Daily-life.id — Pesawat terbang selama puluhan tahun identik dengan suara mesin jet yang keras, bahan bakar aviasi, dan perjalanan jarak jauh dalam hitungan jam. Namun, teknologi penerbangan mulai membuka babak baru, dengan listrik, hybrid-electric, dan hidrogen.
Perubahan ini bukan lagi sekadar konsep futuristis. Berbagai perusahaan, lembaga riset, dan produsen teknologi penerbangan sedang mengembangkan sistem propulsi baru untuk mengurangi penggunaan bahan bakar konvensional sekaligus meningkatkan efisiensi pesawat. Jetgala juga menyoroti bagaimana propulsi listrik dan hidrogen mulai masuk dalam pembicaraan mengenai masa depan penerbangan premium.
Bukan Berarti Semua Pesawat Akan Langsung Jadi Listrik
Mendengar istilah pesawat listrik, orang mungkin langsung membayangkan pesawat besar seperti Boeing atau Airbus yang terbang ratusan penumpang hanya menggunakan baterai.
Kenyataannya jauh lebih kompleks.
NASA menjelaskan bahwa elektrifikasi penerbangan dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari pesawat all-electric hingga sistem hybrid yang menggabungkan mesin konvensional dengan motor listrik. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi pada bagian tertentu dari penerbangan.
Masalah terbesar salah satunya adalah energi dan berat baterai. Pesawat membutuhkan tenaga besar untuk lepas landas dan mempertahankan penerbangan, sementara setiap kilogram tambahan ikut memengaruhi efisiensi.
Karena itu, untuk beberapa jenis pesawat, teknologi hybrid-electric justru menjadi salah satu jalur pengembangan yang menarik.
Lalu, Mengapa Hidrogen Ikut Diperhitungkan?
Hidrogen menawarkan pendekatan yang berbeda.
Teknologi ini dapat digunakan melalui pembakaran hidrogen pada mesin atau melalui fuel cell yang menghasilkan listrik untuk menggerakkan sistem propulsi. Jepang, misalnya, melalui proyek Green Innovation Fund, mengembangkan teknologi propulsi listrik berbasis fuel cell dengan liquid hydrogen hingga kelas 4 MW.
Namun, hidrogen juga bukan solusi instan.
Pesawat membutuhkan sistem penyimpanan khusus karena karakteristik hidrogen berbeda dengan bahan bakar aviasi konvensional. Tangki, distribusi, sistem termal, keselamatan, hingga infrastruktur di bandara harus ikut dikembangkan.
Artinya, mengubah pesawat dari bahan bakar konvensional menjadi hidrogen bukan sekadar mengganti “isi tangki”.
Baca juga:
- Kuala Bear atau Kuala Bull? Strategi Malaysia Airlines di Tengah Tekanan Harga Fuel
- Lima Maskapai Asia-Pasifik Menghadapi Guncangan Harga BBM Pesawat: Pendapatan Naik, Tapi Laba Tertekan
- Bukan Sekadar Laporan Keuangan, Pekan Ini Menentukan Arah Industri Penerbangan Global
Teknologinya Mulai Diuji, Bukan Sekadar Gambar Konsep
Perkembangan terbaru menunjukkan teknologi ini mulai bergerak dari laboratorium menuju pengujian yang semakin realistis.
Pada 2026, GE Aerospace dan Avio Aero menyelesaikan pengujian hydrogen engine restart dalam kondisi simulasi ketinggian. Pada waktu yang sama, sistem fuel cell kelas megawatt juga diuji dalam simulasi profil penerbangan.
Di sisi lain, Safran dan AURA AERO memperkuat kerja sama untuk mengembangkan pesawat all-electric dan hybrid-electric, termasuk pesawat regional 19 penumpang ERA dengan delapan motor listrik.
Jadi, arah teknologinya mulai terlihat: pesawat kecil dan regional berpotensi menjadi ruang penting bagi elektrifikasi, sementara hidrogen dan hybrid dapat menjadi bagian dari solusi untuk kebutuhan yang berbeda.
Perjalanan Menuju Pesawat Lebih Bersih Masih Panjang
Teknologi pesawat listrik dan hidrogen memang menjanjikan, tetapi industri penerbangan memiliki satu tuntutan yang tidak bisa ditawar: keselamatan.
Sistem baru harus diuji, disertifikasi, diproduksi dalam skala industri, dan didukung infrastruktur yang memadai. Selain itu, produsen harus memastikan teknologi baru tetap memenuhi kebutuhan penumpang seperti jarak tempuh, kapasitas, keandalan dan waktu operasional.
Karena itu, revolusi penerbangan kemungkinan tidak datang dalam satu bentuk.
Bisa saja masa depan penerbangan terdiri dari berbagai teknologi sekaligus: pesawat listrik untuk rute tertentu, hybrid-electric untuk kebutuhan lainnya, hidrogen untuk jenis penerbangan yang sesuai, sementara bahan bakar penerbangan berkelanjutan tetap digunakan pada armada konvensional.
Pesawat masa depan mungkin bukan sekadar pesawat yang terbang lebih cepat. Bisa jadi, perubahan terbesarnya justru terjadi di balik sayap—pada cara pesawat mendapatkan tenaga untuk terbang.
