Edukasi Menstruasi Inklusif, Unicharm Gandeng Dinkes Karawang untuk Siswi Tuna Rungu

Edukasi Menstruasi Inklusif Unicharm - sumber foto istimewa

Dailylife.id – Membicarakan menstruasi seharusnya tidak mengenal batas. Setiap remaja putri berhak mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan menstruasi dan kebersihan diri, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Semangat tersebut diwujudkan PT Uni-Charm Indonesia Tbk (Unicharm) melalui kolaborasi bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang dalam kegiatan edukasi kesehatan menstruasi dan kebersihan diri bertajuk “Love Your Possibilities: We Can!”.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (12/8) di SLB B Tunas Harapan, Karawang, Jawa Barat, diikuti oleh puluhan siswi tuna rungu bersama para guru pendamping. Program ini dirancang untuk membuka akses edukasi kesehatan reproduksi yang lebih ramah dan inklusif sejak usia remaja.

Ketika Edukasi Kesehatan Harus Lebih Inklusif

Bagi sebagian remaja, mendapatkan informasi mengenai menstruasi mungkin terasa mudah. Informasi dapat ditemukan melalui buku, internet, media sosial, sekolah, hingga percakapan dengan orang tua.

Namun, akses tersebut belum tentu dirasakan dengan cara yang sama oleh remaja penyandang disabilitas. Keterbatasan akses pendidikan dan informasi dapat membuat pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, termasuk manajemen kebersihan menstruasi, menjadi lebih terbatas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Long Form Sensus Penduduk 2020 yang diterbitkan pada 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 75 persen anak penyandang disabilitas belum mendapatkan akses pendidikan yang memadai. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian karena pendidikan kesehatan reproduksi membutuhkan pendekatan yang dapat dipahami oleh setiap anak sesuai kebutuhannya.

Padahal, pemenuhan hak dasar remaja mencakup akses terhadap pendidikan, kesehatan, informasi, serta lingkungan yang aman dan inklusif. Kesempatan untuk mendapatkan informasi yang tepat menjadi bagian penting agar setiap remaja dapat memahami tubuhnya, menjaga kesehatan, dan membuat keputusan yang tepat bagi dirinya.

Belajar Menstruasi Lewat Visual dan Bahasa Isyarat

Unicharm bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang kemudian menghadirkan pendekatan edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan siswi tuna rungu di SLB B Tunas Harapan.

Alih-alih mengandalkan penjelasan verbal semata, materi dikemas secara interaktif dengan menggunakan alat bantu visual dan media yang kaya gambar. Guru pendamping juga turut membantu melalui penerjemahan bahasa isyarat sehingga informasi mengenai menstruasi dapat diterima dengan lebih mudah.

Materi yang diberikan tidak hanya membahas menstruasi secara umum. Para siswi juga mendapatkan informasi mengenai cara memilih pembalut sesuai kebutuhan, pentingnya menjaga kebersihan diri selama menstruasi, hingga pembahasan mengenai mitos dan fakta yang masih banyak beredar di masyarakat.

Salah satu topik yang dibahas adalah kondisi ketika darah menstruasi menggumpal. Pemahaman tersebut penting karena tekstur darah menstruasi yang lebih kental dapat memengaruhi proses penyerapan pada pembalut dan berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap kebocoran.

Dinkes Karawang: Tidak Boleh Ada Remaja yang Tertinggal

Kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah daerah dinilai dapat membantu memperluas jangkauan edukasi kesehatan kepada kelompok yang membutuhkan pendekatan khusus.

Baca juga:

Mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan, dr. Hardi Hermawan, MKM, menegaskan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk pendidikan mengenai kesehatan reproduksi dan kebersihan menstruasi.

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi penting agar kelompok rentan tetap mendapatkan informasi kesehatan dasar secara setara.

“Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak mutlak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk edukasi kesehatan reproduksi, manajemen kebersihan menstruasi, dan perawatan kebersihan diri,” ujar dr. Hardi Hermawan.

Ia menambahkan bahwa kerja sama antara pemerintah daerah dan sektor swasta dapat membantu menjangkau kelompok yang selama ini menghadapi tantangan dalam memperoleh akses informasi kesehatan.

Unicharm Dorong Edukasi Kesehatan untuk Semua

Presiden Direktur Unicharm, Yasutaka Nishioka, mengatakan bahwa kegiatan edukasi inklusif menjadi salah satu bentuk upaya perusahaan untuk mendukung perempuan Indonesia.

Menurutnya, Unicharm memiliki visi untuk menjadi perusahaan Nomor 1 yang paling dicintai oleh seluruh perempuan di Indonesia. Visi tersebut salah satunya diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan akses edukasi kesehatan kepada kelompok masyarakat dengan kebutuhan yang beragam.

“Ke depannya, Unicharm akan terus menghadirkan inovasi produk unggulan dan inisiatif keberlanjutan demi memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta lingkungan, sejalan dengan slogan perusahaan kami, Ethical Living for SDGs,” ujar Yasutaka.

Charm Hadirkan Teknologi Pori Serap “Hingga Gumpalan”

Selain edukasi, Unicharm juga memperkenalkan inovasi pada produk pembalut Charm melalui teknologi Pori Serap “Hingga Gumpalan” yang telah dipatenkan.

Berdasarkan riset Unicharm pada 2025, lebih dari 30 persen perempuan Indonesia memiliki kekhawatiran terhadap gumpalan darah menstruasi yang dapat menyebabkan kebocoran, terutama ketika tidur pada malam hari. Darah menstruasi yang menggumpal memiliki tekstur yang jauh lebih kental dibandingkan darah cair sehingga dapat tertahan di permukaan pembalut dan menghambat proses penyerapan.

Teknologi tersebut dikembangkan dengan memperbesar ukuran pori pada permukaan lapisan penyerap hingga dua kali lipat dengan kedalaman yang dioptimalkan. Tujuannya adalah membantu menyerap darah menstruasi yang menggumpal atau lebih kental tanpa harus menambah ketebalan lapisan penyerap.

Teknologi ini tersedia pada varian Charm Safe Night dan diperkenalkan melalui karakter “Gumpy” yang hadir pada kemasan. Karakter tersebut menjadi cara Unicharm untuk mengubah cara pandang terhadap menstruasi agar pembahasan mengenai darah menstruasi tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus ditutupi.

Pada akhirnya, edukasi menstruasi bukan sekadar membicarakan penggunaan pembalut. Lebih jauh, edukasi yang tepat dan inklusif membantu remaja putri memahami tubuhnya, menjaga kebersihan diri, serta tumbuh dengan pengetahuan dan rasa percaya diri yang sama, tanpa terkecuali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *