Riset HBS: Pola Bicara di Tempat Kerja Bisa Memengaruhi Peluang Karier

pola bicara di tempat kerja

Daily-Life.id – Pernah merasa seseorang dianggap lebih “supel”, “pintar bergaul”, atau lebih cocok menjadi pemimpin hanya karena cara bicaranya terdengar familiar?

Sebuah riset Harvard Business School (HBS) menunjukkan bahwa pola bicara di tempat kerja ternyata bisa ikut

memengaruhi bagaimana kemampuan sosial seseorang dibaca dan, pada akhirnya, jenis peluang pekerjaan yang mereka dapatkan.

Riset berjudul Workplace Communication as Systemic Disadvantage dilakukan Kadeem Noray dari Harvard Business School

dan Savannah Noray dari Harvard Kennedy School.

Working paper tersebut diterbitkan pada April 2026 dan menggunakan data pasar kerja selama beberapa dekade, termasuk rekaman suara pekerja.

Pola Bicara di Tempat Kerja dan Efek “Terdengar Familiar”

Menurut temuan penelitian, persoalannya bukan karena pola bicara tertentu otomatis menunjukkan seseorang lebih mampu.

Justru, pola bicara di tempat kerja yang terasa familiar bagi kelompok dominan dapat membuat kemampuan sosial seseorang dinilai lebih positif.

Para peneliti menggunakan data National Longitudinal Survey of Youth, yang memiliki lebih dari 40.000 catatan pekerja dan mulai memasukkan rekaman audio sejak 1997.

Salah satu pendekatan penelitian adalah membandingkan penggunaan aksen Southern di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Hasilnya cukup menarik. Pekerja dengan pola bicara yang lebih umum di wilayah tertentu lebih mungkin masuk ke pekerjaan yang banyak membutuhkan interaksi dengan orang lain ketika berada di wilayah tersebut.

Bahkan, hubungan antara kemampuan sosial pekerja dan intensitas interaksi sosial dalam pekerjaannya tercatat setidaknya

2,5 kali lebih kuat ketika pola bicara pekerja sesuai dengan kelompok budaya yang dominan di lingkungan tersebut.

Bukan Berarti Aksen Menentukan Kemampuan

Temuan ini penting dibaca dengan konteks yang tepat. Penelitian tersebut tidak mengatakan bahwa seseorang dengan aksen tertentu lebih pintar, lebih ramah, atau lebih cocok untuk pekerjaan tertentu.

Yang menjadi perhatian justru cara manusia menilai manusia lain.

Di dunia kerja, manajer dapat menggunakan kesan “cocok” atau cultural fit ketika merekrut, memberikan promosi, atau menentukan siapa yang dianggap punya kemampuan komunikasi bagus.

Masalahnya, rasa cocok tersebut bisa dipengaruhi oleh seberapa familiar gaya bicara dan cara seseorang membawa diri dengan lingkungan yang sudah ada.

HBS mencatat bahwa pekerja dari kelompok minoritas memperoleh pertumbuhan pekerjaan yang lebih banyak membutuhkan interaksi sosial terutama di wilayah ketika kelompok mereka sudah memiliki representasi tenaga kerja yang kuat.

Baca juga:

Era AI Justru Membuat Kemampuan Komunikasi Makin Penting

Ada satu bagian riset yang relevan dengan dunia kerja sekarang: perkembangan artificial intelligence (AI).

Ketika AI semakin mampu mengerjakan tugas analitis, rutin, dan repetitif, kemampuan manusia seperti komunikasi, negosiasi, persuasi, dan membangun hubungan justru berpotensi semakin bernilai.

Karena itu, perusahaan perlu berhati-hati agar teknologi tidak dibarengi dengan pola rekrutmen lama yang hanya mencari orang yang “terlihat cocok”.

Bagi HR dan manajer, pesannya cukup sederhana, yaitu jangan menjadikan cara bicara sebagai jalan pintas untuk menilai kemampuan seseorang.

Kemampuan, pengalaman, hasil kerja, dan keterampilan komunikasi dalam konteks pekerjaan tetap perlu dilihat secara lebih menyeluruh.

Pelajaran untuk Dunia Kerja

Riset ini memberikan satu pertanyaan penting bagi perusahaan: ketika mengatakan seseorang “punya komunikasi yang bagus” atau “cocok dengan budaya perusahaan”, sebenarnya apa yang sedang dinilai?

Apakah memang kemampuan menyampaikan ide, mendengarkan, bernegosiasi dan membangun hubungan? Atau hanya karena orang tersebut berbicara dan bersikap dengan cara yang sudah familiar bagi kita?

Bagi pekerja, penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa pola bicara di tempat kerja memang dapat memengaruhi persepsi,

tetapi bukan ukuran tunggal kemampuan profesional.

Pada akhirnya, tempat kerja yang mampu melihat kompetensi tanpa terlalu terjebak pada kesamaan gaya komunikasi berpotensi membuka ruang lebih luas bagi beragam talenta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *