Travel Makin Banyak Pilihan, Tapi Traveler Justru Makin Bingung: AI dan Media Sosial Ubah Cara Orang Liburan

pilihan travel

daily-life.id – Dulu, merencanakan liburan mungkin sesederhana, yaitu dengan cari destinasi, pilih hotel, bandingkan harga, lalu booking. Sekarang ceritanya jauh lebih panjang.

Traveler bisa menemukan inspirasi dari TikTok, Instagram, YouTube, review, Google, teman, hingga AI. Setelah itu membandingkan hotel di OTA, mengecek harga lagi, membuka website resmi, lalu kembali melihat rekomendasi lain. Bahkan setelah booking pun, keputusan belum tentu benar-benar selesai.

Laporan terbaru McKinsey & Company menemukan bahwa perjalanan konsumen menuju booking kini melibatkan sekitar 65 touchpoints, naik dari sekitar 45 pada 2018. Menariknya, 78% traveler masih melakukan riset setelah booking, sementara sekitar separuh mengaku pernah mengganti akomodasi yang sudah dipesan setelah menemukan pilihan yang dianggap lebih menarik secara online.

Traveler Sekarang Tidak Lagi Jalan Lurus Menuju Booking

Perubahan paling menarik adalah bentuk perjalanan traveler.

Menurut laporan tersebut, customer journey travel saat ini lebih mirip orbit daripada garis lurus. Seseorang bisa awalnya ingin liburan ke Jepang, kemudian melihat konten Korea, tertarik dengan hotel di Bali, lalu kembali mencari tiket Jepang.

Artinya, keputusan perjalanan bisa maju, mundur, bahkan berubah total.

Inspirasi juga tidak lagi selalu dimulai ketika seseorang sengaja mencari destinasi. Travel content sekarang muncul saat orang sedang scrolling media sosial, menonton video, membaca artikel, melihat review, atau berbicara dengan teman.

Sebanyak 60% traveler menyebut media sosial sebagai salah satu dari tiga sumber utama inspirasi perjalanan, sementara hanya 26% yang menyebut OTA atau website penyedia perjalanan pada tahap inspirasi.

AI Makin Dipakai, Tapi Traveler Belum Sepenuhnya Percaya

AI menjadi bagian baru dalam perjalanan tersebut.

Sebanyak 71% traveler merasa nyaman menggunakan AI untuk menghasilkan ide perjalanan, sedangkan 67% nyaman membiarkan AI membantu mempersempit pilihan. Namun, laporan McKinsey menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk benar-benar melakukan booking masih jauh lebih rendah. Hanya 16% yang pernah menggunakan AI untuk memesan sesuatu yang berkaitan dengan perjalanan.

Masalahnya bukan sekadar teknologi.

Traveler masih ingin memastikan sendiri apakah hotel benar-benar sesuai foto, apakah review-nya bisa dipercaya, apakah harga yang ditawarkan memang terbaik, dan apakah pilihan tersebut aman untuk dibeli.

AI bisa memberikan jawaban cepat. Tetapi kepercayaan tetap menjadi faktor penting sebelum uang benar-benar keluar.

Baca juga:

Setelah Booking, Traveler Masih Bisa Berubah Pikiran

Yang juga menarik, tombol “Book Now” ternyata bukan lagi garis finish.

Laporan ini menyebut 78% traveler tetap melakukan riset setelah melakukan booking. Mereka masih mencari restoran, aktivitas, tempat menarik, hingga konten media sosial mengenai destinasi.

Bahkan, sekitar 41% traveler memantau harga reservasi yang sudah mereka konfirmasi, sementara separuh traveler pernah mengubah rencana akomodasi setelah melihat pilihan yang lebih menarik secara online.

Buat hotel, maskapai, destinasi wisata dan platform perjalanan, kondisi ini berarti persaingan tidak berhenti ketika transaksi selesai.

Travel Brand Harus Menang di Kepercayaan, Bukan Sekadar Pilihan

Laporan McKinsey–Skift menunjukkan bahwa traveler sekarang tidak kekurangan pilihan. Justru masalahnya adalah terlalu banyak pilihan dan terlalu banyak tempat untuk mencari informasi.

Traveler berpindah dari media sosial ke search engine, AI, review, OTA, website hotel, lalu kembali lagi ke media sosial. Setiap perpindahan bisa membuat mereka harus mengulang pencarian dan membandingkan informasi dari awal. Laporan tersebut menyebut kondisi ini sebagai “restart tax.”

Buat industri travel, tantangannya bukan harus hadir di setiap platform. Yang semakin penting adalah bagaimana sebuah brand bisa tetap relevan, mudah ditemukan, dipercaya, dan membuat traveler merasa yakin untuk melanjutkan perjalanan dari inspirasi sampai booking.

Karena di era infinite travel choices, traveler ternyata tidak membutuhkan pilihan yang semakin banyak.

Mereka membutuhkan alasan yang cukup kuat untuk percaya pada satu pilihan.pilihan travel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *