Fenomena Global: Orang Tua Makin Banyak yang Tetap Membiayai Anak Dewasanya, Ini Data dan Alasannya

orang tua membiayai anak dewasa

Daily-life.id — Sebuah fenomena keluarga sedang ramai dibahas media global minggu ini, dan bukan cerita receh: semakin banyak orang tua yang tetap membiayai kebutuhan finansial anak-anak mereka yang sudah dewasa,

bahkan ketika itu mengorbankan kondisi keuangan mereka sendiri di masa pensiun.

Ini bukan cuma soal satu-dua keluarga yang “kebetulan” begitu, karena datanya menunjukkan ini pola

yang berkembang secara sistemik, didorong oleh perubahan besar dalam struktur biaya hidup.

Kisah Nyata di Baliknya

NPR baru-baru ini mengangkat kisah Mabel Lago, perempuan berusia 70-an tahun yang pensiun bersama suaminya.

Ketika mereka memutuskan pindah dari New Jersey ke South Carolina, mereka sengaja membangun rumah pensiun dengan kamar tambahan khusus untuk anak bungsu mereka yang berusia 39 tahun,

yang masih tinggal bersama mereka karena tidak mampu hidup mandiri secara finansial, meski bekerja keras di sebuah toko minuman dengan gaji rendah tanpa tunjangan kesehatan,

ditambah kondisi diabetes tipe 1 yang membuat biaya asuransinya membengkak.

Kisah serupa juga dialami keluarga Zucchero di dekat Seattle.

Pasangan pensiunan ini punya tiga anak dewasa berusia 31 hingga 34 tahun, dan menurut pengakuan sang ayah,

kebutuhan untuk terus membantu mereka justru makin memberat dalam lima hingga delapan tahun terakhir,

meski ketiga anaknya berpenghasilan cukup baik.

Salah satu anaknya bahkan pindah kembali tinggal bersama orang tua, lengkap dengan suami dan dua anak kecil,

karena harga rumah di area Seattle sudah dua kali lipat dari median nasional.

Data yang Menunjukkan Ini Bukan Kasus Terisolasi

Fenomena ini didukung angka yang cukup signifikan dari berbagai lembaga riset di Amerika Serikat:

  • Survei AARP menemukan 75 persen orang tua di semua tingkat pendapatan membantu anak dewasa mereka dalam berbagai bentuk — mulai dari membayar tagihan ponsel dan internet, biaya transportasi, sewa rumah, hingga memberi uang tunai langsung. Rata-rata nilainya mencapai USD 7.000 per tahun.
  • Riset Northwestern Mutual mencatat 42 persen orang Amerika masih merasa bergantung secara finansial pada orang tua mereka — termasuk sepertiga dari kelompok Generasi X yang usianya kini sudah setengah baya.
  • Menurut Urban Institute, proporsi orang dewasa usia 25-34 tahun yang tinggal bersama orang tua hampir dua kali lipat sejak 2005, kini mencapai sekitar 20 persen.
  • Satu analisis dari Realtor.com menemukan sepertiga dari seluruh orang dewasa di bawah 35 tahun kini tinggal kembali di rumah orang tua — mendekati rekor tertinggi selama pandemi Covid-19, meskipun mayoritas dari mereka sebenarnya sudah bekerja.
  • Survei Pew Research menemukan 80 persen responden setuju bahwa generasi muda saat ini lebih sulit memenuhi kebutuhan dasar dibanding generasi sebelumnya.

Baca Juga:

Kenapa Fenomena Ini Terjadi? Bukan Soal “Generasi Manja”

Alasan di balik tren ini cukup jelas dan bukan soal karakter generasi muda yang dianggap kurang mandiri, melainkan perubahan struktural dalam lanskap ekonomi.

Peneliti Pew Research Center, Rachel Minkin, menjelaskan generasi muda saat ini benar-benar tumbuh di lanskap ekonomi yang berbeda dari generasi orang tua mereka.

Beberapa faktor konkret yang teridentifikasi:

Harga rumah yang jauh melampaui kenaikan gaji.

Di banyak kota besar – biaya hidup terutama perumahan, melonjak jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan gaji di awal karier,

membuat generasi muda kesulitan mencapai kemandirian finansial meski sudah bekerja penuh waktu.

Beban utang pendidikan yang lebih besar.

Analisis Pew menemukan generasi muda saat ini jauh lebih mungkin memiliki utang pinjaman pendidikan dibanding tiga dekade lalu,

dan meski proporsi yang punya utang KPR relatif sama, jumlah utangnya (setelah disesuaikan inflasi) jauh lebih besar.

Inflasi yang menggerus kebutuhan pokok.

Kenaikan harga bahan bakar dan pangan yang terus tinggi membuat keluarga, baik generasi muda maupun orang tua yang membantu mereka — sama-sama harus memangkas pengeluaran,

seperti yang dialami keluarga Lago yang mengurangi konsumsi daging sapi dan aktivitas berkendara.

Dampaknya Justru Mengancam Masa Pensiun Orang Tua

Ini bagian yang jarang disorot tapi penting: membantu anak dewasa bukan tanpa konsekuensi bagi orang tua sendiri.

Richard Johnson, yang memimpin tim kebijakan keamanan finansial di AARP, menegaskan bahwa ketika keluarga terpaksa mengalihkan

sumber daya terbatas mereka untuk membantu anak, dana tersebut tidak lagi bisa dialokasikan untuk tabungan pensiun.

Situasi ini berpotensi membahayakan masa depan finansial orang tua sendiri.

Nate Kinzinger, seorang perencana keuangan yang telah berkarier 25 tahun di industri ini, bahkan mengaku pernah punya klien yang menunda masa pensiun mereka demi terus membantu anak dewasa membayar utang pendidikan.

Ia kini rutin menyarankan keluarga untuk mempertimbangkan “return on investment” dari jurusan kuliah yang dipilih anak, sekaligus mengingatkan orang tua

yang terus memberi bantuan rutin tanpa sadar bisa kehabisan dana yang sebenarnya mereka butuhkan di masa tua nanti.

Bagaimana dengan Indonesia? Fenomenanya Justru Lebih Berat

Menariknya, Indonesia punya fenomena serupa tapi dengan beban yang justru lebih kompleks: generasi sandwich, di mana satu orang harus menanggung beban finansial dua arah sekaligus.

Membiayai anak sekaligus orang tua secara bersamaan, bukan cuma satu arah seperti tren di Amerika Serikat yang baru dibahas di atas.

Datanya juga tidak kalah mengkhawatirkan. Survei terbaru yang dilaporkan awal 2026 mencatat sekitar 90 persen pekerja di Indonesia kini menghadapi tekanan finansial ganda semacam ini.

Data Badan Pusat Statistik mencatat rasio ketergantungan penduduk Indonesia berada di angka 47,2 pada 2025,

yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung 47-48 orang usia non-produktif.

Angka ini diproyeksikan tetap tinggi hingga 2035.

Survei Tirto bersama Jakpat menemukan 48,62 persen generasi sandwich di Indonesia mengaku kesulitan mencapai tujuan finansial pribadi mereka sendiri akibat beban ganda ini.

Yang lebih mengkhawatirkan, survei YouGov 2025 menemukan 46 persen generasi sandwich mengalami stagnasi penghasilan,

sementara 62 persen di antaranya terpaksa mengambil pinjaman untuk menutupi kebutuhan.

Mulai dari pinjam ke keluarga/teman (24 persen), layanan paylater (22 persen), hingga kartu kredit (16 persen).

Fenomena ini bahkan sudah merambah ke Gen Z: 50,6 persen Gen Z Indonesia mengaku sudah masuk kategori generasi sandwich, kerap dengan penghasilan bulanan hanya di kisaran Rp3-5 juta.

Satu Fenomena, Dua Arah Tekanan yang Sama-Sama Berat

Meski arah tekanannya berbeda, Amerika Serikat lebih banyak membahas orang tua yang membiayai anak dewasa,

sementara Indonesia menghadapi beban dua arah sekaligus.

Keduanya punya akar masalah yang mirip: biaya hidup yang naik jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan,

membuat garis kemandirian finansial antar generasi menjadi kabur.

Ini bukan sekadar cerita personal yang terjadi kebetulan di beberapa keluarga, tapi sinyal struktural yang layak jadi perhatian bersama,

baik dalam diskusi kebijakan publik soal biaya hidup dan perumahan, maupun dalam percakapan personal tiap keluarga soal batasan finansial yang sehat,

supaya bantuan antar generasi tidak berubah jadi ketergantungan permanen yang justru mengorbankan masa depan finansial semua pihak yang terlibat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *