Vasektomi Jadi Sorotan Usai Suami Siti Badriah Lakukan Prosedur Ini, Ini Fakta Lengkapnya

vasektomi

Daily-life.id — Vasektomi mendadak jadi topik hangat lagi setelah Krisjiana Baharudin, suami penyanyi Siti Badriah, mengumumkan dirinya menjalani prosedur ini pada 17 September 2026.

Tapi di balik heboh kabar selebriti ini, vasektomi sebenarnya punya sejarah panjang dan sains yang jauh lebih menarik dari sekadar gosip,

sekaligus jadi topik yang sampai sekarang masih dianggap tabu di Indonesia meski sudah ada sejak 1970-an.

Yuk kita bedah tuntas.

Bukan Krisjiana Doang, Ini Deretan Artis Indonesia yang Pernah Vasektomi

Krisjiana mengambil keputusan ini setelah dirinya dan Siti Badriah merasa cukup dengan dua anak.

Lewat unggahan di akun Instagram-nya, ia menegaskan alasan di balik keputusannya: “Vasektomi itu bukan tentang siapa yang lebih banyak berkorban, bukan tentang kehilangan kejantanan juga. Ini tentang tanggung jawab.”

Ternyata, Krisjiana bukan satu-satunya figur publik Tanah Air yang terbuka soal ini. Beberapa nama lain yang juga pernah mengungkap keputusan serupa:

  • Limbad — pesulap kondang ini menjalani vasektomi sejak 2012, setelah diminta istri pertamanya, Susi, untuk menghilangkan keraguan soal kehamilan istri sirinya, Benazir
  • Anji — mantan vokalis Drive ini memutuskan vasektomi usai bercerai dari Wina Natalia, dipicu permintaan sang anak, Saga, yang minta ayahnya nggak punya anak lagi selain dirinya dan sang adik berkebutuhan khusus, Sigra
  • Giring Nidji — mengambil keputusan sama pada 2012 setelah kelahiran anak keempatnya, dengan alasan tak ingin anak-anaknya kekurangan kasih sayang orang tua

Sebenarnya, Apa Itu Vasektomi?

Menurut Kementerian Kesehatan RI, vasektomi atau Metode Operasi Pria (MOP) adalah metode kontrasepsi dengan tindakan pada saluran sperma (vas deferens),

bertujuan menghalangi transportasi sperma sehingga tidak lagi bercampur dengan cairan semen saat ejakulasi.

Ini bagian yang paling sering disalahpahami, dimana vasektomi sama sekali berbeda dari kebiri.

Prosedur ini tidak mengangkat testis, tidak memengaruhi hormon, gairah seksual, maupun kemampuan ereksi, dan cairan ejakulasi tetap keluar seperti biasa, cuma tanpa kandungan sperma di dalamnya.

Materi edukasi resmi dari BKKBN secara tegas meluruskan mitos ini, karena kekhawatiran soal “kehilangan kejantanan” jadi salah satu penghambat terbesar pria mempertimbangkan opsi ini.

Yang penting dicatat, bahwa vasektomi harus dipandang sebagai kontrasepsi permanen, karena meski secara teknis bisa disambung kembali lewat operasi, keberhasilan pemulihan kesuburan tidak terjamin.

Efeknya pun tidak instan, dan pasangan tetap perlu metode kontrasepsi lain sampai pemeriksaan air mani mengonfirmasi prosedurnya benar-benar berhasil.

Sejarah Vasektomi Ternyata Jauh Lebih Gelap dari yang Dikira

Ini fakta yang jarang diketahui banyak orang. Vasektomi awalnya sama sekali tidak dimaksudkan sebagai kontrasepsi.

Salah satu eksperimen paling awal dilakukan ahli bedah Inggris, Astley Cooper, pada awal abad ke-19 pada anjing, bukan manusia.

Ia menemukan bahwa produksi sperma tetap berlangsung meski saluran keluarnya diputus.

Menjelang akhir abad ke-19, dokter mulai mencoba vasektomi pada manusia untuk mengobati pembesaran prostat.

Dokter Reginald Harrison bahkan melaporkan lebih dari 100 tindakan sepanjang 1893-1900 tapi hasilnya tidak konsisten,

sehingga pendekatan ini akhirnya ditinggalkan sebagai terapi prostat.

Bagian paling kelam dari sejarahnya: pada awal 1900-an, vasektomi sempat digunakan dalam gerakan eugenika di Amerika Serikat,

yaitu upaya mengendalikan siapa yang “boleh” punya keturunan berdasarkan anggapan diskriminatif terhadap kelompok tertentu.

Sejumlah orang bahkan disterilkan tanpa persetujuan sah sama sekali. Baru secara bertahap, seiring berkembangnya layanan keluarga berencana, vasektomi bergeser jadi pilihan kontrasepsi sukarela seperti yang kita kenal sekarang.

Teknik yang dipakai saat ini pun sudah jauh lebih modern.

Pada 1974, teknik no-scalpel vasectomy (tanpa pisau bedah) mulai dikembangkan di China, dengan memakai bukaan kecil di kulit kantong testis dengan alat khusus, dan umumnya cukup dengan bius lokal saja.

Baca Juga:

Sudah Ada di Indonesia Sejak 1970-an, Tapi Masih di Bawah 1 Persen

Menurut riset yang dimuat Journal of Health Research (2015), penggunaan vasektomi di Indonesia sudah berjalan sejak 1970-an, tapi tingkat penggunaannya konsisten berada di bawah 1 persen dari 1970-an hingga 2012.

Angka yang sangat kecil untuk metode yang sebenarnya sudah dikenal selama lebih dari lima dekade.

Kenapa Masih Dianggap Tabu Sampai Sekarang?

Studi yang dimuat BMC Women’s Health pada 2023, menggabungkan analisis data 8.380 pasangan dari Survei Demografi

dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 dengan diskusi kelompok, menemukan beberapa hambatan yang saling berkaitan:

1. KB dianggap “tugas perempuan”. Penyuluhan dan perhatian program keluarga berencana selama ini dinilai lebih banyak diarahkan ke istri, bukan ke suami.

2. Disamakan dengan kebiri. Sebagian pria mengkhawatirkan hilangnya gairah atau kemampuan seksual. padahal seperti dijelaskan di atas, ini mitos yang sudah dibantah secara medis.

3. Pertimbangan agama. Sebagian responden menyampaikan keberatan berbasis pandangan keagamaan meski temuan ini tidak mewakili pandangan seluruh pemeluk agama tertentu secara umum.

4. Keterbatasan akses layanan. Pengelola program KB melaporkan kendala jarak fasilitas kesehatan dan ketersediaan tenaga medis terlatih di banyak wilayah Indonesia.

Riset terpisah di Kepulauan Bangka Belitung (2021) turut menemukan pola menarik. Dimana ada suami yang justru terdorong vasektomi setelah melihat istrinya kesulitan memakai pil KB,

sementara pria lain di riset yang sama menyampaikan rasa takut soal potensi impotensi , yang menunjukkan bagaimana pengalaman keluarga dan informasi yang beredar sama-sama membentuk keputusan seseorang soal kontrasepsi.

Kenapa Topik Ini Penting Dibicarakan Lebih Terbuka?

Kasus Krisjiana dan beberapa figur publik lain yang berani terbuka soal keputusan ini sebenarnya punya dampak positif, yang mendobrak anggapan lama bahwa urusan kontrasepsi dan keluarga berencana cuma tanggung jawab perempuan semata.

Seperti kata Krisjiana sendiri, ini soal tanggung jawab bersama, dan bukan soal “siapa yang lebih berkorban” atau kekhawatiran kehilangan maskulinitas yang sebenarnya tidak berdasar secara medis.

Konseling sebelum menjalani prosedur tetap sangat dianjurkan, supaya pasangan benar-benar memahami konsekuensinya termasuk sifatnya yang permanen sebelum memutuskan apakah pilihan ini sesuai dengan rencana keluarga masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *