Piala Dunia 2026 Jadi Mesin Uang Adidas, Penjualan Melonjak Meski Investor Sempat Kecewa

Adidas naikkan proyeksi penjualan 2026

Adidas Naikkan Proyeksi Penjualan 2026, Demam Piala Dunia dan Sepatu Retro Jadi Motor Pertumbuhan

JAKARTA, Daily-Life.id – Ketika jutaan penggemar menikmati pertandingan Piala Dunia 2026, dampaknya ternyata tidak hanya terasa di stadion. Raksasa perlengkapan olahraga Adidas berhasil memanfaatkan euforia sepak bola global untuk meningkatkan penjualan,

sehingga perusahaan menaikkan proyeksi penjualan 2026 setelah mencatat pendapatan kuartalan tertinggi dalam sejarahnya.

Namun, di balik kabar positif tersebut, pasar justru bereaksi negatif. Saham Adidas sempat turun tajam karena laba operasional tidak memenuhi ekspektasi analis akibat lonjakan biaya pemasaran selama Piala Dunia.

Piala Dunia Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

CEO Adidas Bjørn Gulden menjelaskan bahwa turnamen Piala Dunia 2026 memberikan dorongan luar biasa terhadap penjualan produk sepak bola.

Tidak hanya jersey resmi tim nasional, berbagai produk bergaya retro seperti Samba, Gazelle, hingga koleksi apparel bertema sepak bola juga mengalami peningkatan permintaan.

Strategi memperluas ketersediaan produk kepada konsumen dan mitra ritel ikut mempercepat pertumbuhan tersebut.

Data Placer.ai bahkan menunjukkan lalu lintas pengunjung ke toko Adidas di Amerika Serikat melonjak hampir 45%

pada pekan pertama fase grup Piala Dunia, mencerminkan tingginya antusiasme konsumen.

Baca juga:

Penjualan Naik, Tapi Laba Tertahan

Adidas membukukan pendapatan kuartal April–Juni sebesar €6,74 miliar, naik sekitar 14% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar.

Namun laba operasional hanya mencapai sekitar €574 juta, lebih rendah dari proyeksi analis karena perusahaan meningkatkan belanja pemasaran sekitar 30% untuk kampanye Piala Dunia.

Belanja besar ini dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat posisi Adidas dalam persaingan dengan Nike menjelang momentum olahraga global.

Target Penjualan 2026 Direvisi Lebih Tinggi

Melihat tingginya permintaan pasar, Adidas kini memperkirakan pertumbuhan penjualan berbasis mata uang konstan sebesar 9–10% pada 2026,

lebih tinggi dibanding panduan sebelumnya yang hanya memperkirakan pertumbuhan satu digit tinggi. Sementara target laba operasional tahunan tetap dipertahankan di kisaran €2,3 miliar.

Perusahaan juga optimistis momentum ini akan terus didukung oleh inovasi produk, hubungan yang lebih kuat dengan mitra ritel, serta kampanye olahraga global.

Retro Fashion Masih Memikat Konsumen

Meski tren Samba dan Gazelle mulai melambat dibanding puncaknya, Adidas berhasil menjaga minat pasar melalui peluncuran koleksi baru yang tetap mengusung nuansa klasik.

Selain sepatu, lini apparel bertema sepak bola bergaya retro mendapat respons positif karena memadukan unsur olahraga dan gaya hidup, terutama selama berlangsungnya Piala Dunia.

Pelajaran bagi Industri

Kisah Adidas menunjukkan bahwa acara olahraga berskala global bukan hanya menciptakan tontonan, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kreatif, industri fesyen, ritel, hingga pemasaran.

Ketika sebuah merek mampu menghubungkan produk dengan emosi penggemar olahraga, nilai komersialnya dapat meningkat jauh melampaui penjualan jersey atau sepatu semata.

Keputusan Adidas naikkan proyeksi penjualan 2026 menegaskan bahwa strategi menggabungkan inovasi produk, tren retro, dan momentum Piala Dunia berhasil menciptakan pertumbuhan yang kuat. Walaupun laba jangka pendek tertekan oleh biaya promosi yang lebih tinggi, performa penjualan menunjukkan bahwa investasi pada merek dan pengalaman konsumen masih menjadi fondasi utama pertumbuhan bisnis global.

Referensi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *