari berbagai negara menghadiri Piala Dunia 2026 sebagai bagian dari tren live tourism global.

Daily-Life.id – Selama bertahun-tahun, industri pariwisata identik dengan hotel, maskapai penerbangan, dan agen perjalanan. Namun, tren live tourism dunia setelah Piala Dunia 2026 menunjukkan arah yang berbeda. Kini, orang tidak lagi bepergian karena sekadar ingin berlibur, melainkan karena ada pengalaman yang tidak ingin mereka lewatkan.

Final Piala Dunia FIFA 2026 menjadi contoh nyata. Jutaan penggemar dari berbagai negara rela membeli tiket pertandingan, memesan hotel jauh-jauh hari, hingga memperpanjang masa tinggal mereka demi menikmati atmosfer kota tuan rumah. Nilai ekonominya tidak hanya berasal dari pertandingan, tetapi juga dari konser, aktivitas penggemar, kuliner, dan berbagai acara pendukung yang berlangsung selama turnamen.

Fenomena inilah yang oleh banyak analis disebut sebagai live tourism—perjalanan yang dipicu oleh sebuah acara atau pengalaman langsung, bukan sekadar destinasi.

Apa Itu Live Tourism?

Live tourism adalah perjalanan yang didorong oleh keinginan menghadiri suatu acara, seperti:

  • Piala Dunia FIFA
  • Olimpiade
  • konser musik internasional
  • festival budaya
  • pameran seni
  • konferensi bisnis
  • turnamen e-sports

Dalam model ini, tujuan utama wisatawan bukanlah kota yang dikunjungi, melainkan pengalaman yang hanya terjadi pada waktu tertentu.

Mengapa Live Tourism Diprediksi Menjadi Masa Depan Industri Pariwisata?

Berbeda dengan wisata konvensional, live tourism menciptakan permintaan baru.

Alih-alih menjual kamar hotel atau tiket pesawat, penyelenggara acara menciptakan alasan bagi jutaan orang untuk melakukan perjalanan. Setelah keputusan itu dibuat, barulah sektor transportasi, akomodasi, restoran, hingga ritel memperoleh manfaat ekonomi.

Model ini membuat nilai ekonomi sebuah acara jauh lebih besar daripada sekadar penjualan tiket.

Piala Dunia 2026 Menjadi Contoh Terbesar

Turnamen Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi salah satu contoh paling nyata dari kekuatan live tourism.

Selama lebih dari satu bulan, jutaan penggemar bergerak dari satu kota ke kota lain untuk menyaksikan pertandingan, mengikuti festival penggemar, menikmati konser, dan mengunjungi destinasi wisata setempat.

Dampaknya terasa pada tingkat hunian hotel, penggunaan transportasi, konsumsi makanan dan minuman, hingga penjualan produk resmi.

Bukan Lagi Menjual Perjalanan, tetapi Menjual Pengalaman

Perubahan terbesar dalam tren live tourism dunia setelah Piala Dunia 2026 adalah bergesernya fokus industri.

Wisatawan modern tidak lagi hanya mencari tempat menginap.

Mereka mencari pengalaman yang eksklusif, terbatas, dapat dibagikan di media sosial, dan memberikan kenangan yang sulit diulang.

Karena itu, konser, pertandingan olahraga, dan festival budaya kini menjadi pemicu utama perjalanan.

Baca Juga:

Mengapa Generasi Muda Menyukai Live Tourism?

Laporan berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa generasi muda lebih banyak mengalokasikan pengeluaran untuk pengalaman dibandingkan barang.

Menghadiri konser artis favorit atau menyaksikan final Piala Dunia secara langsung dianggap memiliki nilai emosional yang lebih tinggi daripada membeli produk mewah.

Perubahan perilaku ini mendorong pertumbuhan industri live tourism di berbagai negara.

Peluang Besar untuk Indonesia

Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan live tourism melalui festival musik, ajang olahraga internasional, pemeran kreatif, event kuliner, serta budaya dan pariwisata lokal.

Jika dikemas secara konsisten, acara-acara tersebut dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara sekaligus meningkatkan ekonomi daerah.

Lebih dari Sekadar Liburan

Live tourism menunjukkan bahwa masa depan pariwisata tidak hanya bergantung pada destinasi, tetapi juga pada kemampuan menciptakan alasan yang kuat bagi orang untuk datang.

Semakin unik pengalaman yang ditawarkan, semakin besar peluang sebuah kota menjadi tujuan wisata global.

Tren live tourism dunia setelah Piala Dunia 2026 memperlihatkan perubahan besar dalam cara masyarakat bepergian.

Bukan lagi hotel atau maskapai yang menjadi titik awal perjalanan, melainkan acara yang mampu membangkitkan antusiasme jutaan orang. Bagi industri pariwisata, perubahan ini membuka peluang baru untuk menciptakan pengalaman yang lebih bernilai, memperpanjang lama tinggal wisatawan, dan meningkatkan dampak ekonomi bagi destinasi.

FAQ

Apa itu live tourism?
Live tourism adalah perjalanan yang dilakukan untuk menghadiri acara tertentu, seperti pertandingan olahraga, konser, festival, atau konferensi.

Mengapa Piala Dunia 2026 dianggap contoh live tourism?
Karena jutaan orang melakukan perjalanan bukan hanya untuk mengunjungi kota tuan rumah, tetapi terutama untuk menyaksikan pertandingan dan berbagai acara pendukung.

Apa manfaat live tourism bagi ekonomi?
Live tourism meningkatkan permintaan terhadap hotel, transportasi, restoran, belanja, hiburan, dan berbagai sektor pendukung lainnya.

Apakah Indonesia bisa mengembangkan live tourism?
Ya. Dengan kekayaan budaya, musik, olahraga, dan destinasi wisata, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat live tourism di Asia Tenggara.

Referensi:

  • World Tourism Organization (UN Tourism) (2024) Tourism and Events: Driving Sustainable Growth. Available at: https://www.unwto.org
  • World Travel & Tourism Council (WTTC) (2024) Economic Impact Research. Available at: https://wttc.org
  • Getz, D. (2008) Event Tourism: Definition, Evolution, and Research. Tourism Management, 29(3), pp. 403–428.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *