Kenapa Miss World Masih Diadakan Setiap Tahun? Ini Fakta di Baliknya yang Jarang Dibahas Tuntas

kenapa Miss World masih diadakan

Daily-life.id — Kenapa Miss World masih diadakan setiap tahun, di tengah kritik bertahun-tahun bahwa kontes kecantikan itu sudah ketinggalan zaman? Pertanyaan ini makin relevan justru hari ini.

Baru kemarin, 5 September 2026, mahkota Miss World edisi ke-73 resmi diserahkan di Nha Trang, Vietnam.

Ternyata, jawabannya jauh lebih kompleks dari sekadar “orang masih suka nonton perempuan cantik”, dan ada fakta gelap di baliknya yang jarang diceritakan tuntas media Indonesia.

Dimulai dari Festival Bikini yang “Kebablasan” Populer

Miss World lahir pada 1951 di Inggris, digagas oleh Eric Morley, dan bukan sebagai kontes kecantikan permanen,

tapi awalnya cuma sesi bernama “Festival Bikini Contest” dalam rangkaian Festival of Britain.

Karena responsnya jauh melebihi ekspektasi, media ramai-ramai menjulukinya “Miss World”, dan Morley pun memutuskan menjadikannya ajang tahunan.

Setahun kemudian, Amerika Serikat ikut-ikutan bikin ajang serupa yang kelak jadi Miss Universe.

Menariknya, sesi bikini yang jadi cikal bakal acara ini justru dihapus di edisi-edisi berikutnya karena menuai

penolakan keras dari masyarakat konservatif, digantikan pakaian renang two-piece yang lebih tertutup.

Setelah Eric Morley meninggal pada 2000, sang istri, Julia Morley, mengambil alih kepemimpinan organisasi dan masih memegang kendali sampai hari ini,

menjadikan Miss World sebagai kontes kecantikan internasional tertua yang masih eksis di dunia, mengalahkan usia Miss Universe setahun.

Bukan Cuma Soal Cantik, Tapi Ini Bisnis Waralaba Raksasa

Ini jawaban pertama dan paling mendasar soal kenapa Miss World masih diadakan setiap tahun: karena ini bisnis yang menguntungkan, bukan sekadar tradisi budaya semata.

Miss World kini beroperasi sebagai waralaba global di lebih dari 100 negara, dan setiap negara punya organisasi

Miss World lokal (di Indonesia, misalnya, terafiliasi dengan Puteri Indonesia)

yang membayar lisensi untuk ikut serta, sekaligus menyelenggarakan kontes nasional mereka sendiri untuk memilih delegasi.

Model bisnis semacam ini mirip dengan ajang olahraga besar seperti Olimpiade, yang pendapatannya mengalir dari hak siar televisi, sponsor korporat, dan biaya lisensi negara peserta.

Selama model bisnis ini tetap menguntungkan semua pihak yang terlibat, mulai dari organisasi pusat, organisasi nasional,

sampai negara tuan rumah yang mendapat eksposur media global,

maka insentif untuk terus menyelenggarakannya setiap tahun tetap besar, terlepas dari perdebatan soal relevansinya

di mata publik Barat yang makin skeptis.

Baca juga:

Rebranding Jadi “Beauty With a Purpose”

Ini yang jadi kunci penting kenapa Miss World masih diadakan setiap tahun tanpa terus-menerus digempur kritik habis-habisan seperti dekade 1970-1990an,

dimana organisasi ini secara sengaja merebranding dirinya lewat program Beauty With a Purpose (BWAP), yang mewajibkan setiap delegasi menjalankan proyek sosial nyata di negaranya masing-masing sebelum kompetisi puncak.

Ini bukan gimmick kosong. Di edisi 2026 saja, Miss World Bangladesh menjalankan program edukasi kebersihan dan akses air bersih di seluruh negaranya.

Miss World Turki mengangkat isu kesehatan mental dan inklusi disabilitas lewat proyek “Invisible Strength”. Miss World Jamaika fokus mendorong inklusi anak-anak dengan disabilitas intelektual.

Ada juga delegasi dari Senegal yang menjalankan kampanye kesehatan mental bertajuk “Voices of Hope”.

Dengan pendekatan ini, organisasi berhasil mengubah narasi dari sekadar “kontes penilaian fisik perempuan” menjadi “platform kepemimpinan perempuan dengan misi kemanusiaan” — strategi yang cukup efektif meredam sebagian kritik feminis dekade sebelumnya.

Karier, Diplomasi, dan Eksposur Global

Buat individu yang menang, gelar Miss World seringkali jadi batu loncatan karier signifikan. Banyak pemenang dan finalis yang lanjut berkarier di industri hiburan, media, bahkan politik di negara asal mereka.

Buat negara tuan rumah, menyelenggarakan Miss World memberi eksposur media global gratis yang biasanya jadi bagian dari strategi diplomasi budaya dan pariwisata (soft power).

Logika yang sama dipakai negara-negara yang berebut jadi tuan rumah ajang olahraga internasional besar.

Sisi Gelap yang Jarang Diceritakan Tuntas: Kerusuhan Nigeria 2002

Ini bagian paling penting yang sering dilewatkan media saat membahas sejarah Miss World, dan menunjukkan betapa besar dan sensitifnya ajang ini di mata dunia.

Pada 2002, Nigeria dijadwalkan jadi tuan rumah Miss World di Abuja, sekaligus kali pertama negara itu menjadi tuan rumah setelah warganya, Agbani Darego, menjadi juara tahun sebelumnya.

Namun sebuah artikel surat kabar lokal yang dianggap menghina Nabi Muhammad terkait ajang ini memicu kerusuhan berdarah antara kelompok Muslim dan Kristen di Kota Kaduna,

yang menewaskan sekitar 200 hingga 250 orang dan melukai ratusan lainnya dalam beberapa hari kerusuhan pada November 2002.

Organisasi Miss World akhirnya terpaksa memindahkan seluruh ajang ke London dalam waktu darurat demi keselamatan para delegasi.

Human Rights Watch bahkan merilis laporan resmi yang menyebut aparat keamanan Nigeria ikut bertanggung jawab atas sebagian korban jiwa akibat penanganan berlebihan saat kerusuhan.

Insiden ini jadi pengingat keras bahwa ajang yang terlihat “sekadar hiburan” ini pernah punya konsekuensi sosial-politik yang sangat serius dan mematikan di sejumlah negara dengan sensitivitas budaya dan agama tinggi.

Indonesia Juga Pernah Merasakan Kontroversinya

Indonesia sendiri sempat merasakan gejolak serupa dalam skala lebih kecil. Pada 2013, Indonesia ditunjuk sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang menjadi tuan rumah Miss World.

Rencana awal penyelenggaraan di Bogor, Jawa Barat, memicu penolakan keras dari sejumlah kelompok Islam konservatif yang menganggap ajang ini bertentangan dengan nilai budaya dan agama.

Pemerintah akhirnya memindahkan lokasi penyelenggaraan ke Bali serta menghapus sesi bikini dari rangkaian acara demi meredam kontroversi.

Ini adalah bukti bahwa organisasi Miss World cukup fleksibel beradaptasi dengan konteks lokal negara tuan rumah demi memastikan acara tetap bisa berjalan.

Jadi, Apakah Miss World Masih “Penting”?

Jawaban paling jujur, adalah penting secara komersial dan simbolis buat pihak-pihak yang terlibat langsung di dalamnya,

dimana organisasi pusat yang meraup pendapatan lisensi dan hak siar, negara tuan rumah yang mendapat eksposur global, delegasi yang mendapat batu loncatan karier,

dan penerima manfaat program Beauty With a Purpose yang benar-benar mendapat bantuan nyata.

Tapi soal apakah masyarakat luas masih menganggapnya penting sebagai representasi nilai perempuan modern, itu jelas jauh lebih terbelah,

dan perdebatan itulah yang justru terus membuat Miss World relevan diperbincangkan setiap tahunnya, bahkan oleh mereka yang mengkritiknya sekalipun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *