Masih banyak masyarakat yang menganggap minyak jelantah sebagai limbah dapur yang tidak memiliki nilai. Padahal, jika dikelola dengan benar, minyak bekas menggoreng dapat diolah menjadi bahan bakar ramah lingkungan yang mendukung transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
Inilah yang mendorong Somerset Berlian Jakarta dan TUKR ubah minyak jelantah jadi biofuel melalui sebuah program keberlanjutan
yang tidak hanya melibatkan operasional hotel, tetapi juga mengajak staf dan tamu untuk berpartisipasi langsung dalam menjaga lingkungan.
Kolaborasi ini menjadi salah satu langkah nyata bagaimana sektor hospitality mulai mengambil peran lebih aktif dalam mendukung ekonomi sirkular dan pengurangan limbah rumah tangga.
Program MENYALA, Ketika Minyak Bekas Punya Nilai Baru
Program yang diberi nama MENYALA (Mengelola Minyak Jelantah) menjadi inti dari kerja sama antara Somerset Berlian Jakarta dan TUKR.
Melalui program ini, staf maupun tamu hotel mendapatkan jerigen berkapasitas satu liter yang dapat digunakan untuk mengumpulkan minyak jelantah dari rumah.
Menariknya, setiap liter minyak jelantah yang disetorkan akan dihargai sebesar Rp8.000.
Konsep sederhana ini memiliki dua manfaat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan dan memberikan nilai ekonomi dari limbah rumah tangga.
Dengan cara tersebut, masyarakat diajak melihat bahwa minyak jelantah bukan lagi sampah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang masih memiliki manfaat.
Mengapa Minyak Jelantah Tidak Boleh Dibuang Sembarangan?
Banyak orang belum menyadari bahwa minyak jelantah yang dibuang ke saluran air dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan.
Beberapa dampaknya antara lain:
Menyumbat Saluran Air
Lemak yang mengendap dapat menyebabkan penyumbatan pada sistem pembuangan.
Mencemari Sungai dan Perairan
Minyak yang masuk ke lingkungan dapat mengganggu kualitas air dan kehidupan organisme di dalamnya.
Menambah Beban Pengolahan Limbah
Semakin banyak minyak yang dibuang sembarangan, semakin besar biaya yang diperlukan untuk proses pengolahan limbah.
Karena itu, pengumpulan dan pengolahan minyak jelantah menjadi biofuel kini menjadi salah satu solusi yang banyak didorong di berbagai negara.
Dari Dapur Menjadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan
TUKR dikenal sebagai salah satu perusahaan pengumpul minyak jelantah yang fokus mengolah Used Cooking Oil (UCO) menjadi bahan bakar ramah lingkungan atau biofuel.
Biofuel dianggap sebagai salah satu alternatif energi yang dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Melalui pengolahan yang tepat, minyak jelantah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat kembali masuk ke dalam siklus ekonomi sebagai sumber energi baru.
Inilah alasan mengapa Somerset Berlian Jakarta dan TUKR ubah minyak jelantah jadi biofuel untuk mendukung gaya hidup ramah lingkungan menjadi program yang relevan dengan tantangan lingkungan saat ini.
Hotel Kini Tidak Hanya Menjual Kenyamanan
Dalam beberapa tahun terakhir, wisatawan semakin memperhatikan aspek keberlanjutan ketika memilih akomodasi.
Hotel yang menerapkan praktik ramah lingkungan cenderung mendapatkan perhatian lebih dari wisatawan modern yang peduli terhadap dampak perjalanan mereka terhadap lingkungan.
Karena itu, program seperti MENYALA menjadi bagian dari strategi keberlanjutan yang lebih luas.
Bukan hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga membangun budaya peduli lingkungan yang melibatkan seluruh komunitas hotel.
Edukasi Lingkungan untuk Staf dan Tamu
Salah satu aspek yang membedakan program ini adalah keterlibatan langsung staf dan tamu.
Alih-alih hanya menjadi kebijakan internal, Somerset Berlian Jakarta mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dalam pengumpulan minyak jelantah.
Pendekatan ini membantu meningkatkan kesadaran bahwa perubahan besar sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Semakin banyak minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan, semakin besar pula dampak positif yang dapat diberikan terhadap lingkungan.

Baca Juga:
- Ascott Indonesia Bikin Gebrakan Inklusif, Siswa Berkebutuhan Khusus Langsung Belajar di Hotel Internasional
- Ascott Jabotabek & Universitas Trilogi Gaungkan Edukasi Lingkungan Lewat Urban Farming di World Environmental Education Day
- Somerset Berlian Jakarta Hadirkan Momen Haru untuk Anak Down Syndrome, Bukti Hotel Modern Kini Tak Hanya Soal Kemewahan
Sustainability Kini Menjadi Standar Baru Industri Hospitality
Industri perhotelan global sedang bergerak menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Mulai dari pengurangan plastik sekali pakai, efisiensi energi, penghematan air, hingga pengelolaan limbah, semua menjadi bagian dari transformasi menuju hospitality yang lebih bertanggung jawab.
Melalui kolaborasi ini, Somerset Berlian Jakarta menunjukkan bahwa komitmen keberlanjutan tidak harus dimulai dari proyek besar.
Langkah sederhana seperti pengelolaan minyak jelantah pun dapat memberikan dampak yang signifikan jika dilakukan secara konsisten.
Somerset Berlian Jakarta dan TUKR ubah minyak jelantah jadi biofuel melalui program MENYALA yang mengajak staf dan tamu hotel mengelola limbah dapur secara lebih bertanggung jawab.
Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, program ini juga menunjukkan bahwa minyak jelantah memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi alternatif.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan, langkah seperti ini menjadi contoh bagaimana sektor hospitality dapat berkontribusi langsung dalam menciptakan masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Bagi masyarakat, pesan utamanya sederhana: jangan buru-buru membuang minyak jelantah. Apa yang terlihat sebagai limbah hari ini, bisa menjadi energi masa depan jika dikelola dengan cara yang tepat.
