Pajak Dipangkas untuk Pub, Tapi Hotel Ditinggalkan. Apa Dampaknya bagi Pariwisata Inggris?
JAKARTA, Daily-life.id – Hotel Inggris tidak mendapat potongan pajak bisnis setelah pemerintah Inggris mengumumkan paket keringanan bagi pub, klub malam, dan tempat pertunjukan musik. Keputusan tersebut memicu kekecewaan dari pelaku industri hospitality yang menilai sektor hotel kembali diperlakukan tidak adil dalam kebijakan fiskal terbaru.
Bagi banyak pelaku usaha, persoalannya bukan sekadar tidak menerima insentif. Mereka menilai sistem perpajakan hotel di Inggris memang sudah membebani industri selama bertahun-tahun, terutama ketika biaya tenaga kerja, energi, dan pembiayaan terus meningkat.
Mengapa Hotel Tidak Mendapat Insentif?
Pemerintah Inggris memberikan keringanan business rates kepada sejumlah sektor yang dianggap membutuhkan dukungan untuk menjaga aktivitas ekonomi lokal, termasuk pub, klub malam, dan venue musik.
Namun, hotel kembali tidak masuk dalam daftar penerima.
Ini merupakan kedua kalinya sektor hotel tidak memperoleh keringanan serupa, sehingga memunculkan kritik dari berbagai pelaku industri yang menilai kebijakan tersebut menciptakan ketimpangan di sektor pariwisata.
Sistem Pajak Hotel Dinilai Tidak Adil
Berbeda dengan banyak jenis properti komersial lainnya, hotel di Inggris dikenakan business rates berdasarkan estimasi pendapatan yang mampu dihasilkan sebuah hotel.
Artinya, semakin tinggi tingkat okupansi dan semakin sukses operasional hotel, semakin besar pula nilai pajak yang harus dibayar.
Menurut para analis industri, model ini menciptakan paradoks.
Di saat hotel berhasil meningkatkan pendapatan, mereka justru menghadapi beban pajak yang lebih tinggi, meskipun biaya operasional seperti gaji karyawan, listrik, gas, hingga bunga pinjaman juga terus meningkat.
Pelaku Industri Mulai Menyuarakan Keberatan
CEO Whitbread, Dominic Paul, menyatakan bahwa kebijakan terbaru pemerintah tidak akan memberikan dampak berarti bagi sebagian besar bisnis hotel.
Pelaku industri menilai hotel merupakan bagian penting dari ekosistem pariwisata yang juga mendukung restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, hingga destinasi wisata.
Karena itu, mereka berharap pemerintah menerapkan kebijakan yang lebih seimbang terhadap seluruh sektor hospitality.
Baca juga:
- Bukan Selalu Salah Hotel, Pengalaman Liburan Bisa Mengecewakan karena Cara Kita Menikmatinya
- Grand Anara Airport Hotel Hadirkan Standar Baru Airport Hospitality, Satu-Satunya Hotel Terminal 3 Soekarno-Hatta dengan Kolam Renang
- RedDoorz Bidik IPO pada 2027, Siapkan Dana hingga Rp1,3 Triliun untuk Akuisisi Hotel di Asia
Dampaknya Tidak Hanya bagi Hotel
Jika hotel Inggris tidak mendapat potongan pajak bisnis secara berkelanjutan, dampaknya diperkirakan akan meluas ke berbagai sektor lain.
Beberapa potensi konsekuensinya meliputi: berkurangnya investasi hotel baru, tertundanya renovasi dan modernisasi properti, meningkatnya biaya operasional, tekanan terhadap harga kamar, serta berkurangnya daya saing destinasi wisata Inggris dibanding negara lain.
Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat memengaruhi penciptaan lapangan kerja di industri hospitality.
Industri Pariwisata Membutuhkan Kebijakan yang Lebih Seimbang
Hotel memiliki peran strategis dalam mendukung perjalanan bisnis, wisata keluarga, hingga penyelenggaraan konferensi internasional.
Ketika salah satu bagian dari rantai pariwisata menghadapi tekanan biaya yang lebih besar dibanding sektor lain, keseimbangan industri dapat terganggu.
Karena itu, berbagai pelaku usaha berharap pemerintah Inggris mempertimbangkan kembali struktur business rates agar lebih mencerminkan kondisi ekonomi saat ini.
Apa Artinya bagi Industri Hospitality Global?
Kasus di Inggris menunjukkan bahwa kebijakan perpajakan dapat menjadi faktor penting yang menentukan daya saing industri hotel.
Banyak negara kini berlomba menarik investasi di sektor hospitality melalui insentif fiskal, penyederhanaan regulasi, dan dukungan terhadap pengembangan destinasi wisata.
Sebaliknya, beban pajak yang tinggi berpotensi menghambat ekspansi pelaku usaha serta mengurangi minat investor.
Hotel Inggris tidak mendapat potongan pajak bisnis kembali menjadi isu besar di industri hospitality. Di saat pub, klub malam, dan venue musik memperoleh keringanan pajak, sektor hotel justru masih menghadapi sistem perpajakan yang dinilai kurang mencerminkan realitas biaya operasional saat ini.
Pelaku industri berharap pemerintah melakukan evaluasi agar kebijakan pajak mampu menciptakan persaingan yang lebih adil dan mendukung pertumbuhan pariwisata secara menyeluruh. Di tengah ketatnya persaingan destinasi global, keputusan fiskal seperti ini dapat memengaruhi investasi, penciptaan lapangan kerja, dan daya saing industri hotel Inggris dalam jangka panjang.
Referensi:
- OECD (2025) Tax Policy Reforms 2025. Paris: OECD Publishing. Tersedia di: https://www.oecd.org/tax/tax-policy-reforms/
- World Travel & Tourism Council (WTTC) (2025) Economic Impact Research. Tersedia di: https://wttc.org/research/economic-impact
- JLL Hotels & Hospitality Group (2025) Global Hotels & Hospitality Outlook. Tersedia di: https://www.jll.com/en/trends-and-insights/research/hotels-and-hospitality
- UN Tourism (2025) World Tourism Barometer. Tersedia di: https://www.unwto.org/tourism-data
