JAKARTA – Sumber pendapatan terbesar maskapai kini datang dari kartu kredit menjadi fenomena yang semakin menarik perhatian industri penerbangan global. Jika dulu tiket pesawat menjadi tulang punggung bisnis maskapai, kini program kartu kredit dan loyalitas pelanggan justru berkembang menjadi mesin pertumbuhan baru.
Pandangan tersebut kembali menjadi sorotan setelah CEO maskapai Amerika, Greg Anderson, menyebut bahwa peluang terbesar perusahaannya saat ini bukan berasal dari kursi pesawat tambahan, melainkan dari pengembangan kartu kredit co-brand dan program loyalitas pelanggan. Menurutnya, sekitar 5% pendapatan perusahaan saat ini berasal dari kartu kredit bermerek maskapai, sementara sejumlah maskapai besar memperoleh hingga sekitar 15% pendapatan dari sumber yang sama.
Loyalitas Penumpang Menjadi Aset Bernilai Tinggi
Dalam beberapa tahun terakhir, industri penerbangan global mengalami perubahan besar.
Jika dahulu maskapai bersaing dengan membuka rute baru dan menambah armada, kini mereka juga berlomba membangun ekosistem loyalitas yang membuat pelanggan terus kembali menggunakan layanan mereka. Program poin, miles penerbangan, cashback, hingga berbagai keuntungan eksklusif menjadi bagian penting dari strategi bisnis modern.
Kartu kredit menjadi alat yang sangat efektif karena memungkinkan maskapai memperoleh pendapatan bahkan ketika pelanggan tidak sedang terbang. Setiap transaksi belanja yang dilakukan pemegang kartu dapat menghasilkan komisi dan berbagai bentuk remunerasi bagi maskapai.
Mengapa Kartu Kredit Sangat Menguntungkan?
Model bisnis ini sebenarnya sederhana.
Banyak analis menilai bahwa sumber pendapatan terbesar maskapai kini datang dari kartu kredit karena model bisnis ini menghasilkan pemasukan yang lebih stabil dibanding penjualan tiket yang sangat bergantung pada musim perjalanan dan kondisi ekonomi.
Bank ingin mendapatkan nasabah baru. Di sisi lain, maskapai memiliki jutaan pelanggan setia yang rutin bepergian. Kerja sama keduanya menghasilkan kartu kredit khusus yang menawarkan poin perjalanan, upgrade kursi, akses lounge, atau diskon tiket.
Bagi konsumen, manfaatnya terlihat dalam bentuk hadiah dan poin. Namun bagi maskapai, program tersebut menciptakan aliran pendapatan berulang yang jauh lebih stabil dibanding mengandalkan penjualan tiket yang sangat dipengaruhi musim, harga bahan bakar, dan kondisi ekonomi.
Baca juga:
- Blockchain, Teknologi di Balik Kripto yang Mengubah Berbagai Industri
- Brand Premium yang Sukses Untung Besar dari Loyalty Program Selama 5+ Tahun
- Era Baru Pembayaran Dimulai! Forum Visa 2026 Bongkar Peran AI dalam Mengubah Cara Kita Bertransaksi
Tiket Pesawat Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Bisnis
Fenomena ini menunjukkan bagaimana industri penerbangan telah berevolusi.
Maskapai modern tidak hanya menjual penerbangan. Mereka juga menjual paket liburan, pemesanan hotel, sewa kendaraan, layanan prioritas, bagasi tambahan, program keanggotaan, hingga produk keuangan. Pendapatan non-tiket atau ancillary revenue kini menjadi salah satu indikator penting kesehatan bisnis maskapai.
Bahkan sejumlah maskapai berbiaya rendah berhasil mempertahankan profitabilitas berkat kombinasi pendapatan tiket dan layanan tambahan tersebut. Model ini memungkinkan perusahaan tetap kompetitif meskipun persaingan harga tiket semakin ketat.
Masa Depan Industri Penerbangan Ada di Ekosistem Pelanggan
Para analis industri melihat bahwa masa depan maskapai tidak hanya bergantung pada jumlah penumpang yang terbang, tetapi juga pada seberapa besar mereka dapat membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Dalam era digital, data pelanggan, kebiasaan belanja, preferensi perjalanan, dan loyalitas menjadi aset yang sangat berharga. Karena itu, program loyalitas dan kartu kredit diperkirakan akan terus menjadi fokus investasi maskapai dalam beberapa tahun ke depan.
Tidak mengherankan jika semakin banyak maskapai yang mengembangkan layanan finansial mereka sendiri. Di tengah naik turunnya industri penerbangan global, loyalitas pelanggan kini dianggap sebagai salah satu sumber keuntungan paling menjanjikan.
Pada akhirnya, masa depan bisnis penerbangan mungkin tidak lagi hanya ditentukan oleh berapa banyak pesawat yang mengudara setiap hari. Yang semakin penting adalah seberapa kuat sebuah maskapai mampu mempertahankan hubungan dengan pelanggan, bahkan ketika mereka sedang tidak berada di bandara.
Referensi:
- Meyer-Waarden, L. and Benavent, C. (2017) An Examination of the Revenue Generating Capability of Co-Branded Cards Associated with Frequent Flyer Programmes. Journal of Air Transport Management, 65, pp. 63–75. Available at: https://doi.org/10.1016/j.jairtraman.2017.08.001
- Zhang, Y. et al. (2026) Frequent Flyer Programs in Academic Studies: A Literature Review of Research Progress Since 2000. Journal of Air Transport Management, 131, 102920. Available at: https://doi.org/10.1016/j.jairtraman.2025.102920
- Voorhees, C.M., White, R.C., McCall, M. and Randhawa, P. (2015) Fool’s Gold? Assessing the Impact of the Value of Airline Loyalty Programs on Brand Equity Perceptions and Share of Wallet. Cornell Hospitality Quarterly, 56(2). Available at: https://doi.org/10.1177/1938965514564213
- Reuters Staff. (2026) United Overhauls Loyalty Program Benefits to Boost Co-Branded Credit Card Adoption. Reuters. Available at: https://www.reuters.com/business/united-overhauls-loyalty-program-benefits-boost-co-branded-credit-card-adoption-2026-02-19/
