Harga Kantor di Inggris Turun, Perusahaan Mulai Berpikir: Sewa Terus atau Beli Sendiri?

harga kantor di Inggris

Daily-Life.id — Selama ini, kantor biasanya dianggap sebagai biaya. Perusahaan menyewa gedung, membayar sewa setiap tahun, lalu pindah ketika kebutuhan berubah.

Namun, pasar properti Inggris sedang memperlihatkan cerita yang berbeda.

Harga kantor di Inggris yang menurun justru membuat sebagian perusahaan mulai melihat gedung kantor sebagai investasi. Di saat harga aset melemah, biaya sewa dan renovasi kantor malah semakin mahal. Akibatnya, membeli kantor sendiri mulai terasa lebih masuk akal bagi sejumlah perusahaan besar.

Ini bukan sekadar cerita tentang properti. Di baliknya ada perubahan cara perusahaan melihat biaya tempat kerja.

Harga kantor di Inggris turun, tetapi biaya sewa justru naik

Data CoStar Group yang dikutip Business Times menunjukkan, 10 perusahaan telah menghabiskan lebih dari £1,3 miliar untuk membeli kantor mereka sendiri di Inggris sepanjang 2026.

Jika tren tersebut berlanjut sampai akhir tahun, transaksi pembelian kantor oleh perusahaan untuk ditempati sendiri berpotensi mencetak rekor tahunan.

Situasinya cukup menarik.

Di satu sisi, nilai properti kantor mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Suku bunga yang lebih tinggi dan perubahan pola kerja setelah pandemi ikut menekan nilai aset perkantoran.

Di sisi lain, pasokan ruang kantor berkualitas tinggi justru terbatas. Ketidakpastian politik selama bertahun-tahun, biaya konstruksi yang meningkat, serta minimnya pembangunan baru membuat ruang kantor tertentu semakin mahal.

Hasilnya?

Harga aset bisa turun, tetapi biaya untuk mendapatkan kantor yang bagus belum tentu ikut turun.

Bagi perusahaan, ini menciptakan perhitungan baru.

Kenapa perusahaan mulai memilih membeli kantor?

Salah satu alasannya sederhana, karena biaya jangka panjang.

Ketika perusahaan menyewa kantor, mereka harus menghadapi kemungkinan kenaikan harga sewa ketika kontrak diperbarui. Belum lagi biaya pindah apabila perusahaan membutuhkan ruang yang lebih besar atau lokasi yang lebih strategis.

Emma Steele, direktur global cross-border investment di Savills, mengatakan biaya untuk berpindah kantor sudah menjadi sangat mahal.

Belum selesai di sana.

Perusahaan juga harus mengeluarkan biaya besar untuk melakukan fit-out, yaitu proses mengubah ruang kosong menjadi kantor yang siap digunakan.

Mulai dari desain interior, ruang meeting, jaringan teknologi, listrik, fasilitas karyawan, sampai kebutuhan keamanan.

Ketika perusahaan sudah mengeluarkan modal besar untuk membuat sebuah kantor sesuai kebutuhan mereka, membeli asetnya sekaligus mulai terlihat menarik.

Dengan kata lain, daripada mengeluarkan banyak uang untuk mempercantik properti milik orang lain, sebagian perusahaan memilih mempercantik properti yang mereka miliki sendiri.

Barclays menjadi contoh paling mencolok

Salah satu transaksi terbesar datang dari Barclays.

Pada Juni 2026, bank tersebut mengumumkan pembelian kantor pusat globalnya di Canary Wharf senilai £750 juta dari Canary Wharf Group.

Kesepakatannya menggunakan skema sewa selama 999 tahun.

Menariknya, sumber Business Times menyebut harga yang dibayar Barclays berada di kisaran £40 per kaki persegi, sementara harga sewa untuk ruang baru di kawasan tersebut disebut telah mencapai lebih dari £80 per kaki persegi.

Artinya, bagi perusahaan yang memang membutuhkan kantor tersebut dalam jangka sangat panjang, membeli aset bisa memberikan tingkat kepastian biaya yang lebih menarik dibanding terus bergantung pada pasar sewa.

Barclays sendiri menyebut pembelian tersebut memberikan kontrol lebih besar atas kantor pusat sekaligus kepastian terhadap biaya okupansi jangka panjang.

Baca Juga:

Dari pengguna kantor menjadi pemilik aset

Nah, di sinilah bagian paling menarik dari tren harga kantor di Inggris.

Biasanya perusahaan adalah occupier, atau pihak yang menggunakan gedung.

Tetapi ketika membeli kantor sendiri, perusahaan berubah menjadi owner-occupier.

Artinya, gedung tersebut bukan hanya tempat bekerja. Ia juga menjadi bagian dari aset perusahaan.

Ketika pasar properti membaik di masa depan, perusahaan bahkan memiliki opsi untuk menjual aset tersebut.

Savills melihat strategi ini bisa memberikan fleksibilitas tambahan. Ketika harga pasar kembali membaik, perusahaan yang sebelumnya membeli di harga lebih rendah secara teoritis dapat memanfaatkan kenaikan nilai aset tersebut.

Jadi, kantor tidak lagi semata-mata dipandang sebagai pengeluaran.

Kantor bisa menjadi aset yang kebetulan sedang digunakan untuk bekerja.

Bukan hanya Barclays yang melakukan langkah ini

Tren tersebut juga terlihat dari sejumlah perusahaan lain.

State Street dan State Bank of India memutuskan membeli kantor mereka di London pada 2025.

Kemudian pada 2026, Bank of New York Mellon membeli kantor di Manchester senilai sekitar £114 juta, sementara Lloyds Banking Group membeli kantor mereka di Bristol dengan nilai sekitar £65 juta.

CBRE bahkan saat ini memberikan advis untuk kebutuhan owner-occupier lebih dari 1 juta kaki persegi di London.

Ini menunjukkan bahwa fenomenanya bukan hanya satu-dua perusahaan yang kebetulan melakukan transaksi besar. Ada kebutuhan yang lebih luas dari perusahaan yang mulai mempertimbangkan kepemilikan properti sebagai bagian dari strategi bisnis.

Lalu, apa pelajarannya untuk perusahaan di Indonesia?

Tren harga kantor di Inggris ini sebenarnya memberikan satu pelajaran menarik bagi dunia bisnis Indonesia.

Tidak semua perusahaan harus membeli kantor.

Untuk startup, perusahaan kecil, atau bisnis yang masih berkembang cepat, menyewa biasanya memberikan fleksibilitas lebih besar. Tidak perlu mengunci modal dalam aset dan lebih mudah berpindah ketika kebutuhan berubah.

Tetapi untuk perusahaan yang sudah stabil, membutuhkan lokasi tertentu selama bertahun-tahun dan terus mengeluarkan biaya besar untuk sewa serta renovasi, pertanyaan “kapan harus berhenti menyewa dan mulai memiliki?” menjadi semakin relevan.

Terutama jika harga properti sedang berada pada fase yang lebih menarik bagi pembeli.

Namun, membeli kantor juga bukan keputusan otomatis yang menguntungkan. Perusahaan tetap harus menghitung biaya bunga, pajak, pemeliharaan, likuiditas, lokasi, nilai aset, serta peluang penggunaan modal untuk ekspansi bisnis.

Jadi, bukan sekadar, “Harga sedang turun, ayo beli.”. Tetapi, “Apakah aset ini akan membuat bisnis kita lebih kuat dalam 10–20 tahun ke depan?”

Kantor bukan cuma tempat bekerja

Pandangan terhadap kantor memang berubah sejak pandemi.

Dulu kantor identik dengan meja, komputer dan ruang meeting. Sekarang kantor harus mampu memberikan alasan bagi karyawan untuk datang, mendukung kolaborasi, membangun budaya perusahaan dan sekaligus efisien secara finansial.

Karena itu, ketika harga kantor di Inggris turun sementara biaya sewa dan pembangunan kantor berkualitas naik, sebagian perusahaan memilih mengambil posisi yang lebih strategis: daripada hanya menjadi penyewa, mengapa tidak menjadi pemilik?

Dan mungkin inilah perubahan paling menarik dari pasar properti saat ini.

Kadang, aset yang terlihat mahal justru menjadi lebih menarik ketika biaya untuk tidak memilikinya mulai terasa jauh lebih mahal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *