JAKARTA – AI mulai mengubah cara orang mencari tiket dan hotel di seluruh dunia. Teknologi kecerdasan buatan kini tidak hanya membantu wisatawan menemukan penerbangan dan akomodasi terbaik, tetapi juga mengubah cara kerja industri perjalanan global secara fundamental.
Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan berkembang dari sekadar chatbot menjadi AI travel agent yang mampu membantu pengguna merencanakan perjalanan, membandingkan harga, memilih hotel, hingga menyusun itinerary hanya melalui satu percakapan. Namun semakin canggih kemampuan AI tersebut, semakin besar pula tekanan yang muncul pada sistem pencarian perjalanan global.
Menurut laporan terbaru dari Skift, muncul kekhawatiran bahwa ledakan pencarian yang dilakukan agen AI dapat mengubah ekonomi industri travel secara drastis. Jika sebelumnya pencarian dilakukan manusia dalam jumlah terbatas, kini AI dapat melakukan ribuan hingga jutaan pencarian otomatis dalam waktu yang sangat singkat. Akibatnya, biaya yang harus ditanggung platform perjalanan, maskapai, dan hotel mulai meningkat tajam.
Ketika AI Tidak Pernah Lelah Mencari
Selama bertahun-tahun, model bisnis industri travel dibangun berdasarkan pola sederhana: semakin banyak orang mencari tiket atau hotel, sebagian dari mereka akan melakukan pemesanan.
Para analis menilai bahwa AI mulai mengubah cara orang mencari tiket dan hotel dengan sangat cepat. Jika sebelumnya wisatawan membandingkan harga secara manual, kini agen AI dapat melakukan ratusan pencarian sekaligus hanya dalam hitungan detik.
Rasio tersebut dikenal sebagai look-to-book ratio, yaitu perbandingan antara jumlah pencarian dan jumlah transaksi yang benar-benar terjadi.
Masalahnya, AI bekerja dengan cara yang sangat berbeda dibanding manusia.
Jika seseorang biasanya membuka beberapa situs untuk membandingkan harga, agen AI dapat melakukan ratusan pencarian lintas platform sekaligus untuk menemukan opsi terbaik. Dalam skala besar, aktivitas ini menciptakan lonjakan trafik yang jauh lebih besar dibanding perilaku pengguna biasa.
Biaya Pencarian Mulai Menjadi Masalah Besar
Fenomena ini membuat banyak perusahaan travel mulai menghadapi tantangan baru: biaya pencarian yang terus meningkat.
Setiap kali AI melakukan pencarian harga penerbangan, hotel, atau paket perjalanan, sistem harus memproses data secara real-time. Ketika jumlah pencarian meningkat secara eksponensial, biaya infrastruktur dan distribusi ikut naik.
Beberapa pelaku industri bahkan mulai mempertanyakan siapa yang seharusnya membayar biaya tambahan tersebut. Apakah platform AI, maskapai, hotel, atau perusahaan distribusi perjalanan? Hingga kini, jawabannya masih belum jelas.
Industri Travel Sedang Memasuki Era Baru
Perubahan ini terjadi bersamaan dengan transformasi besar yang sedang berlangsung di dunia perjalanan.
AI tidak lagi hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan pelanggan. Kini teknologi tersebut mulai mengambil peran dalam proses pencarian, rekomendasi, personalisasi, hingga pemesanan perjalanan. Banyak perusahaan percaya bahwa masa depan perencanaan liburan akan lebih menyerupai percakapan dibanding pencarian manual di puluhan situs berbeda.
Perusahaan besar seperti Expedia, Google, Skyscanner, hingga berbagai platform perjalanan global kini berlomba membangun sistem AI mereka sendiri agar tetap relevan dalam perubahan perilaku konsumen tersebut.
Baca juga:
- Loyalty Program: Rahasia di Balik Poin, Cashback, dan Diskon yang Membangun Kesetiaan
- Apakah Kartu Kredit Masih Diperlukan dalam 5 Tahun ke Depan?
- Kartu Kredit Travel Terbaik 2026: Cara Ubah Pengeluaran Jadi Liburan Premium dengan Marriott Bonvoy Mandiri Credit Card
Semakin Personal, Tetapi Juga Semakin Mahal
Menariknya, salah satu alasan mengapa AI menghasilkan begitu banyak pencarian adalah karena sistem kini berusaha memberikan hasil yang jauh lebih personal.
Alih-alih hanya menampilkan daftar hotel atau penerbangan, AI mencoba memahami preferensi pengguna secara detail: lokasi favorit, anggaran, kebiasaan bepergian, hingga tipe pengalaman yang dicari.
Untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih akurat, sistem harus mengakses dan membandingkan data dalam jumlah yang jauh lebih besar dibanding mesin pencarian tradisional. Akibatnya, kebutuhan komputasi dan biaya operasional ikut meningkat.
Apakah AI Akan Mengubah Industri Travel Selamanya?
Banyak analis percaya jawabannya adalah ya.
Namun perubahan tersebut kemungkinan tidak hanya terjadi pada cara konsumen memesan perjalanan, melainkan juga pada struktur ekonomi di balik industri itu sendiri.
Sejumlah pakar bahkan mulai memperingatkan bahwa perusahaan perjalanan yang tidak mampu beradaptasi dengan era AI dapat kehilangan posisi mereka dalam rantai distribusi perjalanan global. Sementara itu, perusahaan yang berhasil menguasai lapisan AI berpotensi memperoleh pengaruh yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Bukan Lagi Soal Tiket dan Hotel
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa persaingan industri travel kini tidak lagi hanya soal harga tiket termurah atau hotel terbaik.
Pertarungan berikutnya kemungkinan terjadi pada siapa yang mengendalikan pencarian.
Karena di era AI, perusahaan yang menguasai cara orang menemukan perjalanan bisa memiliki kekuatan yang sama besar dengan perusahaan yang menjual perjalanan itu sendiri.
Dan itulah alasan mengapa ledakan pencarian berbasis AI kini menjadi salah satu isu paling penting yang sedang diperhatikan industri travel global.
Referensi:
- Buhalis, D. and Law, R. (2008) Progress in Information Technology and Tourism Management: 20 Years On and 10 Years After the Internet—The State of eTourism Research. Tourism Management, 29(4), pp. 609–623. Available at: https://doi.org/10.1016/j.tourman.2008.01.005
- Gretzel, U., Sigala, M., Xiang, Z. and Koo, C. (2015) Smart Tourism: Foundations and Developments. Electronic Markets, 25(3), pp. 179–188. Available at: https://doi.org/10.1007/s12525-015-0196-8
- Lv, X., Liu, Y., Luo, J. and Li, C. (2022) Artificial Intelligence in Tourism and Hospitality: A Bibliometric Analysis and Research Agenda. Tourism Review, 77(5), pp. 1384–1405. Available at: https://doi.org/10.1108/TR-10-2021-0460
- Mariani, M., Baggio, R., Fuchs, M. and Höepken, W. (2018) Business Intelligence and Big Data in Hospitality and Tourism: A Systematic Literature Review. International Journal of Contemporary Hospitality Management, 30(12), pp. 3514–3554. Available at: https://doi.org/10.1108/IJCHM-07-2017-0461
- World Travel & Tourism Council (WTTC). (2025) Technology Game Changers: Future Trends in Travel and Tourism. Available at: https://wttc.org/research
