Daily-life.id – Bayangkan sebuah ide yang biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menjadi prototipe, kini bisa diuji dalam hitungan hari, bahkan jam. Itulah salah satu perubahan besar yang dibawa artificial intelligence (AI) ke dunia bisnis.
Namun, ada pertanyaan yang justru semakin penting kalau semua perusahaan bisa bergerak lebih cepat dengan AI, apakah kecepatan masih menjadi keunggulan?
Pertanyaan ini menjadi sorotan dari Harvard. Dalam perbincangan dengan Chief Product Officer Cisco Jeetu Patel membahas bagaimana AI mengubah cara perusahaan berinovasi, sekaligus mengapa kecepatan saja tidak cukup untuk menciptakan keunggulan.
AI Membuat Eksperimen Jauh Lebih Cepat
Salah satu perubahan paling terasa adalah biaya dan waktu untuk membangun, menguji, serta memperbaiki sebuah ide menjadi semakin rendah.
Dengan bantuan AI, tim dapat membuat prototipe lebih cepat, melakukan eksperimen lebih banyak, bahkan mencoba pendekatan yang sebelumnya dianggap terlalu mahal atau terlalu lama.
Cisco memberikan contoh menarik. Patel mengatakan perusahaan mampu membangun sebuah platform manajemen terintegrasi dalam sekitar sembilan bulan, padahal sebelumnya proyek tersebut diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Namun, kecepatan tersebut justru menciptakan tantangan baru.
Ketika membuat sesuatu menjadi mudah, pertanyaannya berubah dari “Bisakah kita membuatnya?” menjadi “Apakah kita memang perlu membuatnya?”
Ketika Semua Orang Bisa Menggunakan AI
Inilah bagian yang menarik.
Jika perusahaan A dan perusahaan B sama-sama memiliki akses terhadap AI, maka sekadar memiliki teknologi tersebut tidak otomatis membuat salah satunya berbeda.
Menurut Patel, keunggulan kompetitif tetap ditentukan oleh bagaimana sebuah organisasi menggunakan sumber daya yang tersedia dan keputusan apa yang dibuat untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda dan bernilai.
Dengan kata lain, AI bisa menjadi mesin percepatan, tetapi manusia tetap menentukan arah.
Penilaian, intuisi, kreativitas dan kemampuan memahami kebutuhan pelanggan menjadi semakin penting ketika teknologi yang sama tersedia bagi semakin banyak orang.
Baca juga:
- AI di Dunia Kesehatan Makin Canggih, Tapi Teknologi Saja Tak Cukup untuk Menang
- Pekerjaan yang Jarang Dilirik tetapi Sulit Digantikan AI dalam 5 Tahun Mendatang
- AI Makin Pintar, Tapi Tantangan Berikutnya Justru Ada di Kepemimpinan
Produktivitas Naik, Bottleneck Baru Muncul
Ada paradoks lain yang menarik.
Ketika AI mempercepat satu bagian pekerjaan, hambatan baru bisa muncul di bagian lain.
Patel memberikan contoh: ketika proses coding semakin cepat karena AI, proses code review dapat menjadi titik yang memperlambat pekerjaan. Setelah masalah tersebut teratasi, tantangan berikutnya bisa bergeser menjadi keputusan mengenai produk apa yang sebaiknya dibangun dan mana yang justru tidak perlu dibuat.
Jadi, AI tidak otomatis menghilangkan bottleneck. AI bisa memindahkan bottleneck.
Karena itu, perusahaan perlu melihat inovasi sebagai rangkaian proses, bukan sekadar mengejar jumlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam sehari.
Manusia Justru Makin Penting
Di tengah kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan manusia, pembahasan HBR ini menawarkan sudut pandang lain.
Ketika AI mengambil alih semakin banyak pekerjaan teknis dan berulang, manusia dapat semakin diarahkan pada aktivitas yang membutuhkan pertimbangan, kreativitas, rasa ingin tahu dan pengambilan keputusan.
Tetapi ada syaratnya: manusia tidak boleh sekadar menerima hasil AI.
Patel menekankan pentingnya memahami, meninjau, dan menginternalisasi hasil yang diberikan AI. Tujuannya bukan membuat manusia berpikir lebih sedikit, tetapi menggunakan AI untuk memperluas dan meningkatkan kualitas berpikir.
Pada akhirnya, era AI mungkin bukan perlombaan siapa yang paling cepat menggunakan teknologi.
Yang lebih penting adalah siapa yang paling tepat menentukan arah, memilih apa yang layak dibangun, memahami kebutuhan manusia, dan mengubah teknologi menjadi hasil yang benar-benar bernilai.
