Daily-life.id — 5 pulau terpencil Indonesia ini buktinya negara kita jauh lebih kaya dari sekadar Bali yang selama ini jadi destinasi andalan turis dunia.
Indonesia punya lebih dari 17.000 pulau, tapi cuma segelintir yang benar-benar menawarkan pengalaman terpencil, sunyi, dan eksklusif kelas dunia. Lima pulau ini bukan cuma indah, tapi masing-masing punya cerita unik di baliknya yang jarang diketahui orang.
1. Sumba — Rumah NIHI Sumba, Resor yang Pernah Dinobatkan Terbaik di Dunia
Pulau Sumba terletak nggak jauh dari Bali, tapi minim infrastruktur turis dan jalannya masih berbatu.
Hal ini justru yang bikin pulau ini tetap alami.
Di sinilah berdiri NIHI Sumba, resor yang awalnya dibangun 1988 dengan nama Nihiwatu, lalu diambil alih miliarder
Christopher Burch pada 2012 dan disulap jadi salah satu resor eco-luxury paling diakui dunia.
Fakta menariknya: 27 vila di NIHI Sumba dibangun menempel di lereng bukit, menghadap langsung ke lengkungan pantai pasir putih sepanjang 2,5 kilometer.
Suara ombak dari salah satu spot surfing terbaik dunia bahkan masih terdengar sampai malam hari.
Tempat ini juga terkenal dengan pengalaman menunggang kuda langsung ke tepi laut saat matahari terbenam — sesuatu yang jarang bisa ditemukan di destinasi lain.
2. Moyo — Pulau Kecil di Laut Flores dengan Tenda Safari Ala Afrika
Pulau Moyo, yang cuma bisa dicapai naik kapal dari Sumbawa, jadi rumah bagi Amanwana, yaitu resor unik
yang menyediakan akomodasi tenda bergaya safari, terinspirasi dari kamp safari Afrika, tapi dengan pemandangan Laut Flores.
Cuma ada 17 tenda di sepanjang garis pantainya, memberi jarak privasi yang benar-benar terasa.
Salah satu pengalaman paling ikonik di sini adalah berenang bareng hiu paus (whale shark) di Teluk Saleh, Sumbawa — ekskursi yang berangkat jam 4 pagi, tapi menurut banyak pengunjung, worth banget setiap detik alarm paginya.
Seluruh pulau Moyo juga berstatus taman nasional lindung, jadi ekosistemnya benar-benar terjaga.
3. Kepulauan Anambas — Bawah Reserve yang Cuma Bisa Diakses Naik Seaplane
Ini destinasi paling ekstrem soal keterpencilan. Bawah Reserve adalah resor yang dibangun di gugusan enam pulau kecil di Kepulauan Anambas,
Laut China Selatan, dan satu-satunya cara masuk ke sana adalah naik pesawat amfibi (seaplane) yang mendarat langsung di laguna biru toska.
Nggak ada mobil, nggak ada jalan raya, sinyal WiFi pun sengaja dibatasi. Fasilitas vilanya tersebar di pantai, dek di atas air, sampai perbukitan hutan,
semuanya dirancang dengan prinsip keberlanjutan sebagai fondasi utama. Buat yang benar-benar ingin “menghilang” sejenak dari dunia, ini destinasi yang paling mendekati fantasi itu.

Baca juga:
- Tips Packing Koper Kabin Bebas Biaya Bagasi Tambahan: 7 Trik Cerdas agar Liburan Lebih Hemat Tanpa Koper Besar
- Apa Arti Bintang pada Hotel? Ternyata Bukan Sekadar Kamar Mewah dan Harga Mahal
- Luxury Hotel Booking Mistakes: 5 Kesalahan Fatal yang Membuat Liburan Mewah Jadi Lebih Mahal
4. Raja Ampat — Misool Resort di Atas Kisah Sukses Pemulihan Terumbu Karang
Raja Ampat sudah lama dikenal sebagai “surga terakhir di bumi” buat pecinta biodiversitas laut, dan Misool Resort
jadi salah satu bukti nyata bagaimana pariwisata bisa berjalan seiring konservasi.
Resor ini dibangun di atas kawasan yang jadi salah satu kisah pemulihan terumbu karang paling sukses di dunia.
Kawasan ini dulu rusak akibat praktik penangkapan ikan merusak, kini kembali jadi rumah bagi biodiversitas laut yang melimpah.
Tamu menginap di cottage terapung di atas air, dikelilingi Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), dan kawasan laut
dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, mencakup perairan Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon.
5. Bangka, Sulawesi Utara — Coral Eye, dari Stasiun Riset Jadi Resor Butik
Ini destinasi yang paling unik ceritanya. Coral Eye Bangka awalnya bukan resor sama sekali, namun pada 2009 empat marine biologist muda (asal Italia dan Belgia) mendirikan pos riset laut sederhana di Pulau Bangka,
Sulawesi Utara, dengan tujuan awal jadi ruang kolaborasi universitas dan mahasiswa buat riset ekosistem laut tropis. Baru pada 2013, tempat ini mulai dibuka untuk wisatawan.
Lokasinya berada persis di antara dua spot diving legendaris dunia, yaitu Taman Nasional Bunaken dan Selat Lembeh
dengan lebih dari 30 titik selam kelas dunia di sekitarnya.
Tempat ini juga jadi bagian dari No-Trash Triangle Initiative, kolaborasi resor-resor di kawasan Coral Triangle sejak 2017 untuk memerangi sampah plastik laut.
Sampai sekarang, penelitian ilmiah tetap berjalan berdampingan dengan aktivitas wisata termasuk proyek dokumentasi spesies ikan pesisir yang masih berlangsung sampai sekarang.
Kenapa Pulau-Pulau Ini Layak Diperjuangkan?
Yang membuat kelima pulau terpencil Indonesia ini istimewa bukan cuma soal keindahan alamnya semata, tapi soal komitmen jangka panjang di baliknya.
NIHI yang butuh puluhan tahun menjaga ombak dan pantai tetap alami, Misool yang membuktikan pariwisata bisa memulihkan ekosistem yang rusak, sampai Coral Eye yang lahir dari semangat riset ilmiah murni sebelum jadi destinasi wisata.
Aksesnya memang nggak mudah, dan sebagian cuma bisa dicapai naik seaplane atau kombinasi pesawat-kapal berjam-jam tapi justru itulah yang menjaga kualitas pengalamannya tetap eksklusif dan jauh dari keramaian.
Buat kamu yang udah bosan destinasi mainstream dan pengen coba sisi lain Indonesia yang jauh lebih tersembunyi, lima pulau ini bisa jadi bucket list baru,
serta bukti nyata bahwa kekayaan geografis Indonesia jauh lebih luas dari yang biasa muncul di feed Instagram kebanyakan orang.
