Vietnam sedang menikmati momentum besar di industri teknologi. Investasi data center Vietnam meningkat seiring kebutuhan artificial intelligence (AI), cloud computing, dan ekonomi digital yang terus berkembang.
Namun, di balik proyek bernilai miliaran dolar, ada satu pertanyaan yang mulai semakin penting yaitu, apakah Vietnam punya cukup listrik dan lokasi yang siap untuk menampung data center berskala besar?
Laporan Business Times menyoroti kondisi tersebut sebagai semacam reality check. Minat investor memang tinggi, tetapi membangun pusat data bukan sekadar menyediakan lahan dan gedung. Infrastruktur listrik, konektivitas, pendinginan, jaringan fiber hingga kesiapan lokasi ikut menentukan apakah sebuah proyek benar-benar bisa berjalan sesuai rencana.
AI Membuat Kebutuhan Data Center Semakin Besar
Ledakan AI menjadi salah satu mesin utama di balik meningkatnya kebutuhan pusat data.
Model AI membutuhkan kapasitas komputasi besar. Semakin banyak perusahaan menggunakan AI, cloud, dan layanan digital, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur yang mampu menyimpan serta memproses data.
Vietnam pun mulai dilirik sebagai pasar pertumbuhan baru di Asia. Cushman & Wakefield mencatat Vietnam memiliki sekitar 73 MW kapasitas data center operasional, dengan tambahan sekitar 137 MW dalam pipeline hingga 2030.
Angka tersebut menunjukkan peluang yang besar. Tetapi peluang juga datang bersama kebutuhan infrastruktur yang tidak kecil.
Masalahnya Bukan Sekadar Mencari Tanah
Untuk membangun data center, lokasi strategis tidak cukup hanya tersedia secara fisik. Lokasi tersebut harus memiliki akses listrik yang memadai, jaringan fiber, konektivitas internasional, air untuk kebutuhan operasional dan sistem pendukung lainnya.
Cushman & Wakefield memperkirakan proyek baru berkapasitas 100 MW di klaster utama Vietnam dapat menghadapi waktu tunggu sekitar dua hingga tiga tahun untuk mendapatkan pasokan listrik baru.
Ini menjadi persoalan penting karena data center AI membutuhkan daya yang jauh lebih besar dibandingkan fasilitas digital biasa.
Dengan kata lain, investor mungkin sudah memiliki modal dan teknologi, tetapi proyek tetap sulit bergerak apabila listrik dan koneksi jaringan belum siap.
Baca juga:
- Strategi Perusahaan Global Hadapi Persaingan Data Center: Dari Bangun Reaktor Nuklir Sendiri sampai Kejar Kecepatan Bangun
- Ledakan Pusat Data AI di Malaysia Picu Kekhawatiran, Listrik dan Air Bersih Jadi Taruhan Besar
- Daftar Pengguna AI di Negara ASEAN: Siapa Paling Aktif, dan Buat Apa Masing-Masing?
Investasi Miliaran Dolar Mulai Berdatangan
Momentum investasi sebenarnya cukup kuat. VnExpress melaporkan sejumlah proyek data center skala besar bernilai miliaran dolar mulai diumumkan sejak awal 2026, didorong oleh meningkatnya kebutuhan AI dan infrastruktur cloud.
Vietnam juga memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari biaya pembangunan yang relatif kompetitif hingga potensi energi terbarukan. Cushman & Wakefield mencatat biaya konstruksi data center Vietnam berada pada kisaran US$5,7 juta hingga US$8,7 juta per MW, dengan angka tengah sekitar US$7,2 juta per MW.
Namun, biaya pembangunan bukan satu-satunya pertimbangan. Investor juga membutuhkan kepastian mengenai listrik, regulasi, konektivitas dan kesiapan ekosistem digital.
Data Center Bisa Jadi Mesin Ekonomi, Asal Infrastruktur Mengikuti
Tantangan Vietnam tidak berhenti pada proyek data center. Kebutuhan listrik dari AI, manufaktur semikonduktor, transportasi listrik dan sektor industri lainnya juga ikut meningkat.
Vietnam News melaporkan pemerintah memperkirakan adanya potensi kekurangan kapasitas listrik sekitar 4.256 MW pada 2027, sementara kebutuhan energi terus bertambah.
Inilah bagian menarik dari perkembangan investasi data center Vietnam. Perlombaan membangun pusat data sebenarnya adalah perlombaan membangun ekosistem.
Gedungnya bisa dibangun. Server bisa didatangkan. Teknologi AI bisa dibeli. Tetapi semuanya membutuhkan listrik, jaringan, lahan, air, tenaga kerja dan regulasi yang mampu mengimbanginya.
Bagi Vietnam, pertumbuhan data center membuka peluang besar untuk memperkuat ekonomi digital. Namun, keberhasilan jangka panjangnya akan sangat bergantung pada seberapa cepat infrastruktur dasar mampu mengejar pertumbuhan kebutuhan teknologi.
Karena di era AI, data mungkin menjadi aset baru, tetapi listrik tetap menjadi bahan bakarnya.
