Prince Harry Ingatkan Industri Travel: Jangan Cuma Kejar Wisatawan, Destinasi Juga Harus Sehat

sustainable travel

daily-life.id – Selama ini keberhasilan industri pariwisata sering dilihat dari jumlah wisatawan, tingkat hunian hotel, nilai transaksi, sampai pertumbuhan bisnis. Tapi ada satu hal yang sering terlupakan: bagaimana kondisi tempat yang menjadi tujuan wisata itu sendiri?

Pesan tersebut kembali muncul dalam Skift Global Forum 2026 di New York. Prince Harry, Duke of Sussex sekaligus pendiri Travalyst, mengajak industri travel melihat keberhasilan pariwisata dari sisi yang lebih luas: bukan hanya seberapa besar nilai yang dihasilkan wisatawan, tetapi juga apakah destinasi, masyarakat dan alam di dalamnya tetap sehat.

Menurut Harry, industri perjalanan tidak bisa benar-benar sukses jika destinasi yang menjadi fondasinya justru mengalami kerusakan.

Travel Butuh Destinasi yang Tetap Hidup

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya cukup besar.

Hotel membutuhkan destinasi yang menarik. Maskapai membutuhkan orang yang ingin datang. Restoran, operator tur, pemandu wisata, hingga UMKM lokal bergantung pada arus wisatawan.

Namun ketika sebuah destinasi mengalami tekanan terlalu besar, bisnis pariwisata juga ikut menghadapi masalah.

Overtourism, perubahan iklim, gelombang panas, kebakaran hutan dan kekeringan menjadi tantangan yang semakin terlihat di berbagai destinasi dunia.

Karena itu, konsep keberlanjutan tidak lagi hanya soal hotel memasang tulisan “gunakan kembali handuk Anda”. Isunya jauh lebih luas: apakah lingkungan dan komunitas lokal mampu terus mendukung aktivitas wisata dalam jangka panjang?

Industri Travel Punya Dampak Lingkungan yang Besar

Data terbaru World Travel & Tourism Council atau WTTC menunjukkan bahwa pada 2024 sektor Travel & Tourism menyumbang sekitar 7,3% dari total emisi gas rumah kaca global. Angka tersebut sebenarnya turun dari 8,3% pada 2019, sementara intensitas emisi sektor ini juga turun sekitar 15% sepanjang periode 2019–2024.

Transportasi menjadi penyumbang terbesar emisi sektor tersebut, dengan porsi sekitar 40% dari emisi Travel & Tourism.

Artinya, pertumbuhan pariwisata memang membawa manfaat ekonomi, tetapi juga memiliki konsekuensi yang perlu dikelola.

Di sinilah gagasan destination-first tourism menjadi menarik.

Baca juga:

Bukan Berarti Wisatawan Harus Berhenti Traveling

Pesan tentang destinasi sehat bukan berarti orang harus berhenti liburan.

Justru pertanyaannya adalah bagaimana aktivitas traveling bisa memberikan manfaat lebih besar bagi tempat yang dikunjungi.

Travalyst, organisasi nirlaba yang didirikan Prince Harry, selama beberapa tahun terakhir mendorong penggunaan informasi keberlanjutan agar traveler bisa membuat keputusan yang lebih terinformasi. Pada 2025, Travalyst melaporkan bahwa informasi emisi penerbangan melalui mitranya telah muncul dalam 130 miliar pencarian global.

Travalyst juga mengembangkan sistem data keberlanjutan untuk akomodasi sehingga informasi seperti penggunaan energi terbarukan, jejak karbon dan sertifikasi dapat lebih mudah dibagikan kepada traveler melalui platform perjalanan.

Jadi, pilihan wisatawan tidak hanya berhenti pada pertanyaan “berapa harganya?”, tetapi bisa berkembang menjadi “apa dampaknya?”

Masa Depan Travel Mungkin Bukan Soal Makin Banyak Wisatawan

Bagi industri travel, pesan ini membuka cara pandang baru.

Sebuah destinasi tidak selalu harus mengejar jumlah pengunjung sebanyak-banyaknya. Yang juga penting adalah menjaga agar masyarakat lokal tetap mendapatkan manfaat, alam tidak kehilangan daya dukungnya, dan pengalaman wisata tetap bisa dinikmati dalam jangka panjang.

Apalagi perubahan iklim sudah menjadi faktor yang semakin nyata dalam perjalanan. Destinasi yang menghadapi panas ekstrem, kebakaran atau kekeringan tentu dapat mengalami perubahan pola kunjungan dan tekanan terhadap infrastrukturnya.

Pada akhirnya, travel dan destinasi memiliki hubungan dua arah.

Wisatawan membutuhkan destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Sementara destinasi membutuhkan ekosistem yang sehat agar industri pariwisata bisa terus berjalan.

Dan mungkin, inilah pesan terbesar dari Prince Harry di tengah perubahan industri travel: jangan hanya menghitung berapa banyak orang yang datang. Lihat juga apa yang terjadi pada tempat yang mereka datangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *