Daily-Life.id – Menjadi pemimpin bukan hanya tentang meraih prestasi, memiliki jabatan, atau berhasil mengembangkan potensi diri. Lebih dari itu, kepemimpinan juga terlihat dari kemampuan seseorang untuk bekerja sama, memahami kebutuhan orang lain, dan menghadirkan perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Semangat inilah yang diangkat Nutrifood melalui Nutrifood Leadership Award 2026, program apresiasi sekaligus pengembangan kepemimpinan mahasiswa yang memasuki tahun ke-18 penyelenggaraan.
Mengusung tema “From Well-Being to We-Being”, program ini mengajak generasi muda untuk bergerak dari pengembangan diri menuju kontribusi bersama. Sebanyak 20 finalis dari berbagai kota dan universitas di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk belajar bersama mentor, membangun kolaborasi, serta merancang dan menjalankan proyek sosial yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Program ini berfokus pada empat pilar kontribusi, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan inklusivitas.
Dian Mariani, Human Resources Manager Nutrifood, menjelaskan bahwa Nutrifood Leadership Award menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi sekaligus belajar memberikan manfaat bagi orang lain.
Melalui tema Well-Being to We-Being, Nutrifood berharap para finalis tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi juga mampu menumbuhkan empati, membangun kolaborasi, dan menciptakan dampak positif yang bermakna bagi Indonesia.
Nutrifood Leadership Award 2026 Hadirkan Aksi Nyata Anak Muda
Salah satu sorotan dalam ajang Nutrifood Leadership Award 2026 adalah proyek sosial yang dikembangkan kelompok Environment. Kelompok ini terpilih sebagai pemenang kategori The Most Inspiring Movement melalui proyek bertema Food Waste.
Tim tersebut terdiri dari Eugenia Avrill Ekaristhy dari Universitas Gadjah Mada, Geraldine Grace Gunawan dan Indira Auryn Rabbaniyyah dari Institut Teknologi Bandung, serta Kinanti Muthmadinta dan Larson Johansen Haloho dari Universitas Indonesia.
Proyek mereka mengangkat persoalan sisa makanan yang kerap dianggap sekadar sampah. Padahal, makanan yang terbuang juga berarti pemborosan berbagai sumber daya yang telah digunakan untuk memproduksinya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim mengembangkan edukasi dan praktik langsung bagi anak-anak berusia 7–9 tahun. Kegiatannya mencakup pemanfaatan sisa makanan melalui proses pengomposan atau composting serta pengolahan kulit bawang menjadi sesuatu yang berguna.
Bersama Scholars of Sustenance (SOS), tim ini juga menjalankan kampanye daring dan kegiatan luring di Sekolah Alam. Mereka menghibahkan unit komposter beserta modul panduan agar kegiatan edukasi dapat terus dilanjutkan. Selain itu, tim menyalurkan paket bantuan atau care package dari hasil donasi kepada masyarakat Kampung Kebagusan.
Inisiatif tersebut memperlihatkan bagaimana isu lingkungan dapat diperkenalkan sejak dini melalui kegiatan sederhana, edukatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga:
- Adaptive Leadership Jadi Keterampilan Paling Dicari pada 2026, Pemimpin yang Tidak Beradaptasi Berisiko Tertinggal
- Sekolah Kepemimpinan Makin Dicari pada 2026, Bukan Lagi untuk CEO Saja tetapi untuk Siapa Pun yang Ingin Naik Level Karier
- Bekerja di Teknologi: Harus Sesuai Latar Pendidikan?
Empat Mitra Dampingi Proyek Sosial Para Finalis
Dalam proses pengembangan proyek, para finalis Nutrifood Leadership Award 2026 berkolaborasi dengan empat organisasi mitra, yaitu Rumah Harapan Indonesia (RHI), Indonesia Mengajar, Scholars of Sustenance (SOS), dan Koneksi Indonesia Inklusif (KONEKIN).
Pendampingan dilakukan oleh para mentor yang memiliki pengalaman sesuai bidang masing-masing. Mereka adalah Valencia Mieke Randa, Founder RHI; Anindita Rauda Kirana, Partnership Manager Indonesia Mengajar; Morra Lovreza, Community and Operations Manager SOS Jakarta; serta Anindita Rukma, Talent Development Officer KONEKIN.
Melalui proses tersebut, finalis tidak hanya belajar menyusun gagasan, tetapi juga memahami kebutuhan penerima manfaat, membangun kemitraan, dan mempertimbangkan keberlanjutan program.
Valencia Mieke Randa menilai pendekatan yang memperhatikan pasien sekaligus caregiver atau pendamping pasien menjadi hal penting dalam program yang didampingi RHI. Pendekatan menyeluruh tersebut dinilai dapat memberikan manfaat bagi keluarga yang mereka dampingi.
Sementara itu, Anindita Rukma menyoroti pentingnya pemberdayaan ekonomi yang inklusif. Menurutnya, kolaborasi dan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan dapat membantu membuka peluang dampak jangka panjang bagi UMKM yang dikelola penyandang disabilitas.
Morra Lovreza juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan sosial dan lingkungan. Ia melihat keterlibatan anak muda sebagai peluang untuk memperluas aksi nyata di masyarakat.
Bagi Anindita Rauda Kirana, proyek sosial yang dijalankan para finalis menunjukkan bagaimana kreativitas, pengetahuan, dan kemampuan anak muda dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga kontribusi bagi lingkungan sekitar.
Kepemimpinan Dimulai dari Kesadaran Diri dan Kolaborasi
Selain menjalankan proyek sosial, para finalis mengikuti sesi pengembangan kepemimpinan yang membahas self-awareness, kolaborasi, purpose-driven leadership, serta kemampuan menciptakan dampak berkelanjutan.
Pembelajaran tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan idealisme dengan kebutuhan nyata di lapangan. Sebab, gagasan yang baik membutuhkan pemahaman terhadap persoalan, kerja sama dengan pihak terkait, dan langkah nyata agar manfaatnya dapat dirasakan.
Sesi penghargaan Nutrifood Leadership Award 2026 berlangsung di Dream Dates Artisan Bakery & Restaurant, Senopati, Jakarta.
Memasuki tahun ke-18, program ini juga menjadi bagian dari perjalanan alumni yang telah berkembang di berbagai bidang, mulai dari perusahaan nasional dan multinasional, organisasi nonpemerintah atau NGO, kewirausahaan, social entrepreneurship, hingga pendidikan lanjutan di dalam dan luar negeri.
Dari Well-Being Menuju We-Being
Melalui Nutrifood Leadership Award 2026, pengembangan pemimpin muda tidak hanya diarahkan pada keberhasilan individu. Program ini menempatkan kepedulian, kolaborasi, dan kebermanfaatan sosial sebagai bagian penting dari proses bertumbuh.
Bagi generasi muda, pesan yang dibawa cukup relevan: perubahan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Edukasi pengolahan sampah, dukungan bagi keluarga pasien, penguatan UMKM disabilitas, maupun kegiatan pendidikan dapat menjadi langkah awal untuk memberikan kontribusi.
Pada akhirnya, well-being menjadi lebih bermakna ketika berkembang menjadi we-being—ketika kemajuan diri berjalan bersama kepedulian terhadap orang lain.
Sebab, kepemimpinan yang berdampak bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga tentang berapa banyak orang yang dapat ikut bertumbuh bersamanya.
