Daily-life.id – Batik semakin mudah ditemui dalam berbagai bentuk pengalaman, bukan hanya sebagai busana formal.
Semangat tersebut terlihat dalam Wastraloka di Vertu Harmoni Jakarta, sebuah perayaan yang memadukan fashion, kuliner, seni, budaya, musik, dan kepedulian sosial dalam satu acara.
Digelar pada Minggu, 27 September 2026 di Voyage Restaurant, lantai 5 Vertu Harmoni Jakarta, Wastraloka hadir dalam format trunk show dan buffet lunch
untuk menyambut Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober. Penetapan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.
Wastraloka Bawa Batik ke Fashion Modern
Salah satu daya tarik Wastraloka di Vertu Harmoni Jakarta adalah kolaborasi fashion yang melibatkan Alleira Batik, Coreta Louise, dan Sasya Tranggono.
Dalam trunk show, salah satu look yang ditampilkan adalah kebaya Noni karya Coreta Louise menggunakan kain batik dari Alleira Batik yang dikembangkan melalui kolaborasi bersama Sasya Tranggono.
Perpaduan tersebut memperlihatkan bagaimana wastra Indonesia dapat diterjemahkan menjadi fashion yang lebih modern tanpa kehilangan karakter budaya.
Bagi Vertu Harmoni Jakarta, pendekatan seperti ini membuat batik terasa lebih dekat dengan gaya hidup masa kini. Batik tidak hanya dikenakan pada momen tertentu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari fashion, seni, dan pengalaman lifestyle.
Kuliner Nusantara Hadir dengan Sentuhan Fusion
Bukan hanya fashion, kuliner Nusantara menjadi bagian penting dalam Wastraloka. Chef Vallerian dan Chef Alan dari Vertu Harmoni Jakarta menyiapkan berbagai sajian yang menggabungkan cita rasa Indonesia dengan teknik dan penyajian modern.
Chef Vallerian menghadirkan Nasi Goreng Ujung Pandang khas Makassar, Ikan Pari Asap dengan Sayur Daun Singkong,
Sop Buntut, Ayam Pelalah, serta Nasi Bali yang terdiri dari nasi kuning Bali, ayam pelalah, urap, dan sate lilit.
Eksplorasi fusion juga terlihat melalui tiga kreasi sushi roll, yakni Rendang Sushi Roll, Urap Sushi Roll, dan Balinese Chicken Sushi Roll.
Ada pula Pizza Ayam Rica-Rica yang membawa rasa khas Indonesia ke dalam format hidangan yang lebih familiar bagi penikmat kuliner modern.
Untuk dessert, Chef Alan menghadirkan Pisang Rai, Klepon Choux, Coconut Cheesecake, dan Cendol Panna Cotta. Sajian tersebut mencoba membawa rasa dan inspirasi jajanan Nusantara ke dalam presentasi dessert kontemporer.

Baca Juga:
- Bolu Batik Kukus JS Luwansa, Cara Kreatif Rayakan Hari Batik Nasional
- Gen Z dan Pertanian: Dari Sawah ke Peluang Bisnis UMKM
- 7 Kilometer untuk Sejuta Kebaikan, HARRIS Bekasi Ajak Warga Berlari di SHARE THE MILES 2026
Wastraloka Juga Membawa Pesan Inklusivitas
Yang membuat Wastraloka tidak berhenti sebagai perayaan fashion dan kuliner adalah keterlibatan Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) dan Wonderful Warriors.
Ibu Ruth Susiana Setiabudi, Vice Chairman II YKAI, hadir bersama dua anak dengan kanker, Syakina Abelia dan Haikal Arshavin. Kehadiran mereka menjadi bagian dari pesan inklusivitas sekaligus membuka ruang bagi para tamu untuk mengenal kisah dan perjuangan anak-anak dengan kanker.
Rangkaian acara kemudian dilengkapi penampilan Bryan Zaparta, yang membawakan lagu-lagu Top 40 dan karya orisinalnya.
Batik, Kuliner, hingga Kepedulian dalam Satu Pengalaman
Director of Marketing and Communication Vertu Hotel Harmoni Jakarta, Roman Soleh, menyampaikan bahwa
Wastraloka dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap batik sekaligus ruang yang mempertemukan karya, kreator, komunitas, dan masyarakat.
Bagi daily-life.id, menariknya Wastraloka justru terletak pada cara acara ini memperluas makna perayaan batik. Ada wastra, fashion, kuliner, seni, musik, dan kepedulian sosial yang bertemu dalam satu pengalaman.
Apalagi, Hari Batik Nasional 2026 juga menjadi momentum penting bagi pengembangan industri batik.
Kementerian Perindustrian menekankan bahwa batik bukan hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mempunyai nilai ekonomi dan peluang pengembangan bagi industri kecil dan menengah.
Wastraloka menunjukkan bahwa merayakan batik tidak harus selalu dengan cara yang sama. Ketika budaya bertemu kreativitas dan kepedulian, warisan Indonesia bisa terasa lebih dekat dengan kehidupan hari ini.
